Menulis Hidayah Allah (4.6)
19 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |BEKAM. Seorang teman terkagum-kagum. Seorang teman mengalami kemajuan spritual dahsyat, terlihat dari tindak religiuliatasnya. Malam Minggu, seperti biasa kami berkumpul bergantian di rumah teman-teman, sesama mahasiswa program doktoral UPI Bandung. Kami mendiskusikan rintisan bisnis. Gagasan saya untuk menghilangkan jenuh, kenapa tidak berbisnis?
Si Teman, alumnus S2 UGM, nampaknya praktik agamanya lumayan bagus. Nun, di Ternate sana dia sebagai Dai, plus piawai Bekam, praktik pengobatan ala Rasulullah. Teman-teman sudah merasakan manfaatnya. Sembari membekam menitip dakwah. Bagaimanapun kami rawan stres. Bukan soal membaca buku atau mengerjakan tugas kuliah saja yang mendenda, terberat meninggalkan keluarga. Hidup adalah ‘perlawanan’ dan perjuangan.
Bisnis Translet
Begitulah. Kami sepakat menanam modal masing-masing Rp.500.000,00. Modal untuk mengontrak kamar (soal realisasi soal nanti, he he). Dan, … karena banyak usul ini-itu, kami sepakati, usaha dimulai dari dua hal, Bekam dan Jasa Terjemah. Terjemahan?
Apa boleh buat. Sekalipun sudah merdeka lebih 60 tahun, sekalipun tidak terhitung dosen bersekolah ke luar negeri, kenyataannya buku-buku yang dipakai 90% berbahasa Inggris. Jurnal-jurnal ilmiah hampir seluruhnya dalam bahasa Inggris. Menyedihkan, masih banyak yang tidak mampu mebaca teks bahasa Inggris. Ya, solusinya diterjemahkan dulu baru dicerna untuk tugas-tugas perkuliahan. Seorang teman jago bahasa Inggris, dia mengambil Master di Amerika Serikat.
Entah kenapa, dari dua kesepakatan mengambil tali hubungan dengan menulis. Pertama dari teman yang, mana tahu, mendapat hidayah hingga pikiran dan hatinya ‘kembali’ ke jalan lurus, jalan sebagaimana digariskan Allah SWT. Sesuatu yang saya rindukan, tetapi sampai hai ini terlalu dungu, banyak alasan untuk melakoni. Semoga Alllah SWT menurunkan hidayahNya. Amin.
Kedua, melampiaskan ‘dendam’, menggugah diri menulis. Masyak sih hidup selamanya digadaikan sebagai agen pikiran asing? Merasa hebat kalau membaca beberapa buku, mempelajari dua atau tiga teori, berbusung dada, intelektual. Puih … emang Indonesia bisa dibangun dengan teori, dengan dongeng?
Meraih Hidayah
Perjalanan kuliah ke Bandung kali ini dimaknai sebagi hidayah. Ketika tes masuk, diberi tahu pihak fakultas pukul 11.00, pada jam 12.00 langsung tes sampai tengah malam. Tanpa persiapan. Alhamdulillah lulus, diterima di regular, dapat beasiswa BPPS, dan bebas TOEFL. Padahal, puluhan tahun berniat tidak terealisasikan. Kini, mendapat jalan mudah.
Sebagai manusia sifat loba tidak terhindarkan. Saya mau lebih dari itu. Memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menulis, bahasa agamanya mungkin, hidayah. Maha Besar Allah, disela-sela kuliah mampu menulis, diantara mengejakan tugas kuliah, menulis. Apalagi di waktu luang. Kalau kualitas tulisan, terserah pembaca saja.
Puncak doa adalah: “Ya Allah, lapangkan jiwa hamba, gerakkan qalbu, lempangkan pikiran agar hamba menjadi manusia sebagaimana Kau titahkan”. Jujur saja, sampai hari ini hidayah belum direngkuh. Kealpaan masih bergayut nyaman. Barangkali, karena tidak total berupaya meraih hidayah.
Alangkah nyamannya manakala meraih hidayah sebagaimana didapat Sang Kawan. Membayangkan saja menyamankan. Apalagi, mendapatkan. Tiba-tiba ada teguran: ”Loe tingal lakukan, bukan berpikir atau merenung. Lakukan, do it”. Tanda-tanda hidayah? Entahlah. Saya terlalu bodoh untuk memaknai. Semoga proses kehidupan menuju ke penyadaran. Amin.
Yaps, soal bisnis bunga-bunga kehidupan. Tugas utama menyelesaikan kuliah, menangguk makna ilmu, menikmat hikmah pengetahuan. Menulis adalah jalan bercula, menjadikan pembelajar, dan syukur menjadi penular syiar kebaikan.
Menulis meraih hidayah adalah upaya, menuliskan hidayah, mana tahu beberkah. Hidup bukanlah sekadar hidup, hidup dan kehidupan akan bermakan manakala isiannya bermuatan makna. Meraih makna adalah kehidupan itu sendiri seperti memaknai hidup dan kehidupan. Hidup bermakna itulah hidayah.
Ya, Allah Yang Maha Pengasih, terlalu banyak yang Kau berikan, terlalu banyak yang kami lupakan. Bagaimanapun limpahkan hidayahMu. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Bandung, 19 Oktober 2009.













5 Responses to “Menulis Hidayah Allah (4.6)”
By Wempi on Oct 19, 2009 | Reply
“Ya, Allah Yang Maha Pengasih, terlalu banyak yang Kau berikan, terlalu banyak yang kami lupakan. Bagaimanapun limpahkan hidayahMu. Amin.”
itu namonyo masuak talingo suok kalua talingo kida, indak ado nan tingga.
By HE.Benyamine on Oct 19, 2009 | Reply
Meraih hidayah … satu di antaranya ya … menulis, menulis, dan terus menulis.
By sawali tuhusetya on Oct 19, 2009 | Reply
loh, pak ersis kuliah lagikah? doh, saya ketinggalan banget nih!
By Siti Fatimah Ahmad on Oct 20, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum
Mudahan berjaya Tuan Ersis, saya tumpang bangga dengan semangat belajar sepanjang hayat yang dimiliki. Saya juga berharap dapat sampai ke tahap itu pada masa akan datang. Insya Allah. Ya… tentu sekali menulis itu sebahagian dari kurnia Allah kepada manusia. Salam mesra selalu.
By Imi on Nov 1, 2009 | Reply
Pak, katanya hidayah itu dicari. Allah sdh mberikan kpd semuanya, tinggal manusianya mau mengambil atau tidak, sprti sinar matahari, mau diambil atau tidak, manfaat dari sinar matahari itulah taufik.
Begitu ga pak?
Trimakasih,
Wassalam.