Menulis Meniru Malaikat (4.8)
22 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |DICATAT. Sedari kecil, nasehat orang tua, kakek, nenek, atau tetuha kampung: “Jangan mencuri”. Maklum, ketika kecil melihat jeruk tetangga kekuningan atau mangga hijau matang, hmm … batu melayang atau galah beraksi. Ingat: “Malaikat Rakip dan Atip mencatat apa yang kamu perbuat”. Kalau sudah begitu nyali ciut.
Masih ingat perintah pertama Allah SWT kepada Rasulullah? Perintah Rasulullah kepada Sahabat mencatat Firman Allah? Ketika banyak Sahabat penghapal Al-Quran gugur, Abu Bakar dan Ustman memerintahkan mencatat Al-Qu’ran atau lebih tepat membukukannya. Mencatat pada dasarnya menulis. Intinya, yang ingin dikumandangkan, betapa strategisnya ‘martabat’ menulis dalam ajaran Islam. Aneh bilamana Muslim tidak akrab membaca dan menulis. Lebih aneh, bila memilih bertengkar atau ‘bahual’.
Loyalitas Malaikat
Para Malaikat contoh bagi manusia perihal loyalitas. Malaikat Rakip dan Atip mencatat apa saja tentang apa yang dilakukan manusia. Catatan tersebut nantinya yang akan maju pada Mahkamah Akhirat, bukan pikiran atau perasaan manusia.
Manusia dibekali potensi kemampuan Malaikat yang dapat dikembangkan sesuai kemampuan, atau bisa jadi, kemauan manusia. Hanya saja, karena tugas Malaikat begitu fokus, loyalitasnya sempurna. Bagi Malaikat tidak ada ruang ‘berdebat’ atau mencerna, hanya melakukan. Kira-kira, itulah sebabnya Malaikat sebagai pencatat prima. Manusia?
Pada dasarnya dibekali seperangkat otak berkapasitas unlimited. Hanya saja, karena berbagai sebab atau ‘kehendak’ manusia, kemampuan apa dan mana yang dikembangkan, menjadi pilihan. Misal, kalau yang ditanamkan sikap sinis, maka kesinisan akan berkembang tidak terbatas. Ketika memilih ‘bercinta’ dengan Allah, ganjarannya menjadi ‘kekasih’ Allah.
Ahai … kalau memilih profesi rampok, misalnya, dari waktu ke waktu, kemampuan, teknik, strategi, kiat, atau apalah namanya akan berkembang pesat. Bisa jadi kemampuan yang dikembangkan serius kemajuannya melebihi apa yang diperkirakan. Begitu pula kalau berkehendak menjadikan menulis sebagai pilihan. Insya Allah, apabila melatih menulis, berbagai kemudahan akan diperdapat. Amin.
Meniru Malaikat, Menjadi Manusia
Dalam mencatat, mengingat ada baiknya mencontoh Malaikat. Tetapi, bagi manusia hal sedemikian tidak cukup. Bisa jadi, hal demikian yang menjadikan manusia ‘lebih’ dibanding Malaikat. Seperangkat piranti sebagai alat pengoperasian otak dimiliki manusia. Disempurnakan piranti qolbu, manusia punya pilihan-pilihan kehidupan.
Pada tarikan menulis, menulis bukan hanya mencatat. Apa-apa yang diinput, diproses, barulah dikeluarkan. Bukan sekadar menjalankan perintah. Tersedia ruang untuk ‘melawan’ perintah. Mengasyikkan, manusia dibebaskan Allah memilih dan menentukan jalan. Menulis adalah berkah kemerdekaan yang langsung diberikan Allah SWT.
Dalam loyalitas kita bisa meniru Malaikat, dalam berbuat, begitu juga menulis, kita menjadi manusia, manusia dengan kebebasan pilihan. Orde Baru membuat kalimat bagus: Kebebasan yang bertanggungjawab.
Menulis, karena itu, disamping bisa menjadi pilihan, adalah pula alat syiar, pengabdian, ladang amal, atau aplikasi tugas kemanusian dalam kandungan jalan Ilahi. Tidak mengapa pula, bila baru taraf sekadar ‘keperluan’ diri semisal menuangkan pikiran agar selalu sehat. Katarsis. Atau, dengan niat untuk berbagi bagi sesama. Bagus saja. Menulis, untuk kepentingan diri, berbagi sesama makhluk, atau … ini tingkat paling tinggi … meraih ridha Ilahi.
Dalam pada itu, sungguh menyamankan. Pada bentangan ranah kebebasan tersebut, tidak usah pula didenda takut berkepanjangan. Apa sebab? Allah SWT menydiakan mekanisme maaf, minta ampun, tobat manakala terjadi kesalahan. Bahkan, apabila berinisiatif, dengan niat baik, akan mendapat pahala pada grade satu, sekalipun salah. Berniat dan melakukan perbaikan, pahalanya lebih mengairahkan. Wuih asyiknya.
Mari Saudara-Saudara, mari menulis. Mari kita ‘kerjain’ Malaikat pencatat kebaikan sibuk, kalau perlu sampai ‘bosan’ mencatat makna kebaikan tulisan. Mana tahu, sepersekian menjadi kenyataan. Mata tahu, lho. Masyak sih berharap saja tidak boleh.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 21 Oktober 2009.













7 Responses to “Menulis Meniru Malaikat (4.8)”
By Wempi on Oct 23, 2009 | Reply
sekalian ‘mengerjai’ iblis penggoda. sampai puyeng strategi apa lagi yang harus digunakan.
By M Mursyid PW on Oct 24, 2009 | Reply
Konon menulis merupakan tingkatan keterampilan berbahasa tertinggi. Merangkai kata-kata agar enak dibaca seperti tulisan pak Ersis butuh latihan yang continue. Setidaknya jika yang kita tulis tentang kebenaran, Insya Allah orang akan membaca dan kita berhasil membuat Malaikat pencatat amal baik sibuk seperti yang p. ersis bilang.
Salam dari Pekalongan.
By izmoend on Oct 25, 2009 | Reply
Pena (untuk jaman sekarang keyboard)seperti keris bermata dua
By masnur on Oct 25, 2009 | Reply
Saya menulis masih sekedar menuangkan isi pikiran dari pada liar nggak tentu arah. Dengan ditulis maka memaksa pikiran liar tersebut menjadi terarah karena tahu sebentar lagi akan dibaca banyak orang.
Menulis demi kebaikan…InsyaAllah…
By Khairuddin syach on Oct 25, 2009 | Reply
Kebebasan yang bertanggung jawab
Setuju Kang ersis…
salam hangad selalu
By oeban on Oct 25, 2009 | Reply
segala sesuatu ada waktu2 dan tempat2nya, begitu juga menulis. bahkan wahyu Tuhan sekalipun, ketika sampai kepada manusia dalam tampilan2 para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah ummat manusia. Hanya saja mereka, para Nabi dan Rasul, menyampaikannya dalam keadaan -menyeru dalam “ketiadaan diri”-
By membeli emas on Oct 27, 2009 | Reply
Judul dan tulisannya bagus.