Membaca Membuka Diri (3.6)

3 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Membaca bisa saja dimaksudkan untuk rekreasi pikiran, belajar sesuatu, atau untuk ‘menemukan’ sesuatu untuk ‘menghilangkan’ atau ‘menguatkan’ sesuatu, atau sebaliknya, di rumah pengetahuan. Membaca pada dasarnya proses internalisasi. Apa yang dibaca, bagaimana caranya, itu soal teknis. Diskusi kita dalam kaitan menulis.

Dalam membaca kita mengoperasikan otak (pikiran). Boleh memakai perasaan? Silakan kalau mampu. Menulis, menggoperasikan otak. Saya mau menggunaan ‘hati nurani’ biar tulisan berbobot, silakan. Kalau mampu dan terbukti, kenapa tidak? Yang penting hasilnya, buktinya.

Yang perlu diingat, menulis melakukan, membaca melakukan, memproses bacaan menjadi tulisan, melakukan. Kalau berwacana, setinggi Himalaya kek, sedalam Atlantik kek, semeriah wejangan Mario Teguh kek, kalau tidak ditulis, ya dipastikan tidak akan menjadi tulisan.

Pada posisi demikian, membaca dipahami sebagai asupan pengetahuan untuk diolah. Untuk itu wajib hukumnya membuka diri, membuka pikiran, memberi lorong atau koridor masuk yang nanti akan difilter oleh kita punya pikiran, mana yang pantas dimapankan, dibuang, atau dibiarkan sekadar mampir saja. Bagaimana kalau tidak siap?

Ya, membuat pikiran … dan ini langsung menusuk ke perasaan … bergejolak, rusuh, kacau-balau, atau lebih parah lagi. Pikiran ngak stabil, perasaan terganggu. Hmm … membaca merusak diri. Misalnya, karena yakin kiamat adalah hak paten Allah SWT yang menentukan, membaca tentang 2012. Tidak sependapat. Marah, benci, atau gimana gitu. Nah, ribet tu pikiran. Salah sendiri. Coba jadikan hiburan belaka. Ringkas.

Ada seseorang yang sharing menulis dengan saya. OK, saya kirimi buku agar dibacanya. Beberapa waktu kemudian, dia diskusi, piawai isi buku tersebut dibahasnya. Inilah, itulah. Tidak cocok dengan apa yang diajarkan gurunya, mentor menulisnya, atau buku-buku terdahulu tetang menulis. Dasar. Ini orang mau mendapatkan jalan menuju menulis mudah atau mendiskusikan teori menulis?

Seseorang yang lain, mempraktikkan apa yang saya tulis. Hmm … Pak saya sudah praktikkan, ternyata … menulis itu memang mudah. Selanjutnya bagaimana Pak? Tentu saja saya jawab: “Terus menulis, menulis, dan menulis lagi”. Tidak lupa dianjurkan membaca buku anu, anu, dan anu. Apa sebab?

Seseorang itu, membuka dirinya. Kalau sudah demikian, dia bisa mengambil manfaat dari tulisan siapa pun, Bahkan, sekalipun anjing yang berbuat baik, pikiranya akan menerima. Saya ingin menandaskan, membuka diri, membuka pikiran, memberikan jalan bagi hal-hal baru adalah kunci membaca apabila membaca dimaksudkan untuk diambil manfaatnya.

Tapi, kalau kadar kesediaan menerima apa yang dari luar diri tidak memadai, sedikit, maka orang tersebut susah belajar. Apalagi, dari bacaan. Bisa jadi, kalau ada sesuatu yang baru ditulis orang, disulang. Marah. Benci. Kalau perlu menulis dengan menjelekkan. Sebab, tidak cocok dengan apa yang dipahaminya. Bakalan susah sendiri deh.

Yaps, membaca mengambil, memasukkan, atau meraih sesuatu untuk ‘didiskusikan’ di rumah pikiran. Setekah ‘diproses; silakan simpan atau buang. Itu urusan diri. Orang-orang bodoh menjadikan bacaan merusak pikiran dan perasaan, kalau perlu orang lain disakiti. Kalau begitu, susah deh sampai ke menulis. Membaca mudah, menulis mudah, membuka pikiran.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 4 Responses to “Membaca Membuka Diri (3.6)”

  2. By ismawardah on Dec 3, 2009 | Reply

    ASS
    Membaca, menamabah pengetahuan dan menambah wawasan kita.

  3. By HE.Benyamine on Dec 3, 2009 | Reply

    membuka diri, membuka pikiran … melapangkan jalan bagi hal-hal baru dalam membaca, ya … ada saja orang membaca sedikit sekali yang dapat diambil manfaatnya karena diri tertutup begitu juga pikirannya

  4. By Siti Fatimah Ahmad on Dec 3, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Mudahan dengan banyak membaca kita akan semakin luas ilmu dan pengetahuannya dan semakin bertambah pengalamannya. membaca bukan setakat kita membaca buku tetapi juga membaca alam yang ada di sekeliling kita kerana kitab alam adalah kitab terbesar dari Allah swt untuk kita renung, fikir, kaji dan selidik.

    Sangat besar dan hebat.. tentu tak terjangkau luasnya bacaan itu walau kita sudah disimbahi tanah atasnya dan disirami bunga untuk mengharuminya. Salam mesra untuk Tuan Ersis dari Bangi. Doakan kejayaan saya yang hanya tinggal beberapa detik lagi. :D

  5. By Sari Ungulia on Dec 3, 2009 | Reply

    Serasa berekreasi ke pulau kata kata nan elok kalo membaca tulisan Bapak..megah,penuh kejutan,dan cikitiw..ga bosen gt loh walo mendayung di samudra kata katanya yg penuh improvisasi..
    Mau nebeng nyapa pak he benyamine akh,hai assalamualaikum pak?puisinya manna?mkciiiw …

Post a Comment