Yahudi: ‘Tauladan’ Yang Terabaikan

30 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |

Pasti sudah, Allah tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Begitu juga kaum Yahudi sebagai ‘bangsa terpilih’ (mohon perhatikan tanda kutip). Jangan-jangan —bagaimanapun mereka ciptaan, makhluk Allah SWT— diciptakan sebagai ‘tauladan’, ada yang harus dicontoh dari mereka. Bukan ‘kekejian’ atau ‘kerakusan’ mereka tentu. Apa itu?

Mereka rajin belajar, menimba ilmu, meneliti, dan seterusnya. Firman Allah SWT dan Hadis Rasulullah sangat banyak menitakan soal tersebut. Kehebatan mereka ‘melahirkan’ pikiran melalui tulisan; teori-teori, dan buku-buku karya Yahudi ‘menguasai’ jagad keilmuan. Mereka mendominasi Nobel (terlepas dari subyektivitas penilaian).

Pertanyaannya, kenapa harus Yahudi? Padahal, kepada Muslim Allah SWT menurunkan ayat pertama untuk membaca, dan Rasulullah menitahlkan menulis, dimulai dengan menuliskan Al-Quran. Jangan-jangan mereka paham betul dengan perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah. Dipraktikkan.

Sejarah berkhabar, ketika ilmu dimuliakan, syariat dipraktikkan era Abbasyiah dana Andalusia, ‘kehebatan’ Yahudi tidak ‘terdengar’. Muslim mendominasi hampir semua hal.

Cermati satu hal saja, Yahudi itu memegang teguh ‘persatuan’, sementara Muslim bertengkar sesamanya hampir di seluruh belahan Bumi. Apa ini mengikuti perintah Allah SWT dan Rasulullah? Ibaratnya, mereka sampai ke Bulan, Muslim bertengkar gara-gara melihat Bulan (menetapkan Idul Fitri).

Pantas merenung, berpikir radiks, ada apa dengan kita? Ada mahasiswa membaca koran ngantuk, membaca buku mengeluh, mengerjakan tugas nyonteks. Membuat skrips, tesis, disertasi diupahkan. Lalu kalau jadi pemimpin? Ada guru atau dosen, menuliskan apa yang di koarkan di kelas saja malas, alasan ini itu … lalu mengumandangkan pikiran Yahudi he he he (Saya mungkin masuk kategori ini, hayya).

Masalah tidak akan terselesakan dengan teriak-teriak atau mencaci maki? Mau boikot ‘produ’ Yahudi? Emang produk sendiri cukup memenuhi standar kehidupan? Bijak kiranya, memantapkan pada anak-anak kita, generasi muda, rajin belajar: rajin membaca, rajin menulis. Kurangi teriak-teriak atau membenci.

Bagaimana menurut Sampreyan?

Bandung, 29 Oktober 2009

  1. 11 Responses to “Yahudi: ‘Tauladan’ Yang Terabaikan”

  2. By DV on Oct 30, 2009 | Reply

    Tadinya saya tak ingin mengomentari tulisan ini, Pak. Tapi akhirnya saya pikir tulisan ini adalah salah satu yang terbaik yang ditulis Anda di sini.

    Ini sungguh tak berlebihan. Saya sangat setuju dengan semangat untuk mencontoh yang baik meski datang dari yang terburuk sekalipun.

    Terlepas dari esensi iman dan kepercayaan, saya sangat setuju dan sepakat dengan Anda.

    Oh ya, satu yang terlupa, saya mau mengucapkan terimakasih pada Sampeyan, meski tidak secara langsung, tapi kemenangan saya dalam Writing Contest kemarin tak lepas dari semangat yang Anda tularkan di sini!

    Salut! Tuhan memberkati selalu!

  3. By Natan on Oct 30, 2009 | Reply

    Orang yahudi memang punya mempunyai keinginan untuk cerdas sejak masih di kandung ibu. Dalam Kandungan janin diperdengarkan alunan musik, ibu nya belajar matematika, ketika lahir pun, konsumsi makanan yang tidak sembarangan, sampai ketika sekolah diperguruan tinggi pun, mahasiswa diwajibkan tugas akhir dengan proyek nyata yang harus mempunyai keuntungan minimal.

  4. By Wempi on Oct 30, 2009 | Reply

    weberis.com sudah tidak di suspend lagi ternyata, terlalu larut menulis jadi lupa bayar hosting dan domain.

  5. By anderson on Oct 30, 2009 | Reply

    Betul Pak Ersis, bangsa Yahudi memang dikarunai oleh Allah SWT kelebihan-kelebihan duniawi.. Untuk kelebihan-kelebihan yang demikian, saya pikir ngga ada salahnya kita belajar dari “Bangsa Terpilih” ini…

    Pencerahan yang menarik, Pak…

  6. By Siti Fatimah Ahmad on Oct 30, 2009 | Reply

    Assalaamu’alikum

    Saya setuju Tuan Ersis.. Apa pun ciptaan Allah ada hikmah disebaliknya. Ternyata kita sering cuai dan leka dengan hikmah tersebut.

