East is East, West is West …
4 November 2009 | Ditulis oleh: ewa |Ungkapan Rudyard Kipling dalam ‘The Ballad of East and West The Ballad’ yang terkenal, “East is East, and West is West, and never the twain shall meet” digunakan sebagai ‘pembenar’ keberbedaan kontras antara ‘Barat’ dan ‘Timur’. Sebenarnya, agak ganjil memahami pikiran Kipling tersebab dia berkehidupan di India. Sebagai karya sastra, kualitas baladanya sangat bagus, tetapi muatannya sangat tajam berbasik pengagungkan ‘Barat’ dengan memandang ‘Timur’ sebelah mata.
Membaca pikiran Kipling dari banyak karyanya, dapat dipahami sebagai rangkaian pemikiran yang bertumpu pada baladanya: ‘The White Man’s Burden.
Take up the White Man’s burden
Send forth the best ye breed
Go bind your son to exil
To serve your captives need
To wait in heavy harness
On fluttered folk and wild
Half-devil and half-child
….
Pada setiap awal partisi balada panjang tersebut diagungkan dengan amat angkuh tugas suci “Kulit Putih” (Barat) dalam ‘membudayakan’ orang non-kulit putih yang digambarkan sebagai ‘Half-devil and half-child’. Pembudayaan non-kulit putih adalah tugas suci (mission sacre) Kulit Putih (Barat).
Pikiran Kipling, sekalipun banyak dikecam, baik di Barat maupun di Timur, sebenarnya bisa jadi sebagai gambaran zaman —Kipling hidup di era kolonialisme-imperialisme.
Pada era Yunani-Romawi (Barat) bertentangan dengan Persia (Timur). Sekalipun, misalnya Alexander Agung memcoba ‘menyatukan’ (Hellenisme), ternyata kemudian hilang begitu saja. Barat adalah Barat dan Timur adalah Timur. Bahkan, ketika ‘The Dark of Midle Age’ dimana Arab-Islam (Timur) ‘menguasai dunia’ keterpilahan tersebut juga mengemuka. Apalagi, ketika Kulit Putih (Barat) berjaya sebagai buah renaisance dimana mereka mendatangi dunia Timur dengan semangat kolonialisme-imerialisme.
Sejarah mencatat. Begitu kerajaan Islam terakhir di Granada (1492) dikalahkan, dimulailah penjelajahan ke dunia Timur. Gospel, Glory, and Gold dijadikan ‘jimat’ untuk menundukkan Timur. Kekejaman manusia (Barat) menampakkan taringnya era ancient imperialism yang tiada terperihkan. Berlanjut era modern imperialism, semakin mempurukkan bangsa-bangsa non-kulit putih. Pada kondisi zaman demikian Kipling menulis balada-baladanya. Si Kulit Putih punya tugas suci (mission sacre) membudayakan bangsa-bangsa yang ‘half-devil and half-child’. Logikanya, tidak akan pernah ‘disatukan’, never.
Sesudah masa kolonialisme-imperialisme pertentangan Barat-Timur ‘diwakili’ USA-Eropa Barat (Barat) berhadapan dengan Uni Soviet (Timur), terlepas dilabeli jargon ideologi kapitalisme-komunisme. Runtuhnya Uni Soviet berarti kemenangan Barat (kapitalisme) dan membuat dunia lebih sunyi. Kiranya, Barat harus punya musuh. Dalam kalimat agak sarkartis, ‘korban’ harus ditemukan. Ibaratnya, Barat akan berhenti mencari musuh, dan atau berusaha menyatukan umat Bumi, manakala ada musuh dari luar planet Bumi.
Dengan kata lain, keterpisahan Barat-Timur, bila ditilik dari kondisi obyektif kekinian, nampaknya bukan mengarah pada rekonsiasi. Tetapi, bukan tidak mungkin, karena kesadaran akan ‘Satu Bumi’ dimana pada hakikinya unsur-unsur universal peradaban (kebudayaan) dipunyai semua bangsa, Barat-Timur, semangat rekonsiasi adalah kehendak zaman. Tetapi, ‘pikiran historis’ Barat meminimalkan ranah tersebut. Pada tataran praksis memang menampakkan hal sebaliknya.
