Menulis Hal-Hal Sederhana (2.6)
21 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Suatu kali dalam perjalanan penelitian ke Kotabaru, sekitar 300 km dari Banjarbaru, terheran-heran dengan seorang enumerator. Mobil cateran terpaksa berhenti cukup lama menunggu dia buang air kecil. Ada pa? Penasaran saya tanya, apakah punya penyakit kantung kemih?
Bukannya dijawab, malah dia ngakak. “Ulun masih muda Pak ai”. Ok, tapi kenapa lama? Lalu saya tanya, pakai celana dalam apa ngak? Tentu saja dijawab, ya. Lalu saya modelkan penampakkan CD yang bak kelelawar. Pada bagian depan ada ‘jalur khusus’ agar ‘burung’ langsung menjulur ke luar dan … buang air lancar … nyus maknyus.
Ternyata, dia tidak paham fungsi ‘jalur khusus’ tersebut. Sudah puluhan tahun memakai CD tidak paham secara detail. Pada contoh lain, suka iseng ‘mengoda’ cewek-cewek hal remeh-temeh: Apa tu kepanjangan BH? Nah, banyak yang tidak mampu menjawab. Kepanjangan saja tidak mengerti, apalagi fungsinya. Padahal dipakai hari-hari. Kalau begitu tidak usah pakai BH. Mereka terbelalak.
Pakai kutang saja. Dimengerti seketika, dan ini lebih penting, nasionalistik. Banyak hal sederhana yang ‘dinikmati’ tiap hari, tetapi tidak dipahami. Kacien deh lo. Lalu?
Kita selayaknya memperhatikan segala hal, sampai ke hal paling sederhana dalam kehidupan. Kata lainnya, cermat. Melatih kecermatan dalam kehidupan, apalagi dalam kaitan menulis sangat penting. Sebab, dengan demikian ketajaman melihat sesuatu akan berbuah kemengertian, kepahaman. Memperhatikan hal-hal keseharian tidaklah susah dibanding memahami pemikiran Aristoteles, Thomas Aquinas, Rene Descartes, David Hume, atau Immanuel Kant.
Menulis mudah menulis apa yang dimengerti, apa yang dipahami, apa yang dialami, apa yang dipikirkan, atau mampu dipikirkan. Menulis dalam artian membahas kenapa Pluto ‘dipecat’ sebagai satelit Matahari (atau Bumi ya), Teori Gravitasi, Teknologi Kino, atau Flu Babi memerlukan pemahaman tingkat tinggi. Serahkan saja pada ahlinya.
Jangankan kita yang ‘anak kemarin sore’ banyak penyandang Dotor bergelar Profesor, tidak mampu menulis keahliannya. Hal-hal keilmuan yang ‘berat’. Dengan kata lain, dalam menulis berkacadiri itu penting.
Perhatikan serial tulisan saya. Menulis dari pemikiran dan pengalaman. Bahwa, informasi didapat dari membaca hasil pikiran orang lain, jelas dengan sendiri. Semua itu dijadikan tanggung jawab diri, tidak perlu menghamba-hamba atau minta pembenaran pada ahli. Wong menulis hal-hal sederhana yang dipikirkan dan dialami.
Tajamkan tolehan ketika pergi ke kampus atau ke kantor, kalau bertemu Pak Polantas yang dengan tanggung jawab mengatur lalu lintas, apakah pikiran dan rasa kita tidak terpantik? Pasti empati menyelimuti diri. Tulis hal-hal baik tentang polisi. Polisi sedemikian pastilah bukan ‘buaya’.
Begitu juga otak akan bekerja kalau bangsa ini dituduh pemalas. Lihatlah Pak Tani, atau ke pergi ke pelabuhan dimana buruh-buruh pelabuhan dari pagi membanting tulang demi uang seribuan. Pemalas? Yang pemalas itu mereka yang suka teriak-teriak, mereka yang berdasi, tau!. Sistem upah yang membuat orang rajin mendapatkan gaji sedikit, menjadikan kemiskinan struktural. Kemiskinan akibat sitem tidak adil.
Jadi, mari menulis. Menulis hal-hal sederhana, yang dipikirkan, yang dipahami, yang dialami. Menulis mudah.
Bandung, 17 November 2009













2 Responses to “Menulis Hal-Hal Sederhana (2.6)”
By ALRIS on Nov 21, 2009 | Reply
Ayo menulis dari yang sederhana, kawan. Liatlah sang penyihir kata-kata, Andrea Hirata, begitu menuliskan hal-hal sederhana dan kolot mampu membius pembaca novelnya. Sederhana itu maknyusss (bukan rumah makan padang)
By rental mobil di surabaya on Nov 21, 2009 | Reply
belajar menulis sesuai dengan kata hati walau alurnya gak teratur