Menuliskan Pikiran (2.2)
17 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Sudah dapat dipastikan, setiap orang mempuyai pengetahuan, setiap orang mempunyai pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman disimpan atau tersimpan di memori (otak). Apa-apa yang ada di otak, mau didiamkan atau dikeluarkan, terserah masing-masing.
Pikiran kalau tidak dikeluarkan, tidak dikomunikasikan, bersemayam di otak. Kalau berkehendak mengeluarkan pikiran, dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, melalui alat bicara, atau mulut. Kedua, melalui gerakan tubuh (body language). Ketiga, menuliskannya.
Kita mendiskusikan pilahan ketiga. Menuangkan pikiran. Pikiran ada di otak. Pikiran berproses manakala syaraf-syaraf otak (neuron) diaktifkan. Ada masukan (input), diolah (process) keluarannya tulisan (output). Allah SWT ‘menitipkan’ kepada siapa pun semiliar neuron yang terdiri dari 100 miliar sel syaraf aktif dan 900 miliar sel pendukung dimana kalau diaktifkan setiap sel syaraf mampu berkoneksi 20.000.
Artinya, begitu seseorang dilahirkan berpotensi jenius, born to be a geinus. Ingat, semua orang. Tidak penting dia menjadi Muslim, Kristen, Yahudi atau Atheis. Tidak peduli lahir di Indonesia atau Jerman. Apakah bersekolah di Cambridge, Sarbone, Massachuset, atau Kairo. Mengembangkan potensi urusan manusia. Allah SWT telah memberi potensi.
Siapa pun bebas ‘memasukan’ apa saja (pengetahuan, jangan paku atau martel, nanti otaknya rusak) ke pikiran atau otaknya. Mulai dari hasil penglihatan, dengaran, cicipan, ciuman, atau apa saja yang bisa dipindai. Sesuka kita.
Coba berhenti sejenak membaca tulisan dalam buku ini. Ambil nafas dalam-dalam, pejamkan mata. Ingat Ibu. Seketika Ibu ada di pikiran. Mau dielaborasi pada fisiknya, atau sikap penyangnya terserah. Ibu ada di pikiran. Itu pengetahuan, apa yang kita ketahui. Tersimpan di memori.
Kita menyimpan (konsep) Ibu, dan laksaan konsep lainnya. Pengetahuan tersebut didapat melalui indera. Pengetahuan bisa pula didapat tanpa melalui indera, tanpa melalui pengalaman, seperti ilham atau hidayah. Bagaimana mendapatkan pengetahuan sementara diabaikan, sebab diskusi kita bagaimana menuangkan pengetahuan.
Pengetahuan tersebut, di ranah otak, pada pikiran, ‘diaduk-aduk’, dihubung-hubungkan, diseleksi mana yang relevan mana yang harus didisihkan. Pada hal sedemikian proses berpikir berlaku. Itulah berpikir. Setiap orang mempunyai cara masing-masing, proses berpikir seseorang unik. Tergantung pengetahuan, pengalaman, atau ilmu yang didapat melalui proses belajar. Hasil proses tersebut membuahkan ‘sesuatu’, katakanlah formula atau konsep tentang sesuatu. Itulah yang dituangkan. Namanya menulis.
Bandung, 16 November 2009













2 Responses to “Menuliskan Pikiran (2.2)”
By Siti Fatimah Ahmad on Nov 17, 2009 | Reply
ASSALAAMU’ALAIKUM..
KEPADA SAHABATKU TUAN ERSIS… SAMBUTLAH UCAPAN DARIKU. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI PERTEMUAN YANG BESAR. JARI SEPULUH KU SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA.
SALAM DUNIA, SALAM SEMUA, SALAM HARI RAYA EIDUL ADHA DAN SALAM PERPISAHAN “BERJARAK” DARI SAYA DI BANGI, MALAYSIA.
-SITI FATIMAH AHMAD-
By HE.Benyamine on Nov 17, 2009 | Reply
Jadi, tinggal dituangkan (dituliskan), setelah selesai dituangkan baru ketahuan rasanya manis, pahit, hambar, atau sesuai selera … jika tidak dituangkan tentu tidak tahu rasanya atau bentuknya. Menuliskan pikiran … dapat melihat proses dari apa yang dituliskan itu.