Menulis Melawan Diri (4.7)
21 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |KEPRIBADIAN. Setiap hari, bahkan boleh jadi setiap helaan nafas, kita mengimput berbagai hal. Dalam dunia pendidikan, manusia sebelum lahir ‘sudah belajar’. Pada perjalanan kehidupan kita menjadi pribadi, individu lain dari yang lain. Psikolog melabeli dengan personality (kepribadian). Kepribadian dibentuk dari: pengetahuan, perasaan, dan naluri.
Artinya, kepribadian adalah hasil bentukan, kombinasi antara yang ‘dari dalam’ dengan yang di dapat ‘dari luar’. Begitulah, apakah dirujukan pada gen atau DNA, pokoknya apa yang dari dalam diri mempengaruhi kepribadian. Begitu pula keluarga, pendidikan, agama, lingkungan sosial dan seterusnya. Dengan kata lain, kepribadian sesorang tidak terbentuk begitu saja. Pembentukkan kerpribadian merupakan proses kehidupan, sejalan kehidupan itu sendiri.
Raja Tipu
Bukan tidak mungkin, melihat penampilan seseorang berpakaian rapih, berkata lemah lembut, suka bederma, dan dal-hal positif lainnya, menimbulkan simpati sampai kekaguman. Lalu kita baiat sebagai pemimpin. Apa lacur, ternyata orang yang kita elu-elukan adalah Raja Tipu.
Supaya jangan suudzon, lihatan dihujam pada diri sendiri. Pada galibnya yang diimput untuk diri adalah hal-hal baik; belajar yang baik, meinternalisasikan kebaikan, dan atau hal-hal positif. Tapi, saudara-saudara. Pada proses tersebut bukan tidak mungkin terikut hal-hal negatif. Tidak percaya?
Pindai hal sederhana saja. Apa yang Sampeyan maksud dengan alat vital? Anu kan? Ternyata, kalau ‘pentungan’ dipotong, tidak apa-apa. Tetap hidup. Tapi, coba potong jantung. Begitu pula liver atau paru-paru. Itu baru alat (hidup) vital, alat vital.
Mau contoh konyol? Perhatikan guru, dosen, atau atasan Sampeyan. Seenak udel saja: Absensi sudah ditandatangani? Ketajaman pengetahuannya kurang. Absensi artinya ketidakhadiran alias daftar orang mangkir. Mereka yang hadir disuruh menandatangani daftar kemangkiran. Tepatnya, banyak hal-hal sepele sampai teramat serius yang kita input, dipahami sebagai ‘kebenaran’, padahal perlu dikoreksi. Banyak hal harus disken, tidak cukup didefrag saja. Apa hubungannya dengan menulis?
Sken Diri
Melakukan kajian diri, introspeksi, banyak hal buruk ditemukan. Kalau Sampeyan mungkin lebih mujur, tidak banyak kerak-kerak negatif. Kalau saya memang bukanlah orang sukses membangun diri sebagai manusia baik. Misal, orang yang menyesali diri. Kenapa tidak bisa begini-begitu. Setelah introspeksi mendapat diri berkekurangan. Diterima apa adanya. Berdamai dengan kekurangan, dengan kebodohan, dan bla-bla. Wong dasar goblok kok mengaku hebat.
Coba perhatikan, banyak tulisan saya bermuatan ‘pengakuan’ kebodohan. Kebodohan atau hal-hal negatif diri diniatkan untuk dirubah, tidak menyesali masa lalu, dan berusaha —soal berhasil atau tidak urusan lain— memperbaikinya. Dan … setelah ditulis mengantar kelegaan di sanubari. Menulis mengikis kerak-kerak diri. Ya, menulis melawan kebodohan atau kekurangan diri. Itulah penopang kumandangan: Menulis belajar, menulis menjadi manusia pembelajar.
Bahwa ada orang yang mengatakan, menulis adalah narsis(isme), terserah. Yang penting, bagi saya, menulis memindai hal-hal positif, setidaknya tentang yang baik, untuk dijadikan pengingat. Atau, kalau ada hal-hal buruk, jadi pengingat agar jangan melakukan keburukan. Oi … itu kan tulisan. Ya, iyalah. Apa yang ditulis memang tidak mesti sama dan sebangun dengan apa yang dilakukan. Setidaknya panah disasarkan ke arah itu. Bukankah niat baik tancapan langkah bagus?
Pak, menulis itu kan pamer pengetahuan, pamer ilmu? Pak, menulis itu kan berbagi? Atau, apa begitu. Boleh saja. Terserah pandangan masing-masing sesuai kepribadian. Bagi saya menulis itu, ya menuangkan pikiran, belajar, dan bla-bla. Kalau pemaknaannya nanti bergeser, bagus-bagus saja.
Karena itu, tidak ada salahnya kalau menulis dipahami sebagai melawan diri, melawan keburukan atau kebodohan diri. Kalau Sampeyan merasa sudah sempurna, sudah menjadi manusia paripurna, tidak usah belajar, tidak usah menulis. Menulis biarlah menjadi kebiasaan mereka yang berkekurangan.
Sekali lagi, mari menulis, menulis, dan menulis. Belajar, belajar, dan terus belajar. Bukankah Allah SWT menitahkan agar belajar sepanjang hayat?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 21 Oktober 2009.













4 Responses to “Menulis Melawan Diri (4.7)”
By suryaden on Oct 21, 2009 | Reply
gimana caranya berguru tanpa guru pa EWA,… atau saling menggurui atau saling belajar gitu saja lah mungkin ya..
By Hery Azwan on Oct 22, 2009 | Reply
Akur, Pak. Kalau sudah sempurna tak usah menulis lagi. Biarlah kita yang berkekurangan ini terus menulis untuk memperbaiki kekurangan kita. Hidup menulis…
By oeban on Oct 22, 2009 | Reply
met nulis deh pak, banyak pembaca di sekeliling kita yang beragam keadaan dan latar belakangnya. ketika dihadapkan kepada mereka, slogan atau rumusannya bisa berpindah menjadi “menulis adalah mereka bukan diri kita.”
By Siti Fatimah Ahmad on Oct 23, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum
menulis mendidik diri menjadi manusia berilmu. Melawan sifat malas dan memberi peluang untuk kita lebih bersifat terbuka dalam membicarakan sesuatu isu. salam hormat.