Manusia Moderen (1.1)

12 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |

MANUSIA PURBA. Kapan bangsa Indonesia memasuki zaman sejarah? Bagi yang pernah sekolah, hampir dapat dipastikan dapat menjawab, yaitu: tahun 400 M. Angka itu tertoreh pada Prasasti Kutai, Kalimantan Timur. Tulisan paling awal yang ditemukan dalam sejarah Indonesia. Sebelumnya?

Sebelum suatu bangsa berkemampuan menulis, belum ditemukan bukti tertulis, bangsa tersebut dikategorikan hidup di masa prasejarah. Manusianya dinamakan, Manusia Prasejarah. Kesananya lagi dinamakan Manusia Purba. Apa ciri Manusia Purba? Belum mampu menulis. Manusia Purba, berkomunikasi secara oral. Mereka awam membaca, apalagi tulis-menulis.

Manusia Purba memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meramu. Mereka belum mampu memproduksi kebutuhan kehidupan. Manusia Purba memenuhi kebutuhan kehidupan dengan meramu, food gathering. Mereka belum mampu mengolah sawah untuk menanam padi. Belum mampu memproduksi kebutuhan kehidupan.

Kehidupan ala food gathering adalah kehidupan yang bergantung kepada alam. Kalau pohon berbuah, mereka memakan buah-buahan. Kalau ada binatang yang bisa ditangkap, mereka akan makan daging. Tidak ada istilah berkebun atau bekernak. Kebudayaan Manusia Purba, sangat sederhana, bersahaja.

Tentu saja, berbeda dengan kehidupan kita di era moderen. Sekalipun, misalnya yang bertani para petani, secara kebudayaan Manusia Moderen berbagi peran. Ada yang memproduksi bagian lain kebutuhan kehidupan alias food producting. Lalu, apa hubungannya dengan menulis?

Manusia Moderen
Kita hidup di era moderen. Kemampuan berpikir manusia sudah begitu maju, teknologi berkembang hingga tidak mampu diramalkan batasnya. Kebutuhan kehidupan dari yang paling dasar, hinga paling rumit, diproduksi sesuai kebutuhan. Pada batas tertentu, manusia mampu ‘mempermainkan’ alam. Bagaimana dengan menulis?

Bukan maksud ‘mempermainkan’ siapa pun. Suatu ketika pikiran tergoda, Manusia Purba, tidak memiliki kemampuan menulis, tidak meninggalkan bukti tertulis. Kalau hidup dan berkehidupan di era moderen, hanya mampu memamah produksi pikiran orang lain melalui karya tulisnya, lalu berposisi sebagai apa? Sebagai sarjana merasa hebat manakala membaca, dan atau, hapal satu-dua teori. Kalau membaca karya Rene Descartes, Francis Fukuyama, Ibnu Rusyd, Koentjaraningrat, atau Laskar Pelangi, Andrea Hirata, wuih … huebat tenan.

Muncul godaan tanya: Bukankah hal sedemikian perilaku bak Manusia Purba? Meramu karya orang lain (food gathering) belum mampu meproduksi tulisan (food producting). Jujur saja, geli. Geli sembari memaki diri, memotivasi diri. Kalau begitu, menulis dong. Yaps, siapa takut?

Tetapi Saudara, ketika pikiran dipantik sedemikian, tentu tidak serta merta kemampuan menulis begitu saja menjadi. Ada kalanya, ketika pantikan begitu kuat, dan semangat ke ubun-ubun, wui … begitu ditulis, tangan mogok menekan tuts komputer. Menulis satu-dua alinea, mandek. Ada apa ya? Menulis, tidak cukup bermodal mau saja. Harus ada lanjutannya, yaitu mampu. Mau dan mampu. Mau dan mampu, ternyata menantang untuk dianalisis dan ditulis.

Bagaiman menurut Sampeyan?

Bandung, 13 November 2009

  1. One Response to “Manusia Moderen (1.1)”

  2. By ierone @ myblog4famouser.com on Nov 13, 2009 | Reply

    saya jadi semangat nulis pak.

    terimakasih lighter-nya :D

Post a Comment