Dosen Koran (1.3)
15 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Bisa salah, bisa benar. Saya termasuk aktif menulis. Ironisnya, rutin menulis ternyata banyak sandungannya. Gara-gara menulis, mengritik kebersihan kampus, WC, perpustakaan, dan sejenisnya, pernah dipanggil panitia ad hock Senat Fakultas. Ada pula petinggi kampus yang ‘menggelari’, Dosen Koran. Aya aya wae.
Tentu, tidak diperdulikan. Apalagi, mereka yang memaki-maki, mencari-cari kelemahan, ada lho yang hobinya memantap pada mencerca. Kepada teman-teman sharing dipastikan: “Biarkan dia semakin handal sebagai pencerca, kita menulis, menulis, dan terus menulis. Suatu saat, buku kita menjadi puluhan, dia menjadi ‘Raja Pengomel Abadi’.
Dari diskusi-diskusi ringan sampai pada simpulan: Kemampuan mengemuka kalau ‘dipaksa’ atau ‘terpaksa’. Sedikit orang yang menulis karena keinginan menulis. Kemampuan mencuat manakala ‘dipaksa’ atau jelas ‘hasilnya’. Kalau tidak menulis skripsi memangnya diakui sebagai sarjana? Kalau tidak menulis laporan penelitian, siapa yang mau membayar?
Ketika sharing semakin intensif dengan ‘anak-anak muda’, penulis pemula, didapat hal lebih ‘sadis’. Rata-rata keluhan mereka karena tidak adanya motivasi positif serius dari guru atau dosen. Menulis tidak lebih tidak bukan demi menyelesaikan tugas. Intinya tertinggal, eksploitasi potensi. Sudah begitu, ada pula yang terkena dampak kesombongan tidak berdasar. Maksudnya?
Ketika tugas (tulisan) menjadi, ‘dicerca’ dengan palu penulis hebat: “Tulisanmu amburadul. Jauh dari kualitas tulisan Koentjaraningrat atau Emha Ainun Najib”. Duilah. Bagaimana mungkin karya pemula dibandingkan, apalagi dihantam dengan karya para penulis hebat. Gurukah atau ‘pembunuh minat’? Kalau iseng ditimpali: “Kalau diperlakukan demikian lagi, minta contoh karyanya”. Tidak mampu menulis menghantam anak didik dengan palu karya orang lain.
Bagi saya menimbulkan kesadaran, memotivasi menulis dengan contoh tulisan. Menulis ratusan tulisan di media cetak. Apalagi, di blog, www.webersis.com. (Menulis Tanpa Berguru) dan Facebook. Belasan buku ditulis. Buku yang Sampeyan baca ini adalah buku kesepuluh saya perihal menulis.
Lebih penting, sharing dengan berbagai kalangan, mendatangkan pemahaman, banyak orang berkeinginan menulis, tetapi dihambat aneka kendala. Diskusi-diskusi di dunia maya, dengan teman dari Tasmania sampai Tokyo, dari Belanda sampai Chili, mendatangkan kepastian, para penulis pemula perlu disupor, dimotivasi.
Apa pun jadinya, sharing intensif membuktikan, mahasiswa (Syamsuwal Qomar dan Rahayu Suciati) mampu menulis buku dalam satu bulan. Mahasiswa pengambil mata kuliah Antropologi ‘dihasut’ menulis buku ajar, Pengantar Antropologi. Mahasiswa. Apalagi mereka yang sarjana, atau yang banyak membaca dan menimbun pengalaman di memori. Sangat mudah dimotivasi.
<>Mindset: Menulis Mudah
Yaps, provokasi awal saya merubah pandangan, dari menulis susah dan menyusahkan menjadi menulis mudah dan memudahkan. Istilah standarnya, tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan. Begitu mudah, sangat mudah malahan. Pamungkasnya, latih menulis dengan menulis, menulis, dan terus menulis.
Secara teoritik, pengembangan Menulis Mudah dilabeli sebagai Ersis Writing Theory (EWT). Bangun teori menulis yang ‘anti teori’. Setidaknya, dimaui untuk mengikis belenggu-belenggu menulis yang menjadi hambatan bagi banyak orang. Termasuk belenggu teori menulis konvensional. Katakanlah, antitesis sekaligus sintesis dari teori terdahulu.
Menulis, menuangkan pikiran. Tulis apa yang ada di pikiran, pasti jadi tulisan. Jangan, memikirkan apa yang akan ditulis. Mudah. Sangat Mudah.
Salam Menulis.
Bandung, 14 November 2009












