Membaca Meggelanakan Pikiran (3.7)

4 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Berapa banyak buku yang dibaca? Berapa banyak artikel atau tulisan yang dibaca? Berapa banyak yang tertulis dan tidak tertulis, tesurat dan tersirat, terpaksa, rela, atau tidak sengaja dibaca? Saya tidak mampu menjawab, tak hendak menjawab, pun tak berselera membahasnya. Membaca kewajiban agama, kebutuhan diri, dan sangat menyenangkan. Titik.

Begitu pula, apakah membaca membangun jiwa atau memacu motivasi. Biarlah hal sedemikian menjadi pekerjaan mereka yang ingin membahasnya. Saya sedang belajar, memproses apa yang dibaca, yang dipahami, terlepas dari penilaian berbobot atau tidak. Bahkan, menyadari mematok, membaca sebagai rekreasi pikiran. Lho, kok iso?

Begini Mas. Dulu, ketika masih SD, membaca karya Karl May, buku bapak, Winnetou atau kisah Tariq bin Ziad menaklukan Andalusia (Spanyol). Ketika berangkat remaja, melahap karya Kho Ping Hoo mulai dari Istana Pulau Es sampai turunannya. Duh … gimana ya. Kini, ‘dipaksa’ membaca Aristoteles sampai Maududi, dari STA sampai Huntington.

Ketika melihat selembar koran lusuh di lapangan Gasibu Bandung tergeletak begitu saja, ingin membaca. Memperhatikan pedagang kecil begitu dimanjakan Pemprov Jabar, duh … di pikiran ‘berkelana’ tulisan, Bandung Kota Rakyat. Saya akan menuliskannya sebagai penghargaan terhadap Pemprov Jabar, Pemkot, dan masyarakat Bandung.

Membaca dipahami, dan dirasakan, menyenangkan. Membaca bacaan fiksi, pikiran berkelana. Membaca buku sebagai buah pikiran, pikiran dipantik, begini-begitu. Membaca realitas sosial, pikiran melayang ke angan hal-hal lebih baik, kalaulah begini-begitu, duh … nyamannya. ‘Membaca’ langit malam, walaupun kemudian ditutup awan, duh bulu kuduk berdiri, Maha Besar Allah SWT. Membaca Al-Quran, walau kandungan isinya belum paham, meluluhkan diri mengakui dosa, air mata meleleh. Allahu Akbar.

Membaca adalah sarana diri berkelana kemana dimaui. Pikiran dikelanakan kemana suka. Ingin menikmati Reykjaviv, Iceland, Bermuda Island, lokasi pengambilan gambar film Lord of Ring, New Zealand, menikmati Piranha di Amazon, Petra di Jordan, Selat Bosporus Turki, atau lintasan Silk Road di ujung Timur China, duh … asyiknya. Bepergian?

Manalah mungkin orang miskin merealisasikannya. Cukuplah berkelana dengan pikiran, membaca. Lebih penting dari itu, dimanfaatklan untuk ‘membangun’ pengetahuan semaksimal mungkin. Nikmat.

Membaca, mengkuantumkan diri ke luar orbit jangkauan realitas. Itulah pikiran, pikiran yang tidak mengenal batas wilayah, pikiran yang mampu menembus apa yang tidak mampu dijangkau raga. Alangkah ironisnya kalau pikiran dilakban, dibelenggu. Langlangbuanakan pikiran. Dan … tulis. Asal, sadar posisi diri. Menulis menyadarkan bacaan, membaca mimicu menulis he he.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 3 Responses to “Membaca Meggelanakan Pikiran (3.7)”

  2. By yosephs on Dec 4, 2009 | Reply

    okey… pikiran bisa berkelana ke mana-mana, tulisan… harus bisa juga, tinggal tuliskan apa yang dipikirkan.
    begitu, pak ersis..?

  3. By ALRIS on Dec 5, 2009 | Reply

    Kalau ingin menikmati Muarolabuah, tingga masuk ka google earth, hehehe…

  4. By topx on Dec 24, 2009 | Reply

    mantap bisa berkelana kemana aj nih…

Post a Comment