Ibnu Rusyd: Si Penerjemah (5.2)
31 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |PENYAMBUNG. Puas sudah berburu buku filsafat, terutama yang berkaitan dengan pemikiran Ibnu Rusyd, yang dalam literatur Barat ditullis Averroes. Yang bermain di pikiran, kalaulah Ibnu Rusyd tidak menuliskan pemikiran para filosof Yunani, bisa-bisa kita tidak akan mengenal, setidaknya, tidak seleluasa sekarang menyelam alam pikiran Yunani.
Ibnu Rusyd, bisa jadi ‘bertentangan’ dengan ulama dan penulis besar Islam, Al-Gazali, seperti juga dengan para fukaha, tetapi jasanya ‘menyambung’ pemikiran Yunani Kuno sangatlah bermanfaat. Berkat ketekunannya membaca, padahal dia tidak paham bahasa Yunani, dan kemudian menuliskannya dalam berbagai buku, pusaka pemikiran lama sampai ke masa kita sekarang. Ibnu Rusyd Si Penerjemah. Karya bukunya sangat banyak. Ibnu Rusyd penulis produktif.
Filosof Andalusia
Ibnu Rusyd filosof muslim Andalusia (kini Spanyol) sangat sohor. Sampai-sampai digambarkan sebagai bapak pendiri pemikiran sekuler di Eropa Barat sekaligus bapak spiritual Eropa. Bersama gurunya, Ibn Tufail and Ibn Bajjah, dia filsuf Andalusia terbesar.
Ibnu Rush berasal dari keluarga sarjana hukum Islam; kakeknya Abu Al-Walid Muhammad adalah kepala hakim Córdoba di bawah dinasti Murabitun. Bapaknya, Abu Al-Qasim Ahmad, memegang posisi yang sama. Ibnu Rusyd pun menjadi qadhi (1160) di Sevilla, lalu Cordoba, dan Maroko.
Ibnu Rusyd sangat rasionalis. Jangan heran kalau telah menulis lebih dari 20.000 halaman, tersebar pada banyak buku. Rusyd menulis filsafat Islam awal, logika dalam filsafat Islam, kedokteran, matematika, astronomi, tata bahasa Arab, teologi Islam, Syariah, dan Fiqh. Karya-karya paling penting berurusan dengan filsafat Islam, kedokteran dan Fiqh.
Setidaknya 67 karya-karya asli, 28 tentang filsafat, 20 obat-obatan, 8 di hukum, 5 teologi, dan 4 tata bahasa, di samping komentar-komentarnya terhadap pemikiran Aristoteles, juga tentang Republik, Plato. Ibnu Rusyd sangat serius menulis komentar tentang karya-karya Aristoteles. Mencengangkan, dia tidak paham bahasa Yunani, yang artinya dibaca melalui bahasa Arab. Satu lagi pertanda, Arab-Islam sudah begitu akrab dengan pemikiran Yunani.
Yunani-Islam
Sangat menarik. Ibnu Rusyd, membuahkan aktualisasi pembelajaran, pencerahan, bahwa Muslim ‘wajib’ membaca dan menulis. Bayangkan. Tanpa persentuhan dalam garis yang tegas dan jelas, negara ala Republik Plato, sama saja dengan, Kekhalifaan.
Sekali lagi, bayangkan. Ibnu Rusyd berpayah-payah memahami alam pikiran Yunani melalui bahasa Arab sebab dia tidak paham bahasa Yunani. Tidak mungkin dicek melalui buku-buku Yunani, apalgi melalui selancaran internet seperti sekarang. Jelas, Ibnu Rusyd bukanlah suka beralasan, bukan pengeluh. Membaca, berpikir, dan menulis.
Paling menarik perdebatannya dengan Al-Gazali. Perdebatan bukan dilakukan lewat bersitegang urat leher di arena seminar atau ruang diskusi, bukan dengan parade kibaran bendera, mengacungkan tinju di jalanan, tetapi melalui pemikiran yang ditulis. Perdebatan intelektual melalui karya tulis. Tradisi Islam yang sebaiknya ditegakkan (kembali).
Banyak yang terpesona pemikiran Barat, eit … ternyata, seperti sandaran pada alam pikiran Yunani, diselamatkan ilmuwan Muslim. Rasionalisme Descartes seolah dijadikan ‘Tuhan’ pemikiran. Padahal, ‘Metode keragu-raguan’ Descartes yang ambigu kalah jauh dari ‘Metode Tafakur’ Al-Gazali. Al-Gazali bermuara makrifat, pengetahuan intuitif, kembali padaNya. Descartes, dengan ‘keakuan’, ya tahu sendiri simpulannya deh.
Akan berpanjang-panjang kalau pemikiran dan karya Ibnu Rusyd dibahas. Karena itu, dalam kerangka menangguk inpirasi menulis, adalah sangat bijak memaknai, bahwa orang seperti Ibnu Rusyid yang hidup di era sangat kuno, begitu rajin membaca, begitu gairah menulis. Kaca kehidupan bagi kita.
Ya, Ibnu Rusyd karena pemikiran, dipenjarakan, diasingkan, dan dia tetap membaca, dan menulis. Salahkan kalau dijadikan landasan contoh sebagai pemratik perintah Allah SWT, iqa’, iqra’, iqra’. Lanjutan perintah Rasulullah ketika memerintahkan Sahabat, menuliskan Al-Quran di pelepah kurma, tulang-tulang, batu, atau apa saja?
Atau, kita akan terjebak mengeluhkan Yahudi, tiap hari mempelajari dan mengumandangkan pikiran-pikiran Yahudi, dan memakai produk-produk Yahudi. Sementara membaca dan menulis terabai. Lalu, berteriak-teriak menghujat. Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus sebagaimana Kau tunjukkan kepada orang-orang sebelum kami. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 31 Oktober 2009.













5 Responses to “Ibnu Rusyd: Si Penerjemah (5.2)”
By HE.Benyamine on Nov 1, 2009 | Reply
Ibnu Rusyd … tetap membaca dan menulis, tetap berpikir, tetap berpendapat … tauladan yang sungguh berharga.
By M Mursyid PW on Nov 2, 2009 | Reply
Untuk mempertajam pemikiran memang kita harus banyak dan tidak pernah berhenti membaca beragam aliran filsafat. Saya pernah sedikit masuk ke dunia itu dengan memburu buku2 yang ada di perpustakaan saat kuliah. Mengasyikkan memang, tapi bikin mumet juga ketika landasan iman seseorang kurang kokoh. Ya, setidaknya dengan suka membaca sedikit banyak akan berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah tulisan indah bermakna dalam seperti tulisan panjenengan ini.
Salam.
By Khairuddin syach on Nov 3, 2009 | Reply
amin kang… mudah2an kita selalu ditunjukkan jalan yang lurus.
By Siti Fatimah Ahmad on Nov 4, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum
Tokoh Tamadun Islam Ibn Rusyd ini memang hebat kalau kita menyelusuri jalan hidupnya yang penuh dengan cabaran dan komitmen yang tinggi dalam bidang kepakarannya. Mudahan kita memperolehi semangat yang ada padanya.