Menulis Maaf-Memaafkan (4.5)

18 October 2009 | Ditulis oleh: ewa |

HOMESICK. Kalau mendapat perlakuan kurang berkenan, ya diterima saja. Mungkin, karma dosa-dosa sewaktu muda. Bulu kuduk berdiri mendengar kisah ‘kepasrahan’ seorang teman. Kematangan menerima kenyataan menggugah kesadaran dan kesabaran. Apalagi, menjelang pulang ke Tanah Air setelah menyelesaikan program Master di Amerika Serikat, dalam satu tabrakan lima temannya meninggal. Dia selamat dengan beberapa ‘cacat tubuh’.

Bisa jadi, karena mengalami peristiwa begitu traumatik, mentalnya terjaga. Saya kalah jauh. Mengelola homesick saja kelabakan. Ada kawan yang depresi, tidak sedikit yang stres ringan. Kuliah, setidaknya begitu yang dirasakan, bukan saja soal belajar, hal paling berat memenej ranah psikologis. Berat. Sungguh berat kalau jiwa, semangat, tekad tidak tangguh.

Memantapkan Menulis
Terlepas dari itu, sebelum berangkat mengikuti program doktoral menaman niat, tidak akan abai menulis, menulis mengasah kemampuan. Kuliah dimaksudkan untuk ‘mendandani’ pengetahuan dan menimba hal-hal baru agar lebih bermakna. Apa hubungan korelatif langsung dengan kuliah?

Itu dia. Cara kita memperoleh pengetahuan, bak pepatah lama, tidak satu jalan ke Roma. Sekolah formal merupakan cara formal. Kalau mau yang sesuka hati, ya otodidak. Saya berusaha mengabungkan dengan ‘pangkatan’ sekalian menulis. Sudah jadi tekad, tugas-tugas dijadikan karya tulis sampai menjadi buku. Namanya saja mau, kalau tidak tercapai, minimal sudah diniatkan. Kalahnya tidak total.

Karena itu, memulai dari hal dasar. Melayari aktivitas menulis mendapat keyataan, pengetahuan cilik mentik, daya analisis seadanya, apalagi dalam pemaknaan. Diperlukan pisau analisis lebih tajam agar anyaman kata lebih berotot. Sadar diri berkekurangan. Untuk itu memaafkan diri. Selama ini menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk hal-hal yang tidak jelas.

Ya, memaafkan diri dan menempatkan pada titik nol rupanya menjadi kekuatan luar biasa. Saya ingat ‘ajaran’ Ari Ginanjar dalam ESQ Training, berserah diri pada Allah secara total, Laillahaillah, daya geraknya luar biasa. Pada posisi demikian potensi diri mengembang tak terhingga, dalam naunganNya. Subhanallah.

Sejuk Raga Sejuk Qalbu

Allah Maha Pemaaf. Masyak sih kita tidak mau memaafkan diri sendiri. Masyak kita tidak mau memaafkan kesalahan-kesalahan sendiri. Emang lebih hebat dari Yang Maka Kuasa? Yang benar aja Bro. Tapi, tentu ada tapinya. Apa itu?

Memaafkan diri berawal dari penyadaran setelah mampu memindai, mendeskripsikan kesalahan melalui proses introspeksi. Kalau memancang bendera, selalu benar, apa yang diperbuat dipahami benar-benar saja, tentu tidak mungkin proses pemaafan terjadi. Orang yang sombong pada dirinya tidak akan pernah tahu kesalahannya dan mustahil memaafkan diri. Wong yang dilakukan benar kok, kebenaran.

Kalau pemaafan diri telah berproses melangkah ke etape kedua, memaafkan keluarga, istri, anak, terus orang tua saudara sedarah dan seterusnya. Pada tataran demikian, geliatnya dimulai dari meminta maaf, baru memaafkan. Kenapa?

