Holocaust Industry
7 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Setelah Perang Dunia II berakhir, kekalahan Jerman dan sekutunya dimaknai oleh Yahudi, sebagai ‘pembantaian massal’, penghabisan Yahudi dari muka Bumi. Bahwa Yahudi dibunuh oleh Hitler (NAZI) adalah fakta historis, seperti juga posisi Jerman dan Yahudi (dalam Sekutu) yang saling berhadapan dalam suatu peperangan. Hanya saja, setelah Jerman kalah, Yahudi international menjadikannya sebagai industri, menarik keuntungan dari penderitaan Yahudi, ‘holocaust industry’.
Kecerdikan Yahudi, atau boleh juga kelicikan, yang menjadikan pembunuhan Yahudi oleh tentara Hitler sebagai industri. Bila dibanding dengan penderitaan Jepang yang dihadiahi Amerika Serikat dua bom Atom di Nagasaki dan Hiroshima yang dalam peradaban manusia merupakan ‘laboratorium’ pembantaian satu kawasan (kota) dalam hitungan detik, pembunuhan di kamp konsentrasi Auschwizt jauh kalah mengerikan. Ya, holoccaust dijadikan industri.
Arthur Kemp, melalui bukunya, March of The Titans: A History of White Race mengedepankan pandangan ‘pelurusan’ sejarah. Menariknya karya Kemp yang ratusan halaman memaparkan sejarah ‘holocaust’ dimana ‘holocaust’ tidak saja identik dengan pembunuhan Yahudi oleh Hitler. Sejarahnya panjang.
Kemp memaparkan dengan amat menarik, bahwa holocaust dapat dipindai pada era Turki Otoman. Menurutnya, Otoman Turki melakukan holocaust di Balkan. Tidak heran, Armenia sampai hari ini masih menuntut Turki bertanggung jawab atas pembunuhan 1,5 juta warga Armenia. Hal tersebut membuat hubungan kedua negara tidak pernah akur. Sekalipun Orhan Pamuk dalam novel bagusnya, Snow (2008) tidak fokus membahas hal dimakasud, digambarkan bagaimana etnik Armenia masih bermukim di Kars, kota perbatasan Turki-Armenia. Korban pembantaian 1,5 juta jiwa berlebihan. Bagaimana mungkin, populasi etnis Armenia semasa itu sekitar 600.000 orang. Yahudi lebih spektakular, populasi Yahudi yang 3,5 juta ditorehkan terbunuh 6 juta. Dusta historis pemantap industi ‘holocoust’.
Kemp juga memapar ‘holocaust’ era Perang Boer di Afrika Selatan, dan contoh-contoh lainnya. Yang ingin diterangkan Kemp, telah terjadi distorsi, negasi, dan bahkan destruksi terhadap realitas historis tentang akibat sejarah Perang Dunia II, terutama menyangkut pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman. Membaca karya Kemp, kita akan terpantik, nyanyian insdusti semacam apa yang didendangkan Yahudi dan keuntungan apa yang diraih?
Begitu perang usai, Yahudi internasional yang menguasai media, memblow-up pembantaian Yahudi oleh NAZI Jerman. Tagihan pertama Yahudi adalah menuntut negara sendiri, Tanah Yang Dijanjikan. Janji Inggris selepas Perang Dunia I, melalui ‘Bolffour Declaration’ (1917) ditagih yang tentu saja semakin memungkinkan karena Amerika Serikat yang muncul sebagai super power.
Tagihan tersebut tidak bisa dielakkan Amerika Serikat. Semang sejak ‘Bolffour Declaration’ populasi Yahudi di Palestina sudah melebih etnis Arab akibat migrasi Yahudi yang tiada henti. Inggris yang memulai, Amerika yang menanggung akibatnya. Dengan kekuatan ekonomi dan lobi (AIPAC) kuat pada di pusat kekuasaan Amerika Serikat, pemerintah Amerika Serikat ‘terpaksa’ membantu Israel, negara Yahudi yang diproklamirkan tahun 1948. Proklamasi Israel mengakibatkan perang dengan negara-negara Arab dan konflik Timur Tengah berkepanjangan.
