Menulis Melawan Bodoh (2.7)
22 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Susah menuliskan pengalaman? Lucu sebenarnya, menulis, apa yang ada di pikiran (pemikiran) atau apa yang dialami, kesusahan. Pengalaman itu kan punya kita, ada di pikiran kita, di memori kita. Kalau menuliskan pikiran atau pengalaman orang lain, masuk akal. Tetapi, kenapa ya?
Kuncinya sederhana saja. Mereka yang gagal, kalau berkemauan menuliskan pikiran atau pengalaman, tersebab diri sendiri. Lho? Lah iyalah. Yang mempunyai pikiran itu siapa? Yang mempunyai pengalaman itu siapa? Yang berkehendak menulis itu siapa? Kita. Sampeyan kan?
Tidak mampu. Beralasan ini-itu. Psikolog punya ‘nasehat’, jangan melempar bola, locus external. Diri yang tidak berkemampuan, hal di luar diri yang dijadikan korban. Dengan kata lain, akui kekurangan diri. Itu kunci pokoknya. Kalau sudah ’menyerah’, tahu diri, mari perbaiki.
Mengakui kekurangan itu yang susah. Pengetahuan banyak, pengalaman apa lagi. Mana pula sekolah formal sudah dijalani. Bukan saja menimba ilmu, tetapi juga mendalami bagaimana berpikir, bagaimana mengeluarkan pikiran. Ribuan kosakata dipunyai, berjibun konsep dihimpun, teori-teori dimamah, pintar pula mendisukusikannya. Yang kurang adalah menuliskannya.
Lalu dicari aneka alasan, dari sibuk sampai, kalau ditulis tidak mendatangkan keuntungan finansial. Yo opo rek.
Tidak sekali-dua kita mongoreksi, apalagi kalau berprofesi guru atau dosen, pekerjaan peserta didik. Duilah … kalau perlu tekanan pulpen menorehkan garis merah lebih tajam lebih meyakinkan, memuaskan diri. Tapi, kalau menuliskan pikiran sendiri beralasan seribu bahasa. Wuih … menyembunyikan kebodohan.
Saya merasa beruntung. Allah SWT ‘mencubit’ titik sadar. Mengakui kebodohan diri. Lalu, berusahan membaca sebanyak mungkin, mengamati hal-hal disekitar dan yang dialami. Pernah menangis menatap bintang-bintang nun jauh disana. Entah dari mana, seolah ada bisikan, itu Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT. Belajarlah dari alam, dari ciptaan Sang Maha Pencipta. Astagfirullah.
Ampuni kebodohan hamba ya Allah. Tunjukkan hamba ke jalan memahami kebesarnMu, melalui tanda-TandaMu. Yaps, mengakui kebodohan, melebarkan pandangan pikiran dan qalbu, bahwa ada yang super besar, ‘guru’ sesungguhnya; berguru kepada Tanda-Tanda Allah SWT. Mana tahu nanti berguru langsung kepada Allah SWT. Amin.
Menulis memerlupakn asupan. Asupan informasi dan pengetahuan didapat dari belajar, belajar dari mana, apa, dan dalam kondisi apa pun. Rangkaian tersebut memantik pemikiran, berbuah ide yang memjadi amunisi menulis.
Menulis memulai dari sadar diri, mengakui kebodohan. Menulis belajar, melawan kebodohan diri. Menulis nyaman menulis mudah.













8 Responses to “Menulis Melawan Bodoh (2.7)”
By ierone @ myblog4famouser.com on Nov 22, 2009 | Reply
yup, semakin kita sadar kebodohan diri semakin banyak bahan untuk belajar dan menulis
By Arief Rachman Heriansyah on Nov 22, 2009 | Reply
Kbodohan waktu menulis versi Ulun yaitu waktu ketika menulis terhenti di tengah jalan,setelah itu kita gagal melanjutkannya sampai ending karena takut gagal…
By Siti Fatimah Ahmad on Nov 22, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum
Alhamdulillah, masih bersama Tuan Ersis walau sering memberi alasan tidak punya masa, namun di hati saya selalu ada Tuan Ersis yang sentiasa memberi semangat menulis dan melawan kebodohan diri dalam mencari kebaikan dan manfaat buat diri juga orang lain.
