Menuliskan Pengalaman (2.5)
20 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Dalam memotivasi menulis, saya suka mencontohkan mereka yang berkemauan kuat. Satu diantaranya Hanna Fransiska. Pertama sharing dia mengirim tulisan dengan tulisan tangan yang sangat nyeni. Saya terpaksa minta tolong Syamsuwal Qomar dan Rahayu Suciati, anggota KP EWAM’Co., untuk mengetiknya agar mudah dibaca.
Hanna, pengusaha showroom mobil sukses berkemauan menulis. Qomar dan Suciati mahasiswa bahasa Inggris yang sedang menulis skripsi. Mereka sama-sama termotivasi setelah membaca buku Menulis Sangat Mudah (2007). Bila kemauan kuat menulis, pasti bisa.
Ketiganya ‘dikerjaian’. Qomar dan Suci menulis apa yang dipikirkan, selain tugas perkuliahan. Setiap hari wajib menulis satu tulisan. Kalau tidak menulis, berarti sharing bubar.
Tentu saja, tanpa, ya tanpa menganggu, menulis skripsi. Buku tersebut dicetak penerbit GAMA MEDIA Jogya. Bangga alang kepalang ketika buku mereka dipajang di TB Gramedia. Mereka akan tercatat sebagai orang yang berstatus mahasiswa (S1) telah menulis buku.
Hanna menulis kisah hidupnya. Dari kecil, dari keluarga bersahaja di Singkawang, sampai menjadi pengusaha sukses. Air mata sering hampir ‘terjun’ membaca kisah anak Tionghoa gigih tersebut. Sekalipun sangat awam dalam pengungkapan, orisinalitas tulisannya memberi harap.
Buku tersebut urung diterbitkan karena pertimbangan keluarga. Kini, Hanna menjadi penulis produktif. Sajak-sajaknya menyentuh. Mengingat-ingat semasa mereka belum apa-apa, jadi geli. Kemauan mengalahkan keawaman menulis. Menulis, tidak cukup bermodal mau saja. Mau harus ditandem mampu. Untuk meraih mampu, hanya ada satu jalan. Diakukan. Hanna, Qomar, Suci, dan puluhan lainnya telah membuktikan.
Begitulah. Saya bukanlah orang yang paham tulis-menulis. Bukan mahasiswa Fakultas Sastra, apalagi ahli teori menulis. Tapi, ya itu tasi, berkemauan menulis; menulis apa saja. Kalau ada kehendak menulis, tulis, habis perkara.
Entah bagaimana awalnya, banyak yang bertanya ini-itu tentang menulis. Dijawab sesuai pemahaman. Lama-lama, bukan di dunia nyata saja, di dunia maya lebih marak. Tidak ingat siapa, dan berapa orang yang sharing menulis. Manapula ‘terjerat’ aneka seminar menulis dan pelatihan.
Pelajarannya, manakala berkemauan menulis, menulis menjadi hal tidak membeban. Menulis menjadi mudah. Kita tidak akan terjebak alasan ini-itu untuk menulis. Ada waktu, ada kesempatan, walau sedikit, menulis.Tidak perlu menunggu menjadi profesor dulu, tidak usah menunggu mood, atau hal-hala sepadan yang tidak ada hubungan langsung dengan menulis. Berkemauan menulis, ditulis, jadilah tulisan. Menulis mudah memang. Salam menulis.
Bandung, 16 November 2009













3 Responses to “Menuliskan Pengalaman (2.5)”
By sabdo waluyo on Nov 20, 2009 | Reply
Kemauan yang keras adalah kunci kesuksesan untuk menjadi penulis hebat. saya selalu mengunjungi blog ini karena menurut saya unik dan konsisten…salam sukses selalu.
By jokostt on Nov 20, 2009 | Reply
Passion yang tidak pernah berhenti menyala itu lah setidaknya motivasi yang paling kuat membuat orang terus menulis dan menulis.
Benar, saya setuju dengan anda tidak perlu jadi Profesor dulu kalau hanya untuk menulis dan mulai berkarya.
By Lilih on Nov 26, 2009 | Reply
setuju pak.