Yahudi menagih pampasan perang kepada Jerman, ‘merampok’ bank-bank di dunia, terutama di Swiss yang diklaim sebagai milik Yahudi, Yahudi yang dibunuh tentara NAZI. Holocaust adalah kartu bagi penagihan untuk mendapatkan uang dengan berbagai modus.
Pembahasan ‘holocaust’ semakin menarik digandengkan karya, Norman G. Finkelsteins, The Holocaust Industry: Reflection on The Exploitation of Jewish Suffering. Holocaust telah menjadi kata sakral bagi Barat, apabila menolak wacana holocaust akan dipandang tidak bermoral, dan berideologi anti-Semit.
Holocaust dijadikan ‘lumbung’ komunitas Yahudi Internasional untuk keuntungan ekonomi dan politik, apalagi dalam ‘ mempertahankan’ Israel negara-negara Arab, negara-negara Islam, dan negara-negara dunia lainnya. Amerika Serikat dengan serta-merta akan ho oh. Melawan Israel berarti melawan Amerika, juga negara-negara Eropa pendukung tradisional Israel. Hampir semua Resolusi PBB yang ‘menghukum’ Israel dibentengi Veto Amerika Serikat, yang didukung Inggris dan Perancis.
Pembangkangan berbagai Resolusi PBB oleh Israel adalah hal biasa, dan tidak perlu mendapatkan sanksi. Israel mengembangkan dan memiliki bom nuklir adalah hal wajar, demi mempertahankan diri. Tetapi, bagi Iran dosa besar yang harus dipupus ke akarnya.
Bagi Israel, begitu juga Yahudi internasional, negara Israel di Palestina adalah harga mati. Apa pun dilakukan demi mempertahankan setelah Tanah Yang Dijanjikan tersebut diperoleh yang hilang dalam bilangan abad. Gerakan zionis adalah perwujudan mimpi yang kini menyata, sesuatu yang tidak mungkin dinegoisasikan. Bagi Israel, setelah kemenangan beruntun sejak awal proklamasi melawan Jordan, dan perang-perang berikutnya melawan negara-negara Arab, adalah penguatan sejarah. Apalagi, Amerika Serikat dan sekutunya siap membantu demi mempertahankan diri, sekaligus ekspansi secara bertahap memperluas wilayah kekuasaannya.
Bagi bangsa Palestina, sekalipun setelah Perdamaian Camp David, mendapat ’pengakuan’ dengan seupil wilayah di Jericho dan Jalur Gaza, sekalipun mendapatkan tempat berpijak, bukanlah merupakan penyelesaian. Apalagi, para pejuang Palestina garis keras tidak bergeming dengan tekad, mengusir Israel ke laut.
Dalam pada itu, penistaan Israel atas warga Palestina tidak henti-hentinya sepanjang tahun. Wacana Satu Israel ‘dua negara’, Israel dan Palestina, atau Palestina Merdeka, nampaknya hanya akan menjadi wacana, sebab prinsip kedua berpijak kokoh pada pendirian masing-masing, mengklaim tanah yang sama; sama-sama mempunyai hak historis. Pada posisi ini, negara-negara, apa pun alasannya memihak Israel. Kalau begitu ceritanya, konflik Timur Tengah tidak akan pernah terselesaikan.
Dalam pada itu, Palestina yang kita telah memantapkan menjadi bangsa sendiri, tidak mendapat sokongan signifikan dari negara-negara Arab. Bukan saja terkait ‘geopolitik’, tetapi nampaknya negara-negara Arab mempunyai ketakutan pada munculnya negara Palestina yang jangan-jangan menjadi ‘musuh’ kelak.