Ahh… saya selalu merasa nyaman setiap kali menyantap hidangan tulisan Tuan Ersis. Kadang kala saya senyum sendirian, malahan ketawa lagi kalau tulisannya benar-benar mengena diri sendiri. Ya.. saya punya nilaian sendiri dan amat istimewa terhadap tiap butir bicara dari daya fikir tuan… saya senang dengan gaya tulisan tuan.. punya gaya sendiri… emangnya seperti nama laman saya aja…”MENULIS GAYA SENDIRI”.. heh.
Tulisan tuan banyak membuang kebodohan-kebodohan yang ada dikerak otak saya selama ini. Selalu mengganggap menulis itu susah.. pada hal tersangatlah senangnya seperti memasukkan bertih jagung ke dalam mulut, lalu dikunyah-kunyah dan ditelan. Kata sindiran, telunjuk sinis dan pelbagai ragam bahasa digunakan dalam tulisan… kalau dihayati dan difahami maksud tersirat dalam kotak fikiran Tuan Ersis walau telunjukknya begitu menggoncang jiwa dan menghiris hati bagai sembilu… tujuannya adalah untuk kesenangan dan memberi semangat.
Ahh… saya biasa kok dengan bahasa-bahasa “kasar” dan “ganas” seperti itu (harus baca semua tulisan Tuan Ersis yang lain untuk memahami makna “dua perkataan” di atas .. kerana sudah biasa di marahin sedari kecil oleh ibu bapa, guru-guru, kawan-kawan tika berkelahi atau ketika berbahas.. bagi saya bahasa tulisan sedemikian bukannya membunuh semangat seperti yang dikatakan sesetengah orang, malah memantapkan lagi diri agar keluar dari kepompong kebodohan tersebut.
Mudahan “virus EWA” yang Tuan Ersis sebarkan selama ini, akan melekat kepada saya. Bukankah saya pernah katakan dulu bahawa satu hari nanti darah tulisan yang mengalir dalam setiap aliran tulisan Tuan Ersis akan menyapu ke tulisan saya. Saya yakin bahawa saya punya semangat seampuh Tuan Ersis dan bangkitnya saya dalam dunia blog ini dengan menerokanya lalu mempunya blog sendiri adalah terhasil dari jangkitan virus EWA tersebut yang memungkinkan semua impian dan cita-cita saya untuk terus membaca dan menulis sampai bila-bila.
Mudahan prinsip awal saya MENULIS TANPA BUKU akan menjadi realiti dengan MENULIS DENGAN BUKU. Jika ianya terhasil, tuan adalah manusia pertama akan menerimanya. Doakan saya. Alhamdulilah dan terima kasih atas ilmu yang dicurahkan sebagai perantara diri untuk berguru dengan diri sendiri walau gurunya sentiasa berada di sisi meniupkan semangat terus menulis dan menulis.
Salam rindu dan salam hormat dari saya di Malaysia buat guru yang selalu di hati. Mudahan Tuan Ersis dan keluarga dirahmati Allah swt. Salam hormat juga buat Ibu Risna Warnidah.. harap buku resipi yang saya kirimkan dulu sudah dicuba dan dirasai nikmatnya. Salam mesra dari Bangi, Malaysia.
By maryam on Nov 24, 2009 | Reply
oooh… bgitu toh pak
By sunarno on Nov 24, 2009 | Reply
setuju pak, sangat setuju atas apa yang bapak uraikan
By ALRIS on Nov 24, 2009 | Reply
Karena kurang asupan, barangkali, makanya saya tidak menghasilkan banyak tulisan. Kalo bodoh sih nggak, cuma kurang pintar aja
By KSI Bjm on Nov 25, 2009 | Reply
Benar sekali bapak. Apapun bentuk tulisanya, yang pasti ia merupakan proses berkesinambungannya otak kita. Salam Kenal
By Компас on Dec 10, 2009 | Reply
забрала в цитатник, спасибо!