Membaca Diri (3.4)
1 December 2009 | Ditulis oleh: ewa |Membaca jenis ketiga, setelah membaca yang tersurat, membaca alam, adalah membaca diri. Dua yang pertama bersifiat ke luar, dan yang satu ini ke dalam dalam artian kita sendiri yang ‘membaca’ diri. Ah, aneh-aneh saja. Ya bagaimana lagi, begitu saja jari-jari tangan mengetiknya. Ini kan pemahaman dari membaca he he he.
Ketika muda, Sampeyan bisa saja berhujan-hujan berjam-jam, dan tidak sakit. Begadang berhari-hari, nikmat saja. Tapi, kalau umur sudah 50 tahun berhati-hatilah. Berhujan-hujan bisa diserang flu atau sakit lebih serius. Begitulah. Seharusnya sedari kecil kita sudah membaca diri.
Dulu, kalau makan ikan laut, apalagi udang, badan gatal-gatal. Tapi, karena keingianan makan ‘sehat’ dipaksakan, hmmm Alhamdulillah alergi tidak ramah lagi bertamu. Sedari dulu saya tidak suka mencatat. Termasuk ketika menjadi wartawan. Kenapa? Ngak tahu juga, merasa ribet saja. Tapi, serius mendengar guru menerangkan atau dosen berceloteh. Dari pada mencatat lebih baik membaca buku he he he.
Membaca diri, membaca hal-hal berkaitan dengan tubuh, dengan pikiran, kesenangan, kebencian, dan sebagainya. Kalau kita sendiri tidak tahu diri, ya bagaimana orang lain.
Ibarat kata: Ketahui diri hingga mampu mengukur diri, mengukur bayang-bayang. Dalam relasi sosial, itu pun belum tentu cocok dengan ukuran orang lain, norma dan hal sepadannya. Minimal kita tahu diri kita.
Misalkan kita belajar atau belum membaca tentang kecepatan cahaya, apalagi phantom. Bermaksud menulis ala super kilat, semacam flash. Jangan-jangan nantinya angan-angan bak TELKOMFlash, mau bak halilintar, yang didapat konsumen koneksi letoy, lemoy, kedap-kedip. Malu-maluin. Tidak pandai membaca kemampuan, membaca diri.
Baru membaca sejarah suku Maya, itu pun dari bacaan seupil di internet. Mana pemahaman Al-Qur’an baru tingkat TK, tidak terlalu paham astronomi, apalagi teori mengembang atau menyempit planet dengan rotasinya, … eit membahas film 2012 dengan lintas ilmu (astronomi dan fisika), dalil-dalil Al-qur’an atau analisis historis. Mudah amat. Begitu tulisan jadi, ngak dibaca orang deh atau bagi yang mengerti dibaca dengan senyum simpul.
Membaca diri mendeteksi potensi dan kemampuan. Menurut saya ini hal penting. Apalagi, pada tingkat berikutnya, introspeksi. Ini hal sulit. Saya yang sudah tergolong tua begini, terkadang hanya mampu menyesali, kok diri sendiri saja belum diketahui utuh. Yah sudah, kini berusaha membaca diri.
Membaca diri modal menulis. Gabungan dengan hasil bacaan luar diri dalam sintesisnya ditanamkan di ranah otak. Melalui proses, yang sebenarnya rumit, tapi karena kecepatan otak, terkesan cepat, itulah pikiran yang siap untuk ditulis, dijadikan tulisan.
Memulai sesuatu dari diri, dari bacaan diri yang direlasikan dengan luar diri, hal bagus untuk menulis. Tulisan adalah cermin diri.
Bagaimana Menurut Sampeyan?













One Response to “Membaca Diri (3.4)”
By ALRIS on Dec 1, 2009 | Reply
Mantap, da. Saya juga belum bisa membaca diri, masih harus banyak belajar dan membaca yang tersurat.