Membaca Peluang (3.8)

5 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Saya punya kisah sederhana. Tidak hebat, apalagi spektakular. Maklum wong cilik. Tapi, kalau jeli memindai dapat dikembangkan melebihi dari apa yang mungkin diprediksi. Membaca peluang mengambil keputusan. Begini ceritanya.

Melalui kehebatan internet, kampanye menulis dimulai melalui blog, www.webersis.com. Sebelumnya beberapa blog dalam tahap belajar. Tergolong getol kampanye menulis di blog. Mahasiswa target utama, sampai ada yang meringgis-ringis. Guru, apabila ada pelatihan, pasti sudah. Dan seterusnya. Intinya memotivasi menulis.

Maka, pada suatu waktu, silakan selusuri di FB saya, ‘menemukan’ apa yang dinamakan Facebook. Menaman akun dan mulai menulis. Walah … komunikasi begitu cepat terjalin. Dalam seminggu, ratusan orang menjalin sharing menulis. Saya tersenang. Kampanye, memotivasi menulis mendapatkan lahan baru. Sejak itu, memang lebih mengutamakan FB. Soalnya, apabila ‘melihat’ sesuatu, menuliskannya, memposting, dan … melupakan, atau lupa sudah he he he.

Hmm berakibat buruk rupanya pada www.webersis.com. Kurang terurus. Sebenarnya tetap posting seperti sediakala. Hanya, tidak punya kesempatan lagi mengunjungi blog teman-teman, begitu juga komen balik. Dan, ‘dimarahi’. Berkhianat, ada malah yang mencap, bloger penghianat. Lupa kacang pada kulit. Apa boleh buat. The life is choice.

Apa pun alasannya, bagaimanapun analisisnya, setiap ‘sarana’ mempunyai kekurangan dan kelebihan. Sebenarnya. www.webersis.com tetap dipelihara. Tapi, kalau FB lebih mempercepat dan meluaskan ‘mission sacre’, bukankah peluang? Peluang, kenapa disoal. Manfaatkan saja. Jadilah FB lahan baru memotivasi (membaca dan) menulis.

Belum setahun aktif di komunitas FB, ‘Jamaah Fesbukiyah’, lebih sepuluh naskah buku siap disiangi untuk diterbitkan. Tinggal menunggu mau. Bayangkan, kalau menulis satu tulisan sehari, dalam sebulan cukup untuk satu buku. Terkadang, dua-tiga, pernah tujuh tulisan. Lagi pula, kini mengerjakan makalah tiap minggu. Yang satu ini kiranya kurang pas untuk postingan FB. Langsung jadi buku saja.

Blog biarlah tetap menjadi blog dengan iramanya, toh masih tertanam sebagai ajang publikasi dan komunikasi. Fb biarlah menikmati kejayaannya sebelum tampil produk lebih canggih. Maksud saya, dalam kaitan menulis, peluang jangan disia-siakan. Manfaatkan. Kalau disoal berkhianat sampai kulit lupa pada kacang, bikin repot saja.

Kehidupan interkoneksi banyak hal. Sebagai pendayung kehidupan, kemampuan menfaatan peluang dengan mengambil keputusan dan melakukan, menjadi penanda awal peluan ketercapaian maksud.

Dus, kalau ada kesempatan menulis, manfaatkan. Kalau ada kesempatan memasihkan menulis, kenapa ditampik. Itu tingkat awal. Lebih yahud, merebut peluang.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 2 Responses to “Membaca Peluang (3.8)”

  2. By ALRIS on Dec 5, 2009 | Reply

    Jamaah fesbukyah makin banyak, ibarat musim. Kalau musimnya sudah lewat maka hilanglah gairah, saya pikir begitu. Baa manuruik sanak…

  3. By Ria on Dec 8, 2009 | Reply

    hehehehe…kalau saya lebih senang dengan blog pak entah kenapa…tapi itu pilihan kan?

    tetap semangat pak ersis ;)

Post a Comment