  7. By Arief rachman Heriansyah on Oct 31, 2009 | Reply

    Tulisan Abah sangat bermakna sekali.Ulun jadi termenung sesaat,memikirkan orang-orang yahudi itu…

  8. By racheedus on Nov 1, 2009 | Reply

    Sering kita lupa, kita justru mestinya berhutang budi dengan musuh-musuh kita. Dari mereka, kita jadi mengetahui kelemahan kita. Andai Yahudi dianggap “musuh”, kita justru mesti banyak belajar dari mereka tentang kesuksesan mereka di banyak hal. Tentu saja, tanpa melupakan ajaran yang kita yakini.

  9. By siti hariyah on Nov 5, 2009 | Reply

    Mau idul fitri tgl 21, 22, atau 23 monggo. Islam tidak melarang perbedaan asalkan tidak saling menghina apalagi bermusuhan.

  10. By efaproditus on Nov 6, 2009 | Reply

    Benar biar bagaimanapun yahudi adalah ciptaan Tuhan sama dengan bangsa2nyang lain. Dan allah tdk akan melupakan manusia yang diciptakannya. sejahat2 apapun seorang anak dia takan dibuang ayahnya, kemanapun pasti dirindukan…begitu juga Yahudi dan semua bangsa lain didunia

  11. By njul on Nov 7, 2009 | Reply

    Setuju, mengurangi benci dan caci maki.
    Masalah Yahudi, bukan lah musuh umat muslim. maksudnya adalah semuanya, semua Yahudi. hanya sebagian yang dilakhnat Allah SWT.

    Saya juga ada nulis tentang Yahudi. tapi karna baru belajar ngeblog, jd ngga bisa trackback. kalau bapa sempat silahkan berkunjung.

    oh ya, masalah tulis-menulis. terima kasih atas artikel-artikel yang ditujukan untuk memotivasi orang untuk menulis. jangan bosan memotivasi melalui tulisan ya pak.

    dulu, bagi saya nulis itu sangat susah. ketika membaca kalimat, “tulislah apa yang ada dipikiran, bukan berpikir apa yang ingin di tulis.”, saya merasa bodoh sendiri.
    selama ini begitu banyak yang dipikirkan. memikirkan apa yang dilihat, apa yang dirasa, apa yang dialami, apa yang ditanyakan, ditanyakan pikiran atau pun ditanyakan oleh hati, kemudian mencoba menjawabnya sendiri dengan berpikir dan melihat kenyataan yang ada. mencari apa yang benar. tapi begitu sulit dituangkan dalam bentuk tulisan. seperti kata bapak, saya saat itu berpusiang ria memikirkan apa yang ditulis. berpikir bagaimana merangkai kata-kata untuk mewakili jawaban-jawaban yang ditemukan. hasilnya, ya pusing. ngga ketulis, jadi bingungg sendiri.

    sekarang, alhamdulillah. walaupun tulisannya masih banyak kacau balau, yang terpenting adalah semua yang ada dikepala sudah terkeluarkan. rasanya jadi plong. berat rasa di pikiran kalau harus terus-menerus menyimpannya. walau pun, kata teman=teman yang baca tulisan saya, ide poko tulisan saya aneh-aneh dan biasa-biasa saja, tidak menarik, dan terlalu kasar. hehe……….
    sekali lagi, sseperti kata bapa. menulis nyaman dan menyamankan. lega…………..

    terkadang kalau lagi malas menuliskan apa yang dipikirkan, tinggal kunjungi blog bapa saja, kembali, semangat menulis muncul lagi. jadi, sekali lagi jangan berhenti memotivasi menulis ya pak.
    saya sering berkunjung ke blog bapa, tapi baru kali ini komentar. habis saya orangnya susah berkomentar. terkadang bingung mau komentar apa. kebanyakan tulisan yang bapa tulis, saya setuju-setuju saja. jd, ketika ingin komen setuju, rasanya basi banget.(saya bilang saya susah komentar, tapi kok komentar ini banyak banget ya pak, hehe…… . jadi merasa aneh sendiri. tapi dari kecil kebanyakan orang-orang yang ada di sekitar saya bilang saya aneh, he……..)

    oh ya, kalau sempat berkunjung ke blog saya artikel-artikelnya dimaklumi ya pak. baik tulisannya, atau pun ide tulisannya. dan sekali lagi terima kasih banyak, karna bapa sudah mau menuliskan bagaimana cara menulis yang mudah, yang semuanya itu berasal dari pengalaman menulis bapa sendiri. jarang lo ada yang mau memberitahu sesuatu yang dia ketahui. mudah-mudahan saya selalu termotivasi untuk menulis, amiiin…….

  12. By Eka Situmorang-Sir on Nov 10, 2009 | Reply

    Kalimat penutupnya setuju banget pak :)
    drpd sibuk caci maki mendingan membenahi diri untuk jd lbh baik :)

Post a Comment