Relasi kehidupan luar diri masuk ranah sosial, hubungan antar pribadi sampai kelompok. Misalnya, melalui tulisan ini saya minta maaf pada siapa pun atas salah-khilaf berpilin memaafkan siapa pun bilamana pernah melakukan salah. Maaf dan memaafkan hanya berujung pada satu hal, kelegahan hati, kenyamanan rasa, dan ketenangan batin. Allah saja mahapemaaf masyak kita tidak mau dan tidak mampu memaafkan diri dan sesama. Lalu kaitannya dengan menulis?

Maaf, saya memaknainya agak ‘aneh’. Menulis menuangkan pikiran, tulisan cermin diri, dan dengan demikian apabila dipahami secara tepat, tulisan adalah pengingat. Setidaknya, proses penyadaran yang tergambar menjadi pengingat hingga kita tidak lupa telah ‘menemukan’ sesuatu. Tulisan buku kehidupan. Pelajaran untuk diri sendiri, syukur bermanfaat bagi sesama.

Logikanya, bukan seperti banyak dianut orang: “Loe menulis doang, perbuatan jahiliyah. Tidak selaras antara apa yang ditulis dengan yang diperbuat”. Ya pahami ‘cacian’ sebagai pengingat, maafkan yang menghina, dan jadikan sebagai acuan penyadaran. Buat ringkas dan bermanfaat. Apabila cerdas sudah melekat, timpaan keburukan bisa jadi bermakna bagi perbaikan diri, penyadaran diri. Alhamdulillah.

Menulis adalah proses meraih hikmah, melatih kebijakan yang, kalau on the track, bermuara kebaikan. Kearifan memang tidak didapat dari kata-kata, tetapi kata-kata memotivasi banyak orang untuk arif. Meminta maaf dan memaafan, bukan saja kearifan sosial, tetapi terlebih dia datang dari Yang Maha Kuasa, Maha Pemaaf. Dialah Allah SWT.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Bandung, 18 Oktober 2009.

  1. 8 Responses to “Menulis Maaf-Memaafkan (4.5)”

  2. By masichang on Oct 18, 2009 | Reply

    menulis bagi saya hanya apresiasi diri pak. belum smape pada pencpaian sameyan.. masih jauh, tapi dengan menulis seperti ada warna merah dalam hitamputih perjalanan hidup ini pak.

  3. By Wempi on Oct 18, 2009 | Reply

    Talenta tidak akan tergali tanpa mengembangkan intelligence, emotion dan spritual quotient.

    Bagaimana menurut Sampeyan? :lol:

  4. By Wempi on Oct 18, 2009 | Reply

    wah, komen wempi ketangkep satpol pp.

  5. By Ria on Oct 18, 2009 | Reply

    homesick itu bikin kesel…apalagi diriku udah hampir7 bulanan gak pulang pak :)

    biasanya menulis itu salah satu pelepas homesick, sambil memantapkan menulis, ngilangin homesick dan menjadikan raga danqalbu sejuk… :D

  6. By genthokelir on Oct 18, 2009 | Reply

    wah maaf pak Ersis lama nggak silaturahmi kesini karena kegiatan di luar rumah jadinya susah online tulisan tulisan saya juga terpaksa jadi susah muncul di web dan menumpuk jadi draf di laptop
    salam untuk keluarga besar Pak Ersis di Kalimantan

  7. By suryaden on Oct 19, 2009 | Reply

    menulis laksana menuang emosi di ladang kepasrahan…

  8. By HE.Benyamine on Oct 19, 2009 | Reply

    Dengan menulis … akan lebih terbuka pintu maaf memaafkan, begitu ya Pak maksudnya?

  9. By Siti Fatimah Ahmad on Oct 20, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Dengan ini, saya ingin memohon maaf kepada Tuan Ersis, jika ada bahasa dan perkataan saya dalam penulisan di laman ini, menyentuh hati tanpa saya sedari.. Alhamdulillah, indahnya menulis sambil memohon maaf. lagi indah jika kemaafan itu disambut.. Salam mesra dari UKM, Bangi.

Post a Comment