Pada kondisi demikian, pikiran-pikiran Samuel P. Huntington menjadi ‘jimat’ baru. Setelah Uni Soviet runtuh, dengan muatan kajian lebih akademis (ilmiah), pertentangan Barat-timur bersua dalam ‘perbenturan peradaban’. Huntington membentangkan peringatan dini, kalau Barat tetap mau menjadi ‘penguasa Bumi’ berhati-hatilah, ada peradaban berbasis Islam, dan Konfusius yang (akan) menjadi pesaing.
Buku Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), yang intinya mengusung perbenturan (konflik) bukanlah lagi berdasarkan ideologi, tetapi tersebab pertentangan antar budaya. Sekalipun ada delapan area kebudayaan, Barat, Amerika Latin, Islam, Tiongkok, Hindu, Orthodok, Jepang, dan Afrika, ‘lawan’ paling potensial, Islam dan Konfusius (Cina).
Terlepas kekuatan analisis berbasis historis dan ramalan futurif, tesis Huntington terkesan aneh, Barat dimaknai dalam artian kebudayaan (peradaban) sementara Timur dikedepankan dalam label keyakinan (agama). Padahal, peradaban Barat tentu tidak bisa dilepaskan secara terpilah nyata (clear and distingly) dengan anutan pendukungnya, sementara Islam sebagai basik kebudayaan tentu tidak identik dengan bangsa-bangsa pendukungnya. Kalau boleh curiga, pikiran Huntington bermuatan permusuhan terhadap Islam.
Perlu dicermati, bahasan Huntington yang memang mendalam dengan ‘multi side argumentation’, bermuatan subyektivitas budaya. Pandangannya yang menempatkan kebudayaan Barat sebagai yang terbaik, dan Islam perlu ‘dibudayakan’, apalagi dikaitlengketkan dengan terorisme, bisa jadi bentuk baru amsalan Kipling dalam balada-baladanya, dalam semangat, “The West’s Burden”.
Dengan kata lain, pada kenyataan hari ini dan ke depan, bisa jadi akan sangat sulit rekonsiasi antara peradaban Barat dan Timur, dan bukan tidak mungkin pula, perbenturan tersebut semakin keras.













4 Responses to “East is East, West is West …”
By achoey on Nov 5, 2009 | Reply
Pak, akhirnya bersua lg d sini
Saya baru jd blogger lagi nih
semangat menulis!
By Lamunadi on Nov 6, 2009 | Reply
Hanya mereka (barat) yg tamak berkuasa saja yg akan menempatkan Islam sebagai musuh potensial penghambat syahwat ketamakan mereka. Dan faktanya setelah Sovyet ambruk maka batu sandungan bagi mereka yg tersisa adalah memang Islam. Meskipun jauh sebelum itu, permusuhan thdp Islam sudah tertanam dalam-dalam di bawah sadar mereka sejak berkuasanya Islam di Spanyol.
Salam.
By Siti Fatimah Ahmad on Nov 7, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikun
Walaupun menduduki bumi yang satu, mernung matahai dan bulan yang sama.. namun cara fikir, gaya hidup, resam budaya, terlalu jauh berbeda. tambah lagi keinginan untuk menguasai antara satu sama lain menjadikan manusia selalu berlumba-lumba untuk menjadikan dirinya yang terbaik di muka bumi ini mengikut perkiraan akal fikirnya atau nafsunya. antara barat dan timur, salatan dan utara… ia berbeda dan tidak sama. Salam mesra selalu buat Tuan Ersis di Bandung.
By Ria on Nov 11, 2009 | Reply
jadi inget salah satu bab di Negri lima menara, pidato si kecil waktu perdana mentri inggris dateng ke pesantren…bahwa sebaiknya kerja sama timur dan barat harus lebih di tingkatkan…
*lupa pak persisnya apa*