Menulis Melatih Diri (2.8)

25 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Yang paling saya sukai dalam komparasi menulis mudah adalah bandingan dengan menyetir mobil. Ketika pertama belajar, guru menyetir memberi pengarahan. Buka pintu mobil, masuk, duduk yang mantap, pandangan lurus ke depan,pegang stir kuat-kuat, injak kopling, stater, injak pedal gas, kurangi tekannya pelan-pelan … dan wuuuuuuung. Mesin mati.

Nah, lho. Nyali ciut, peluh dingin mengucur. Kalau tekad tidakerikutnya urusan masuk got atau bagian depan mobil ‘mencium’ tembok adalah hal biasa. Kalau perempuan, belajar sama suami bisa bikin marah suami, dan urusan bisa panjang. Belajar melalui kursus menyetir, bisa-bisa yang didapat SIM, bukan keterampilan.

Banyak orang memerlukan waktu dan energi yang tidak sedikit untuk belajar menyetir. Sementara anak-anak yang mangkal di terminal atau penambangan pasir, bermodal keberanian memindahkan mobil saat sopir istirahat. Kelak menjadi sopir handal. Tanpa belajar formal, tanpa kurus.

Sebaliknya, setelah fasih menyetir, kalau mau menyetir, tidak ada lagi urusan urutan seperti diajarkan guru. Berlari-lari kecil, buka pintu duduk, kaki dan tangan beraksi, mobil mengaung wuss wuss … melaju sempurna.

Musik mengalun nyaman, HP menempel telinga, terkadang nekad membaca dan menjawab SMS. Menjadi hal reflektif.

Dengan kata lain, menulis lancar,menulis mudah, menulis reflektif atau apa pun namanya, tidak didapat dari berguru, atau rajin mengikuti aneka pelatihan atau konsultasi dengan penulis handal atau mengeluarkan uang berjuta-juta untuk belajar. Tidak. No. Sekali-kali tidak. Lalu, dari mana ?

Kesemua ‘pembelajaran’ dari luar diri hanyalah bersifat motivasi. Sekali lagi, motivasi. Kalau urat sadar, kemauan menulis tersentuh, Sampeyan akan terpacu untuk menulis. Ingat, Sampeyan, yang punya diri.

Wahai pembaca yang berbagia. Coba ikuti pelatihan menulis. Dari tempat pelatihan, dalam perjalanan pulang, semangat ke ubun-ubun. Saking bersemangat, tidak mandi, tidak istirahat, tidak makan. Begitu sampai di rumah langsung menghidupkan komputer, menerapkan ‘ilmu menulis’. Hasilnya?

Ha ha ha … paling-paling satu atau dua alinea, mandek. Lain kali mengikuti pelatihan lagi, mandek lagi. Ejakulasi menulis namanya. Kenapa ya? Karena Sampeyan tidak lebih cerdas dari kedelai, barangkali maksud saya keledai he he. Keledai tidak masuk lubang dua kali. Lalu?

Perkuat menulisnya. Lakukan menulis. Menulis, menulis, dan terus menulis. Dari menulis itu belajar, berlatih. Insya Allah, Sampeyan menjadi sopir, … eit penulis bagus.

Menulis, tidak cukup hanya dengan belajar teori, mengikuti pelatihan, atau hal sejenisnya. Menulis melakukan, praktikal. Mau menjadi ahli teori menulis tanpa tulisan, atau menjadi penulis?

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “Menulis Melatih Diri (2.8)”

  2. By Badiyo on Nov 26, 2009 | Reply

    Betul sekali Pak Ersis.

Post a Comment