Membaca Bermakna (3.3)

30 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Saya sering memotivasi pesharing menulis begini. Sampeyan punya akun Blog? Facebook, dan bla-bla? Yap, tentu begitu jawaban rata-rata mereka. Menulisnya rutin? Ada yang menjawab ya, ada yang tidak. Kalau pertanyaan dilanjutkan, sudah berapa buku yang dihasilkan dari blog atau FB? Hampir semua menjawab, tidak satu pun.

Ngeblog atau NgeFB perlu dana, waktu, energi, pengorbanan dan seterusnya. Ada yang memanfaatkan untuk urusan remeh-temeh, sekadar say hallo. Ada yang untuk dakwah. Ada yang untuk memaki-maki atau pamer. Macam-macamlah. Wong punya sendiri, ya suka-sukalah.

Kalau saya memaknai sebagai sarana tadahan tulisan. Setiap tulisan, juga puisi, bahkan komen bagus pun dikumpulkan. Apalagi, kata-kata bagus. For what? Untuk dijadikan buku. Wajar belum setahun aktif di FB memposting ratusan note. For what? Sekali lagi, untuk dijadikan bukulah. Begitu dimaknai. Begitu dilakukan. Begitu dimanfaatkan.

Saya pernah membaca pehobi berat NgFB sampai bertengkar dengan dia punya istri. Why? Hmmm … bercanda berlebihan dengan cewek lain. Kira-kira menjurus-jurus tu.

Boleh? Silakan saja. Mau jadi komentator sejati, please. Memblejeti tulisan orang doang, monggo. Atau, ajang pamer kehebatan, serah saja. Saya memaknai sebagai ajang untuk karya tulis. Produksi tulisan dan buku menjadi subur. Itulah pemaknaan.

Begitu juga membaca. Akhir-akhir ini mempelajari filsafat untuk keperluan perkuliahan. Wui … terkagum dengan Yahudi. Pemikiran mereka ‘menjelajah’ dunia. Padahal, ketika Ibnu Sina sampai Ibnu Rusyd berjaya, Yahudi belum ‘bunyi’. Kini, pikiran semisal Samuel Huntington seolah menjadi bak fatwa Nabi. Luar biasa. Kenapa? Mereka rajin membaca, memanfaatkan otak yang sama-sama Allah SWT berikan. Barangkali, piawai membaca bermakna.

Belum lagi soal penguasaan ekonomi sampai media. Hebat. Tapi, saya juga ‘marah’ dengan perilaku sebagian mereka. Misal soal Palestina. Lalu bagaimana memaknainya?

Begini. Dari bacaan dipindai soal seperti, kenapa ya Yahudi itu kompak? Padahal dalam ajaran Islam shalat hanya satu iman. Persatuan itu penting. Saya gerah menjelang penentuan Idul Fitri, misalnya soal ‘melihat bulan’ saja bersoal, sementara orang sampai ke Bulan he he.

Membaca teks adalah membaca awal. Anak SD juga bisa. Membaca bermakna membaca dengan memanfaatkan kecanggihan otak, berbuah pemahaman.

Pemahaman atas sesuatu sebagai hasil kerja pemikiran akan mempergiat pikiran, dan atau, mampu melahirkan pikiran-pikiran, ide-ide, atau gagasan-gagasan baru yang bergejolak di otak. Nah, itu ditulis.

Maaf, pembaca teks doang, bisa jadi ibarat mata ikan mati melotot, tapi tidak mampu ‘melihat’ makna. Kalau demkian, susah deh dilanjutkan kepada menulis. Belive it or not.

Bagimana Menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 20 November 2009

  1. 2 Responses to “Membaca Bermakna (3.3)”

  2. By ivan kavalera on Nov 30, 2009 | Reply

    mantap seperti biasa. hanya itu menurutku. gak bisa koment lagi.

  3. By trisno on Nov 30, 2009 | Reply

    Saya suka yang ini. menulis bukan saja menata kalimat menjadi sebuah rangkaian kata yang indah. tapi, ia sarat akan kandungan makna yang harus menjadi daging. bukan saja enak untuk dirasai tapi nikmat untuk dikunyah dan manfaatnya yang jauh lebih penting lagi. ini yang mungkin dalam bahasa beberapa orang sebagai “pembelajaran”.

    hal lain yang tidak kalah menariknya saya harus lebih tergerak untuk terus membaca guna memberi rasa pada sajian tulisan yang kita buat nantinya.

    terimakasih atas dorongan untuk selalu belajar.
    salam hangat dari ujung Utara Jakarta (Tg. Priok)

Post a Comment