Perantau Kasih Allah (2.2)

27 September 2009 | Ditulis oleh: ewa |

PERANTAU. Setiap usai Ramadhan, saat diri (merasa) meraih kemenangan, mampu menundukkan hawa nafsu, berpuasa, sampailah saat silaturrahim, bermaaf-maaf sesama manusia. Tapi, adakalanya sedih menyelinap ke relung hati, menguncang jiwa, menggempakan sedih. Air mata mengucur tanpa disadari. Ada apa sih?

Bagi yang bukan perantau, tentu agak susah memahaminya. Saya mengalaminya puluhan tahun. Karena itu, apabila sempat berlebaran di kampung, Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat, duh … diri serasa lengkap. Bertemu asal-muasal darah, saudara sedarah, dan talian darah. Begitulah nasib perantau.

Tetapi, ingat. Kita adalah perantau sejati. Perantau menuju ‘Tanah Akhirat’. Kehidupan dunia tak lebih tak kurang medan mengumpulkan bekal. Allah memberi kita medan ujian dan media pengabdian, di dunia ini.

Rantau Pengabdian
Merantau dunia dibanding merantau dalam pengertian kehidupan sosial tentu tidak sebanding. Rindu pada kampung dunia, kenapa dirasa lebih berat dari rindu ‘Kampung Abadi?’. Ah, agak terlambat memahaminya. Alhamdulillah hati masih ditegur, diingatkan Allah SWT. Kita wajib ‘meramaikan’ dunia, sewajib mempersiapkan kehidupan akhirat. Mampukah?

Terbayang Amak (Ibu) di kampung yang kini berumur sekitar 80 tahun, dan bapak yang mendekati 90. Alhamdulillah, selain ketuaan, Beliau sehat. Ah, … pertama-tama rasa merasa berdosa terbangkitkan.

Betapa tidak. Menjelang Idul Fitri, mohon maaf belum bisa mengirim uang. “Pak, Bapak jual emas dulu”. Sejak Ibu-Bapak memasuki hari tua saya ‘menitip’ emas; mulai dari cincin, rantai, sampai ringgit (kebanggan Ibu-Ibu di Minangkabau). Mana tahu tidak sempat mengirim uang bulanan atau  Amak-Apak memerlukan dana. Cara kuno orang miskin memperhatikan orang-tua.

Saat menulis ini, rasa sesal masih menghantui diri. Apa boleh buat, saya masih memprioritaskan yang lain. Maafkanlah anakmu yang malang ini. Belum punah sesal, tiba-tiba bulu kuduk berdiri. Ternyata itu belum seberapa. Ada hal lebih besar yang terabaikan.

Renungan Ramadhan berbuah, mengabaikan ortu, mengabaikan Allah SWT. Ternyata, bacaan tentang Rasulullah belum terpraktikkan. Diri ini begitu hina. Perantau hina dina di rantau pengabdian.

Perantau Kasih Sayang
Terbayang betapa semasa kecil menyusahkan Orang tua. Kalau berkumpul dengan keluarga besar, Apak bercerita: “Mak (paman) Ersis, nakalnya luar biasa. Datuk (kakek) pernah masukan karung”, katanya menurunkan kisah. “Tapi”, saya suka tapinya itu. “Mak Sis tidak pemalas. Orangnya sangat pintar. Rajin membaca. Telinganya lebar seperti Datuk”. Duh bangganya dipuji Apak.

Di pelabuhan Teluk Bayur Amak memberi seuntai kalung: “Nak, gunakan untuk menyelamatkan sekolahmu. Kalau-kalau kami tidak bisa mengirim uang”. Momen yang tidak akan pernah terlupakan saat berangkat ke Jogja. Ya, Mak. Anakmu akan selalu membaca, dan membaca. Kini, ditambah menulis. Semoga menjadi ladang amaliah bagi Amak jo Apak. Amin ya Rabbal Alamin.

Di rantau, karena itu saya memahami falsafah Minang: ‘Kalau mencintai Minangkabau, merantaulah’, menapak tilas kehidupan kecil. Lakonan utama hanya menerima, menerima, dan menerima. Waduh … ternyata itu belum seberapa. Kecil saja.

Pernahkan terpikirkan Allah SWT memberi kita udara yang tiap hari dihirup? Bumi ini sebagai tempat kehidupan, dan rizki-rizki yang kita anggap hak kerja kita, bahkan nyawa yang kalau dicabutnya membuat wassalam seketika. Pernahkan? Kalau pernah, seberapa menghentak jiwa? Ah, kasih sayang Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kita wajib mencerna, memahami, dan memaknai. Ar-Rahman dan Ar-Rahim tiada bertepi.

Malam hari pandangi bulan berkerlap-kerlip, berkedi-kedip di kejauhan yang tidak terkirakan, mengingatkan akan Ilmu Allah, begitu akbarnya ciptaanNya. Sudahkah menangkap tanta-tanda kebesaranNya? Diberinya kita kehidupan, yang anehnya terkadang dianggap sebagai hak asasi, padahal sekadar limpahan kasih sayang Allah SWT semata.

Alhamdulillah. Seusai Ramadhan mendapatkan pencerahan, ada yang terabai, kasih sayang Ibu-Bapak, kasih sayang Allah SWT barulah mampu diterima, belum dibalas dengan pengabdian. Semoga Allah melapangkan hati, menjernihkan qalbu, melempangkan pikiran, meluruskan jalan kepada kewajiban insani, Mengabdi Ibu-Bapak, mengabdi Allah SWT. Hidup adalah pengabdian. Insya Allah.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 25 September 2009.

  1. One Response to “Perantau Kasih Allah (2.2)”

  2. By Siti Fatimah Ahmad on Sep 27, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum…

    Kerana kasih sayang itulah, manusia sanggup berkorban apa sahaja. Kasih sayang yang disuburkan dalam kehidupan manusia meningkatkan semangat untuk saling kenal mengenal, saling bantu membantu dan saling pesan memesan untuk kebaikan. Didoakan kedua ibu bapa tuan Ersis sentiasa berada dalam lindungan rahmat Ilahi dengan keberkatan umur dan ibadah yang berterusan. Salam hormat dari UKM, Bangi.

Post a Comment