Hamka: Ulama Sastrawan (5.1)
27 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |TASAUF. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dengan nama populer HAMKA, tidak pelak lagi ulama kesohor. Eloknya, HAMKA juga dikenal sebagai sastrawan. Di Bawah LIndungan Ka’bah atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah novel populernya yang berjaya sepanjang masa; tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan.
Saya cukup banyak membaca karya Buya, begitu panggilan kesayangan padanya, dari Ayahku sampai Sejarah Umat Islam. Tasauf Modern, berkali-kali dibaca dan berkali-kali dibeli. Apa saja karya Buya sedapat mungkin dibaca. Polemiknya dengan Parlindungan, buku berbalas buku, menjadi bacaan kesukaan bagaimana ‘berdiskusi’ dalam karya buku. Sangat membekas. Sehingga, lebih suka menulis dari pada ‘bahual’ dalam berbagai forum atau aneka seminar.
Bertemu HAMKA
Secara fisik bertemu Buya dua kali. Pertama, dalam satu acara di Mesjid Nurul Iman Padang dimana meminta tanda tangan HAMKA ditorehkan di diary. Wui … bangganya dapat tanda tangan penulis idola. Mengingat Buya jadi malu sendiri. Soalnya, terkadang merasa mendapatkan gaya menulis darinya. Padahal, sangat jauh he he he. Manalah mungkin meniru gaya penulis beken dan keren tersebut.
Kedua, ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampung kelahiran HAMKA, Sungai Batang, Maninjau. Buya menangis kala itu, maklum Beliau sangat mencintai ayahnya. Buya jadi iman shalat zhuhur. Tidak banyak yang ditanyakan. Bodohnya saya, tidak berani bertanya soal tulis-menulis. Tapi tidak mengapa, di hati dan pikiran ditanamkan akan meniru jejak HAMKA menjadi penulis. Wui … malu lagi. Soalnya pengetahuan agama HAMKA dan bacaannya selangit, sementara saya ngak ada apa-apanya. Malu ngak dosa kok. Sebodoh.
Kini, semakin malu. Soalnya, ketika HAMKA menulis fasilitas menulis tidak sehebat saat ini. Mana pula buku-buku tentulah belum bak air bah seperti sekarang. Apalagi, internet. Buya meraup bahan tulisan dari pikiran Aristoteles dan puluhan pemikir lainnya, tentu bukan persoalan mudah hingga ketika membahas mencari ‘kebahagian’ begitu menyentuh. Duh, Buya yang banyak membaca, mengamalkan perintah Allah SWT, dan perintah Rasulullah, menulis.
Menulis, Seadanya
Menatap bayang-bayang diri, akhirnya nekat. Menulis apa yang dapat ditulis. Tidak perlu bermutu atau tidak, akan dibaca orang atau dilupakan, menjadi cacian atau apa begitu, terserah. Menulis belajar. Dengan menulis memacu diri untuk membaca. Semakin rajin menulis, semakin rajin membaca.
Padahal, entah dari guru atau siapa, dulu pemahamnya standar. Membaca dulu —kalau perlu berkilo-kilo buku— baru menulis. Ternyata, membaca, membaca, dan terus membaca tidak menjadikan fasih menulis. Nah, kecanduan membaca justru semakin nyaman ketika rajin menulis. Maksud saya, menulislah, dan kemembacaan tidak akan terganggu. Bahkan, bisa lebih ‘ganas’. Belive it or not.
Pada sharing menulis pertama komunitas Tahajud Call, MQFM 127,2, Daarut Tauhid, calon penulis saya ancam: “Kalau sharing dilanjutkan, tidak ada catatan, tidak boleh membaca buku, apalagi melihat kamus”. Kenapa? Ersis Writing Theory (EWT) dibangun berbasik pemahaman, menulis menulis saja. Pengalaman menunjukkan, kalau sedang menulis mencek atau mengoreksi akan merem aktivitas menulis. Lalu?
Kalau mau mencek, mengoreksi, atau berdiskusi, setelah tulisan menjadi. Menulis ya menulis saja. Memperdalam teori, memperbanyak kosakata, sebeum atau sesudah menulis. Banyak orang ‘tertipu’ ketika menulis ‘berpikir’ atau ‘mengokeksi’ tulisan.
Setidaknya, bagi penulis pemula bisa berakibat mandek menulis. Wajar saja. Manakala kita menulis sembari mencek informasi atau mempedalam bahan, tentu akan mengalihkan perhatian. Adakalanya ketika mencari bahan, muncul ide baru. Ide ditimpa ide. Ide awal menguap. Akibatnya, folder komputer berisi tulisan-tulisan satu atau dua aline. Kacien dech loe.
Ya, HAMKA penulis besar. Kita tentu tidak salah bercita-cita meniru HAMKA. Sekalipun demikian, kalaulah dalam menulis hanya mampu meneladani sepersekian saja, dan mutunya tidak setara, tidak mengapa. Rauplah inspirasi dari penulis hebat.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 27 Oktober 2009.













3 Responses to “Hamka: Ulama Sastrawan (5.1)”
By Lilih Prilian Ari Pranowo on Oct 27, 2009 | Reply
hahaha… baru ngeh kenapa belakang judulnya ada angka2… karena bakal jadi juga nih serpihan2 artikel…
By Lilih Prilian Ari Pranowo on Oct 27, 2009 | Reply
keren…..
By Siti Fatimah Ahmad on Oct 29, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum
Di Bawah LIndungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan satu lagi kalau tak silap saya Merantau Ke Deli..Buku-buku ini saya baca ketika usia 10 tahun dan merupakan pendorong utama perubahan pada minda dan keinginan menulis sehinggalah dewasa ini. HAMKA adalah penulis pertama yang saya kenal dalam dunia pembacaan saya. Al Fatihah untuk Buya dan ibu bapanya.
Terima kasih Tuan Ersis, mengingatkan kembali kenangan bersama Buya. saya jadi teringat akan buku dan tafsirnya. Salam mesra selalu dari UKM, Bangi.