Menulis Mengenal Diri (4.9)

26 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |

BERBAGI. Rangkaian tulisan pada bab ini diadesifkan pada diri (penulis) dalam lajuan pemaknaan, bahwa menulis adalah memahami diri, berusaha memahami Ilahi dan kekuasaanNya dalam pejadaran diri. Tepatnya, pembelajaran. Sharing sampai pada menulis dalam kerangka ‘Kalam Ilahi’, pemahaman diri. Menulis memahami diri, mengenal diri?

Pada umumnya, kalau berbincang perihal menulis, teman sharing atau guru menempatkan dalam ranah berbagi. Sesorang berpikir, menuangkan pikiran dan dibaca banyak orang. Ketika seseorang atau banyak orang membaca, mendapat manfaat. Berarti, berbagi. Tentu tidak salah. Tetapi, buku ini didisain dalam lajuan menulis mengenal diri pada kerangkan pembelajaran (diri). Pembelajaran tersebut kalau dipindai yang lain dan bermanfaat, ya Alhamduillah.

Bodoh, Sunguh Bodoh
Kalau ditanya: “Hai Ersis, dalam menulis manfaat apa yang paling kamu dapat?”, saya akan menjawab: “Semakin sadar, betapa bodohnya diri ini”. Coba hal sederhana, kalau menulis provinsi, … provinsi atau propinsi (v atau p)? Coba cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa seronok artinya bukan jorok atau norak, tetapi sebaliknya.

Untuk hal sederhana demikian, kalau tidak tahu diri, urat leher bisa keras mempertahankannya. Mereka yang merasa pintar tidak akan mau mencek di kamus. Persis, pembaca sejarah haqqul yakin penemu benua Amerika, Christopher Columbus. Padahal, Americo Peppusi. Kalau tidak mau belajar, pengetahuan ‘salah’ tersebut yang ditulis. Kalau mengakui diri bodoh, kamus, eksiklopedi, atau internet sasarannya.

Begitu pula hal-hal yang belum diketahui apabila tertarik menulisnya. Caranya? Tidak ada cara lain selain mempelajarinya. Ketika tertarik ayat-ayat kauniyah, ya belajar dan mempelajarinya. Membeli buku-buku astronomi —bukan astrologi, lho … sembari menikmati malam dikala bintang kerlap-kerlip dikawal Bulan menyejukkan. Duh, tata surya tak berbatas. Siapa yang menciptakan? Allah SWT. Jangan pernah mencoba membandingkan ‘kebodohan’ diri dengan ‘kemahaan’ Ilahi. Sadar bodoh modal dasar pembelajar. Kalau merasa pinter, ya … semua hal beres deh. Pembelajar sejati mereka yang tidak pernah merasa pintar.

Mengenal Diri
Terlalu sering diingatkan, apabila mengenal diri kita akan (lebih mudah) mengenal Allah SWT. Saya punya ‘canda khas’ kepada mahasiswa baru: “Kalian belajar menggunakan apa sih?”. Macam-macam jawabannya. Bila ada yang menjawab dengan mengunakan, pakai otak, akan saya buru: “Apa itu otak? Bagaimana sistem kerjanya, dan seterusnya”.

Siapa pun Sampeyan, apalagi kalau berprofesi guru, kalau tidak ‘megenal’ otak bagaimana berharap pembelajaran menggunakan dan memanfaatkan otak. Sama dengan berdoa, apa yang diminta tidak paham, karena tidak mengerti bahasa doa, bagaimana Allah SWT mengabulkan? Berdoa dari dari qolbu, belajar tanpa memahami otak, duh bagaimana ya.

Yap, kita berpikir dengan otak. Otak kitalah yang bertugas mencari tahu. Lazimnya otak ‘dibelajarkan’ mempelajari hal-hal hebat yang terkadang, sembari meninggalkan hal dasar semisal, bagaimana sistem udara yang dihirup tiap saat menghidupkan. Sistem pencernakan yang luar biasa. Apalagi sistem kerja otak yang otak sendiri susah memahaminya.

Sungguh menakjubkan, pada diri tercermin kekuasaan, kemahahebatan Allah SWT. Bayangkan, dengan otak, misal sedang kuliah di Bandung, tetapi ‘angan’ dalam seketika bisa membawa ke Padang ‘melihat’ hajaran gempa. Otak bisa berkelana menembus ruang dan waktu sebebas-bebasnya.

Ya, ingin mengingat ‘Perjamuan Terakhir’ atau kukisan Monalisa, Theather ‘Keong’ nun di Aussie, Merlion muntah air di Singapore, atau kehebatan Rene Descartes, seramnya Agatha Christie atau eloknya petenis-petenis Rusia, dan seterusnya, silakan saja. Dunia otak dunia tidak terbatas.

Dengan menggunakan otak, kita bisa memindai apa yang kita ketahui dan apa yang belum diketahui, mengingat masa lalu membayangkan masa depan, menganalisis atau menafikan yang ada dan tiada. Kita mengenal diri, mengenal ‘pembuat diri’, mengenal yang Mahakuasa, mengenal Ilahi Rabbi.

Pencarian mengenal diri, mengenal Ilahi berpilin padu menulis asalah pencarian mengairahkan dalam keserempakkan usaha. Mana tahu sajiannya bermanfaat bagi yang lain. Menulis adalah pencarian pembelajaran, mengenal diri, mengenal Sang Pencipta.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Bandung, 25 Oktober 2009.

  1. 3 Responses to “Menulis Mengenal Diri (4.9)”

  2. By ierone @ myblog4famouser.com on Oct 26, 2009 | Reply

    subhanallah,…
    baik ayat kauliyah ataupun kauniyah semuanya menggambarkan kebesaran Allah.

  3. By Potter.Web.ID on Oct 26, 2009 | Reply

    Yaa menulis sering memaksakan kita untuk belajar mengetahui lebih banyak hal.

  4. By oeban on Oct 27, 2009 | Reply

    berpikir biasanya untuk memahami. berpikir memang dengan menggunakan otak. tapi memahami, harus dimulai dengan mengerahkan seluruh potensi diri.kemampuan menulis adalah karunia Ilahi.

Post a Comment