Menulis Perintah Rasulullah (2.4)

27 September 2009 | Ditulis oleh: ewa |

TULIS. Setelah surah pertama diturunkan melalui Malaikat Jibril di Gua Hira ayat-ayat Allah SWT diterima Muhammad secara proporsional. Semakin hari semakin banyak, dan Muhammad menyampaikan firman Allah SWT kepada sahabat. Lalu apa selanjutnya?

Tibalah saatnya Rasulullah ‘memerintakan’ menuliskan ayat-ayat tersebut. Bukan saja karena penghapal Al-Quran banyak yang meninggal, agar kemurniaan Al-Quran terselamat dari para penyampai kabar pendusta, tetapi dalam kaitan menulis, dapat kita pahami sebagai media penyampaian paling efektif.

Rasululah ‘memerintahkan’ Sahabat menuliskan Al-Quran. Esensi makna menulis ditanamkan Rasulullah. Makna hakiki menulis diterjemahhkan dengan kalimat sangat manis oleh Ali bin Abi Thalib: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Membaca dan Menulis
Perlu kita ingat: Perintah pertama Allah SWT, membaca, membaca, dan membaca. Perintah kerasulan Muhammad SAW, menulis, menulis, dan menulis. Pembaca jangan membelokkan dari perintah keimanan. Penarikkan ke membaca dan menulis dalam kandungan keinginan penulis buku ini, menajakkan betapa pentingnya makna membaca dan menulis.

Bayangkan, masa kehidupan Rasulullah dilihat dari persefektif teknologis, masih bersahaja. Menulis bukan memakai media mesin tik atau kecanggihan komputer, tetapi cukup di pelepah koma, tulang-tulang binatang, atau pada batu-batu. Perintah itu dilaksanakan para Sahabat dengan riang gembira.

Dari sejarah Al-Quran, setelah melalui proses yang ketat, penulisan Al-Quran sampai seperti yang kita kenal sekarang. Hal tersebut tidak lain tidak bukan, karena ditulis. Dan … kita dapat membaca dengan nyaman. Buah paduan aplikasi perintah Allah SWT, membaca, dan perintah Rasulullah, menulis.

Tidak heran, ulama-ulama besar, semisal Al-Gazali atau Muhammad Arsyad Al-Banjari, adalah pendekar-pendekar Islam yang mengamalkan perintah membaca dan kemudian kepemilikan ilmu ditulis. Para ulama besar berpegang teguh pada perintah Allah SWT dan Rasulullah mengamalkan, membaca dan menulis. Alhamdulillah, dengan demikian, syiar Islam tersebar luas dan dapat didalami dengan membacanya.

Malas Menulis
Galib dalam pendidikan akademis, bila kita belajar ilmu, terutama ilmu keduniaan, hampir dapat dipastikan, belajar dari tulisan (karya) penulis ‘Sono’. Padahal, ya padahal lagi, tidak usah dipelajari secara radiks bahwa ilmu itu berasal dari Allah SWT, ‘pengembang’ ilmu dunia itu justru dari kalangan Islam. Membaca pemikiran Barat yang konon berakar dari ‘sari pati’ dongeng-dongeng bangsa Yunani Kuno, sebenarnya kalau tidak ditulis Ibnu Rusyid dan generasinya, pengetahuan itu akan punah.

Bila dibaca dan direnung, bagaimana kiprah Ibnu Sina dan selevelnya adalah pendekar-pendekar keilmuan Muslim. Runtuhnya kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol), rupanyan juga membawa runtuhnya roh keilmuan bebasis Islam. Hingga, kiblat keilmuan beralih, dan kita merasa, apabila tidak merujuk ke Barat, semua hal tidak afdol. Apa sebab?

Bisa jadi karena kita telah mengabaikan dua hal. Pertama, perintah Allah SWT, membaca, membaca, dan terus membaca. Hal tersebut dilengkapi dengan keabaian kedua, menulis, menulis, dan terus menulis.  Tesis tersebut benar atau tidak, saya belum menelitinya. Logika sederhana saya menyimpul demikian.

Bulu kuduk berdiri membaca buku ‘Aidh Al-Qorni: Al-Islam wa Qodohoyal ‘Ashr (Memadamkan Matahari: Membongkar Tipu Daya Musuh Alloh dalam Upaya Meredupkan Cahaya Islam). Kita terlena. Pada bagian bahasan Al-Gazali sentuhannya semakin dalam.

Sekalipun ada kesan ketidaksepahaman dengan Al-Gazali, Al-Qorni tidak mencela membabi buta. Bahkan, ada bagian yang dapat kita jadikan sebagai pegingat kesukaan perbantahan atau bahkan pembantaian sesama Muslim, sekalipun berbeda aliran. Sesama seiman main hajar, kalau musuh sesungguhnya diagung-agungkan.

Al-Qorni, seperyi juga Al-Gazali, adalah pemaham Islam yang menuliskan pikirannya. Semoga, walau sedikit, ibarat sebutir zahra, ada baiknya manusia-manusia hebat tersebut kita tiru, membaca dan menulis.

Ya, mari menulis, menulis, dan terus menulis. Tinggalkan, atau kurangi ‘membantai’ sesama sepaham. Kalau ada yang kurang berkenan, tidak sepaham, jangan ‘membunuh’. Menulis adalah proses pembelajaran. Karena itu jangan takut belajar. Belajar membaca dan menulis adalah perintah Allah SWT dan Rasulullah.

Kapan ya kita meninggalkan perselihan hanya karena ‘melihat bulan’, sementara orang sampai ke bulan. Dan, … hati-hati sebelum ilmu-ilmu Allah SWT diklaim sebagai ‘milik’ para cendekian tertentu dari Sono, atau diklaim negara tertentu he he.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 27 September 2009.

  1. 5 Responses to “Menulis Perintah Rasulullah (2.4)”

  2. By Siti Fatimah Ahmad on Sep 27, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum

    Alhamdulillah, setiap hari saya menulis, menulis dan menulis. Juga membaca, membaca dan membaca. Tulis dan baca harus disertakan dengan pengertian dan maksud yang dalam agar kita faham apa yang ditulis dan apa yang dibaca. Mudahan Allah swt meredhai apa yang kita lakukan untuk perkongsian ilmu buat semua di dunia jagat ini. Salam mesra selalu.

  3. By erry on Sep 28, 2009 | Reply

    Tersindir…akhir-akhir ini kendor membaca dan menulis, hiks..terima kasih sudah “mengompori”. ..btw..sudah lama tidak berkunjung ke blognya P.EWA..kangen juga..hehehehe

  4. By he benyamine on Sep 28, 2009 | Reply

    tesis itu benar atau tidak …. biarpun logika sederhana yang menyimpulkan, …. yang penting terus membaca dan menulis atau sebaliknya menulis dan membaca.

  5. By rama kumal on Sep 28, 2009 | Reply

    membaca dulu baru menulis,,,,
    jangan jua menulis tarus….
    kenapa kita menulis???karena research…….ujar,,,supaya lebih maju,,,

  6. By Khairuddin syach on Sep 29, 2009 | Reply

    saya juga belum bisa ‘menulis’ kang
    tapi senang membaca artikel dari akang ini

    wassalam

Post a Comment