Ingat, sejak terusir dari Palestina, orang-orang Palestina menyebar ke penjuru dunia dan mereka tidak pernah melupakan Palestina. Sekalipun begitu, antar orang Palestina tidak terjadi kesepahaman perjuangan karena banyaknya firkah hingga masalahnya mernjadi rumit. Hanya untuk satu hal tidak bertikai, melawan Israrel.
Pada posisi ini, Iran yang sejak Revolusi Islam, menjadi kekuatan penentang Amerika Serikat (Barat), karena diperlakukan tidak adil, kini menjadi pendukung paling gigih Palestina. Revolusi Iran ‘diekspor’ ke Palestina, seperti juga ke banyak negara Arab, menjadikan benang kusut konflik Timur Tengah semakin menyala. Iran, mendukung bukan saja dengan dana, tetapi sekaligus dengan ideologi dan peralatan perlawanan Palestina terhadap Israel.
Dalam pada itu, holocaust sebagai industri semakin disempurnakan melalui media, melalui film-film untuk mempengaruhi opini dunia. Pada tataran pemikiran (ilmiah?) hadirlah Buku Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996). Untuk membendung semua itu. Iran menyerang balik, holocaust adalah dusta-dusta Yahudi.
Ahmadinejad, presiden Iran, dalam konferensi “Dunia Tanpa Zionisme” di Teheran, 26 Oktober 2005, memastikan: “Israel harus diusir dari tanah Palestina. Israel harus dihapus dari peta dunia”.
Sikap tegas Ahmadinejad (Iran) mendapat serangan balik dari negara-negara Barat, dan tekanan terhadap Iran, apalagi menyangkut ‘Proyek Nuklir Iran’. Kalau Iran tetap bersikukuh, perlakuan Barat seperti menyerang Iraq, Afganistan, dan sebagainya, bukan tidak mungkin tidak terjadi. Apalagi, Iran dikait-kaitkan dengan terorisme. Dan, … akan terbuktilah tesis Huntington … Islam musuh Barat.
‘Holocust’ benar-benar dijadikan Yahudi sebagai industri; bermula dari perang, diformulasikan sedemikian rupa hingga menjadi seolah-seolah demikian jadinya, lalu dimanfaatkan untuk keuntungan, ekonomi, pengaruh, dan terutama demi eksistensi Isrel. Tapi, tidak untuk satu hal: Israel bebas ‘melakukan’ apa saja terhadap bangsa Palestina. Pembantaian Gaza, adalah bukti terbaru.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 5 November 2009













6 Responses to “Holocaust Industry”
By Kurt on Nov 7, 2009 | Reply
Sepertinya mirip di Indonesia yah, “kedzoliman” bila dipublikasikan akan membawa “manfaat” dukungan dari berbagai pihak. Tapi ini bukan masalah KPK loh… apa belajar dari holocaust, atau memang alam mengajarkan ke situ yah…
salam kenal bang, dari user baru hehehe
By DV on Nov 8, 2009 | Reply
Manggut-manggut…. menyimak..
By MUHAMMAD YASIN on Nov 10, 2009 | Reply
Israeli such a animals
By MUHAMMAD YASIN on Nov 10, 2009 | Reply
Israeli like such animals
By Lamunadi on Nov 10, 2009 | Reply
Nampaknya pola holocaust industry juga diterapkan di Indonesia dan masyarakatpun terperangkap ke dalamnya. Tentu saja untuk Kasus KPK adalah cerita lain. Yg pertama berteriak membela KPK adalah ahli hukum dan fb-er, bukan politisi yg mendukung partai tertentu atau figur tertentu yg ‘merasa’ teraniaya.
Salam.
By Ria on Nov 11, 2009 | Reply
mmmmm…banyak persepsi untuk ini

saya pas dulu untuk masalah politik ya pak
semoga indonesia lebih maju ke depannya…