Menulis Refleks, Reflektif Menulis (2.9)
26 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Pagi di Banjarbaru cerah. Tiga bulan kuliah di Bandung terbiasa bangun subuh, walau jam tidur semakin berkurang. Kemarin (17 November 2009) hujan mengguyur deras. Selesai kegiatan pagi, mengantar Azta (anak terkecil) ke SD favorite di kota kami dan Visi ke Pustaka Kota Banjarbaru mengikuti kegiatan. Kok ditulis?
Bagi orang lain tidak penting. Bagi saya teramat penting. Antra yang kini Ketua OSIS SMA I Banjarbaru sejak TK, SD, SMP dan SMA tidak pernah saya antar. Apalagi, mengantar istri belanja ke pasar. Nah, pagi kemarin dan pagi tadi mengantar mereka ke sekolah pakai mobil. Wualah, ternyata teman-temanya banyak yang diantar.
Saya tidak mau mengantar karena berkeyakinan, anak-anak dari kecil harus belajar melakukan tanggung jawab kehidupannya. Itu soalnya. Saya tidak suka anak-anak memakai barang-barang saya, apa pun jenisnya. Dia harus memakai handuk, gelas, atau TV sendiri. Berpisah tiga bulan, membalas rindu lain lagi ceritanya. Ada perubahan cara pandang.
Begitulah. Pukul 08.00, saat asyik menulis Qomar dan Udin, kru Bandjarbaroe Post datang. Agenda, ke PDAM Bandarmasih dan FKIP Unlam. Wualah … mobil mogok. Rupanya, aki ngak ngisi. Tiga bulan ngak dipakai. Membeli aki baru, ke PDAM dan ke FKIP. Sekembali langsung ke Bati-Bati. Saya ingin mengecek empu jari kaki yang ke sandung batu.
Sepanjang perjalanan sharing. Kehidupan memerlukan hijrah. Mulai dari memandang pendidikan anak dan keluarga, dan hal menulis. Qomar dan Udin diberi bocoran tentang menulis reflektif. Maksudnya?
Ketika menulis sudah terbiasa, kita tidak memerlukan pengerahan pikiran. Kata, kalimat, atau apalah namanya menjadi begitu saja. Bisa heran bila dipikir; dari mana datangnya, kok menjadi begitu saja. Begitu ada ide, otomatis otak bekerja dan terjadilah proses menulis di otak, siap ‘disalin’ menjadi apa yang dinamakan menulis (konvensional).
Oh ya, sambut Qomar. Udin yang baru enam bulan bergabung, manggut-manggut. Bila membaca menjadi habit, cermat memindai tangkapan indera, dan otak dioperasikan, ide datang begitu saja. Terjadi saling keterhubungan dan pergumulan di ranah otak. Kalau jeli, menjadi formula tulisan, menjadi seketika. Salin. Jadilah, tulisan.
Menulis reflektif, menjadi kompetensi apabila menulis dilakukan terus-menerus. Kita tidak perlu berpikir dimana posisi rumah atau kantor, sebab sudah menyatu dengan pikiran.
Yaps, setelah buku kesepuluh tentang menulis akan bergeser dari ranah motivasi. Saya berkeinginan, memapar hal aplikatif dalam tulis-menulis menuju menulis reflektif.
Jadi, jangan heran, pada bab berikut, buku ini bergeser genre. Memasuki wilayah bagaimana menulis? Sajian buku dirancang merangsang biar ejakulasi menulis enyah. Insyah Allah.
Bagaimana menurut Sampeyan.













2 Responses to “Menulis Refleks, Reflektif Menulis (2.9)”
By Zian X-Fly on Nov 26, 2009 | Reply
Ditunggu buku berikutnya…
By Siti Fatimah Ahmad on Nov 26, 2009 | Reply
SELAMAT HARI RAYA EIDUL ADHA TUAN ERSIS
Saya tak balik Sarawak raya ini. Hanya beraya di UKM, Bangi sahaja.
Salam hormat dan takzim dari saya buat Tuan Ersis, Ibu Risna dan anak-anak di Bandung.