Hukum Rimba

11 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Kerakusan, atau katakanlah ‘kebebasan’ berusaha menurut liberalisme, bisa jadi menjadi anutan banyak orang. Laurence Senesh mengumandangkan: unlimited wants and limited resouces. Dalam pandang psikologi, ‘wants’ memberi energi manusia untuk merealisasikannya. Bisa jadi, dengan segala cara.

Kehendak memenuhi ‘wants’ sejauh dalam batas-batas kewajaran tentu sah-sah saja. Tetapi, ketika dikomandoi keinginan tanpa batas, masalahnya menjadi serius. Hukum tidak dipandang, nilai-nilai dan norma ditabrak, tenggang rasa diabaikan, yang penting … Aku Mau, Aku Harus bisa. Pada posisi demikian, Hukum Rimba menyata.

Hukum Rimba dalam terjemahan, siapa kuat siapa memang, siapa berkuasa menentukan, hanya yang mempunyai pentung yang bisa memukulkannya, bisa jadi semakin merasuk. Orang tidak punya beban lagi ketika menabrak dan menubruk, selain kepentingannya, demi keinginannya. Entahlah. Apakah karena manusia satu sepupu dengan ‘annimal’ dimana ketika ber-’homo homni lupus’ adalah hal wajar. I don’t know.

Hm, Hukum rimba hukum binatang. Ketika praktiknya makin merajalela, apakah sebagai pertanda manusia kembali ke asalnya? Wallahualam bissawab.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 11 Responses to “Hukum Rimba”

  2. By ekspedisi surabaya - denpasar PP on Nov 11, 2009 | Reply

    banyak sekali manusia bertopeng hewan.

  3. By DV on Nov 11, 2009 | Reply

    Hehehe menurut saya adalah, manusia pada dasarnya sama dengan makhluk yang bertulang belakang lainnya, Pak.

    Rimba, hewan dan manusia…

  4. By S™J on Nov 11, 2009 | Reply

    ya itulah pak… kalo orang nyembah egonya sendiri :cool:

  5. By Wempi on Nov 11, 2009 | Reply

    Ada lagi nanti namanya hukum alam…

  6. By Siti Fatimah Ahmad on Nov 11, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Kerana sudah tidak menggunakan akal wajarnya, tidak mustahil hukum rimba menjadi pilihan. ketakutan kepada Tuhan sudah dibelakangi yang ada adalah kerakusan dan kesombongan yang bermaharajalela. Salam hormat takzim buat Tuan Ersis di Bandung.

  7. By HE.Benyamine on Nov 11, 2009 | Reply

    bagaimana jika dibalik saja jadi Rimba Hukum?

  8. By hajriansyah on Nov 13, 2009 | Reply

    mungkin begitulah keinginan semula jadi manusia, menjadi tak berjarak dengan nenek moyangnya (seperti yang diceritakan darwin). hehe.
    lama tak berkunjung. salam.

  9. By Iwan Awaludin on Nov 13, 2009 | Reply

    Nyerah aja nih Pak, sama hukum rimba? Buayanya sudah pintar e sekarang. Ga bisa ketipu lagi sama kancil, hehehe.

  10. By Edi Psw on Nov 13, 2009 | Reply

    Memang aneh ya, Pak. Kenapa sekarang ini banyak orang yang menganut hukum rimba.

  11. By Kurt on Nov 13, 2009 | Reply

    Hukum rimba dianut bukan oleh penghuni rimba tetapi oleh manusia di luar hutan belantara.
    Kalau di rimba raja hutan hanya cukup makan sekali saja kemudian libur berhari-hari sementara manusia, tidak cukup satu dua yang dimakan dalam hitungan jam.

  12. By erick "goncalves" on Dec 4, 2009 | Reply

    ya………pepatah mengatakan kalau ingin tahu karakter seseorang lihatlah tata cara hidup dan kehidupannya. kalau kita hanya ngoming hukum rimba terus jangan…jangan……..memang sifat kita kaya………
    pada intinya manusia di ciptakan untuk menjadi pemimpin di bumi ini. kalau ada orang yang kelakuan nya seperti yang ada di hukum rimba jangan dipukul rata lebih baik binatang daripada manusia. contoh. lihat di bengkl 2 motor banyak sekali motor honda. lalu dari situ apa kita bisa menyimpulkan bawha motor honda gampang rusak???
    atau kalau di yogykarta di perempatan janti bayak mahasiswa yang nyelonong ketika lampu merah apakah bisa dikatakan mahasiswa di yogyakarta semuanya tidak patuh lalu lintas??
    marilah kita berfikir dgn jernih dan positif nengara ini dah rusak jangan tambah dirusak dengan pikiran yang macam2

Post a Comment