Membaca Teks (3.2)

28 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Secara sederhana dan dangkal, dari telisikan selama ini, mahasiswa yang malas membaca susah menulis. Mahasiswa yang piawai berceloteh, pandai mendongeng, susah menulis. Yang hobi beralasan dipastikan menjadi penghambat pembangunan nasional he he.

Sebagai awal dibedakan terlebih dahulu membaca dalam artian membaca teks. Membaca teks dalam pengertian bahasan ini membaca apa yang tertulis; sesuai sebagaimana yang tertulis. Pada hal yang tertulis, bisa jadi memuat hal tersirat, tersirat dalam yang tersurat.

‘Ersis menulis artikel’ berarti Ersis menulis artikel. Tidak usah dibahas. Kalau tertulis: Burung Ersis berayun-ayun … Sampeyan harus ‘memaknai’. Itu contoh ‘bagarah-garah’. Kalau yang serius, ketika membaca teks Al-Quran kalau hendak memahami maknanya wajib mengartikan. Misal … ‘Kitab ini tiada keragu-raguan padanya’. Bisa bertahun-tahun memaknai. Bisa jadi, setiap orang punya pemahaman sendiri.

Ada perbedaan nyata antara membaca teks Al-Quran dengan memaknai bacaan teks tersebut. Ada orang yang setiap malam melantunkan Al-Quran, dan berpikir ‘kewajiban’ agama sudah OK punya. Tetapi, tentu berbeda dengan mereka yang ‘memaknai teks’. Yang terakhir akan bertemu betapa Allah SWT asal muasal ilmu.

Misalnya, tentang lebah. Bagi yang berilmu, akan diketahui penciptaan lebah yang pandai dengan sendirinya, misal ketika membuat sarang, penuh dengan perhitungan sangat rumit. Hanya ilmuwan yang mampu menembusnya. Kalau dicaba teks saja, ya teks itu yang dinyanyikan.

Allah SWT mengajarkan manusia melalui binatang. Misal, ketika Habil dan Qabil ‘bertempur’ dan seorang diantaranya mati. Bingung. Allah SWT menurunkan burung sebagai contoh. Terserah mau memindai atau tidak.

Kedua membaca melalui indera. Misal, melihat bintang di kala malam. Dari ayat-ayat kauniyah tersebut, kalau serius, Sampeyan bisa tergerak mempelajari astronomi. Kenapa para pemikir Islam zaman keemasan Islam banyak yang astronom? Bisa jadi mereka pembaca Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT yang baik. Bukan pembaca teks doang.

Gregetan pada Yahudi? Ingat, ciptaan Allah SWT. MakhlukNya. Pasti tidak berkesia-siaan Allah SWT mencipta. Kalau cerdas membaca, jadilah petunjuk. Pelajari, belajarlah dari kehebatan Yahudi, jangan meniru jeleknya. Misal, sebagai bangsa bagaimana kompaknya mereka, tidak berkelahi. Jangan-jangan mereka lebih paham membaca makna Al-Quran.

Membaca memasukkan informasi sebagai raw materials bagi menulis. Informasi itulah yang diolah. Kalau tidak membaca, emang menulis bak kentut? Angin doang.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 4 Responses to “Membaca Teks (3.2)”

  2. By sunarno on Nov 28, 2009 | Reply

    menulis tanpa membaca hanyalah hampa

  3. By racheedus on Nov 28, 2009 | Reply

    Penulis yang baik pasti pembaca yang baik. Tapi pembaca yang baik belum tentu penulis yang baik.

  4. By Siti Fatimah Ahmad on Nov 29, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Yap… untuk pandai menulis, harus pandai membaca dahulu. namun untuk membaca harus pula dimulai dengan merangkai huruf agar bersambung untuk memberi makna. Oleh itu, sesudah pandai membaca, maka buatlah aktiviti membaca sebanyak mana bahan yang boleh membantu otak untuk mencari idea penulisan. Oleh yang demikian, menulis menjadi mudah.

    Bacaan teks hanya sebagai alat bantu sahaja.. kandungan yang dibaca akan mengembangkan lagi idea yang kemudian digabungkan dengan pengalaman sendiri. hal ini menjadikan penulisan semakin mantap dan mudah dilakukan.
    Semangat membaca inilah yang mendorong kita untuk menulis.

    Salam mesra buat Tuan Ersis. Mudahan sihat selalu dan dumudahkan Allah swt untuk menulis dan menulis. Salam manis dari Bangi.

    ***Buku kiriman Tuan Ersis sudah saya terima. Alhamdulillah dan terima kasih atas tanda ingatan dan penghargaan tersebut.

  5. By budies on Nov 29, 2009 | Reply

    membaca ternyata tidak harus berupa teks ya pak? ternyata indera lain juga bisa digunakan untuk “membaca”… barangkali itulah makna “IQRO”

Post a Comment