Membaca Kalam Ilahi (2.3)
27 September 2009 | Ditulis oleh: ewa |BACALAH. Di Gua Hira’ Muhammad didatangi Malaikat Jibril ‘membawa’ firman Allah SWT. Jibril meminta Muhammad membaca. Muhammad menjawab sembari bertanya: “Apa yang akan saya baca?”.
Malaikat Jibril berkata:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Q.S. Al-’Alaq: 1-5).
Bacalah. Bacalah. Bacalah … dengan menyebut nama Tuhanmu. Tidak usah didiskusikan lagi, perintah Allah SWT kepada kita (manusia beriman) terang-menderang, memerintahkan: Membaca, dan terus membaca, dengan menyebutkan Nama Allah …
Esensi Membaca
Ya, begitu adanya. Allah SWT tidak memerintahkan untuk pertama kali agar bersyahadat atau shalat. Tapi, membaca, membaca, dan membaca. Terlepas dari perdebatan, Rasulullah itu ummi (tidak pandai membaca) atau tidak, setidaknya makna hakikinya, Allah SWT menunjukkan begitu esensialnya makna membaca bagi manusia beriman.
Ya, bagaimana kita akan shalat kalau tidak mampu membaca. Yang benar saja. Risalah kandungannya, membaca adalah keutamaan. Lucu, kalau mereka yang mengaku-ngaku beriman (Muslim) malas membaca, misalnya. Ada saja alasan untuk tidak membaca. Sibuklah, ngantuklah, lelahlah. Alasan. Lalu apa yang dibaca?
Jawaban sederhananya, membaca apa saja. Membaca Al-Quran, wajib hukumnya. Membaca ayat-ayat kauniyah, tidak kalah penting. Untuk memahami kandungan Al-Quran yang unlimetd diperlukan pemahaman melalui ciptaanNya. “Bacalah” alam raya, Bumi, langit, lautan, gunung, air, udara, dan seterusnya. Disitu terdapat Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT.
Kenapa tidak mendengar ya? Itu pasif Bung. Bukan kewajiban individu namanya. Membaca itu belajar, membelajarkan diri. Setiap manusia punya kewajiban individual disamping kewajian lainnya, fardu ain. Coba direnung, kalau kita abai atau mengabaikan Firman pertama Allah SWT, bagaimana kira-kira yang lain. Kewajiban ‘awal’ saja tidak ditunai. Masya Allah.
Menatap Diri
Merenung Surah Al-Alaq, sebagai titik awal pikir, naga-naganya tulisan ini khusus buat mengingatkan diri sendiri. Berbahagialah ikwan yang telah menunaikannya. Saya termasuk orang-orang yang abai. Semoga menjadi pemicu kesadaran diri.
Ya, tiga Al-Quran di ruang baca saya pegang. Alhamdulillah tidak berdebu. Membaca Al-Quran secara tekstual, Alhamdulilah bisa. Makna kandungannya? Nampaknya masih sangat minim. Dulu, di ruang kuliah saya pernah mencandai mahasiswa. “Kalau kamu ngak mau belajar bahasa Arab, Bahasa Al-Quran, omong kosong akan mampu membacanya. Kalau tidak mau belajar, pindah agama saja, he he”. Dia berkehendak membaca Al-Quran tapi beralasan tidak bisa membaca. Emang Allah menurunkan kemampuan berbahasa (membaca) langsung ke jidat?
Itu soal pertama. Bagaimana dengan artinya, tafsirnya? Itu dia. Jujur saja, saya sangat awam. Kini ketakutan, bagaimana kalau tidak sampai umur mempelajarinya. Dasar tidak tahu diri, setengah baya begini pantikan kesadaran baru memantik sadar. Dasar tolol. Pendidikan di PGAN terabai dikembangkan. Mari berpacu dengan waktu.
Selanjutannya, membaca ayat-ayat kauniyah. Puji Allah. Untuk yang satu ini, kemajuan sedang melambai. Memandang bintang, menatap gunung, menikmati awan, mengirim harap. Allah SWT ada dimana-mana.
Jujur saja. Kalaulah tidak ribuan, ratusan buku ‘umum’ dibaca. Bagaimana dengan “Buku-Buku Allah”?. Teledor lagi. Yang berlalu, biarlah berlalu. Perbaiki tindak nyata. Membeli set buku Harry Porter Rp.900.000,00 tanpa perdebatan. Untuk membeli buku spiritual berpikir panjang. Membeli mobil, rumah, sampai uang kuliah, mampu saja, membaca Al-Quran apa susahnya?
Firman Allah yang teraplikasi dalam kehidupan Rasulullah SAW sudahkan dipahami? Abai lagi. Kenapa memilih menonton ‘Suami-Suami Takut Istri’ dibanding ‘Para Pencari Tuhan’? Kenapa anak-anak difasilitasi membaca Doraemon sementara Sejarah Nabi-Nabi nanti-nanti saja?
Dan, ada lagi tanya pantikan? Kalau Muslim diwajibkan membaca, bukankah ada yang ‘bertugas’ menulis, menuliskan Kalam Ilahi? Aha, bagaimana kalau yang terakhir dilakoni sembari mengimbuhi keteledoran-keteledoran dari kewajiban besar yang terabai? Petunjuk dan kemudahanMu ya Allah harapan hamba. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 26 September 2009.













One Response to “Membaca Kalam Ilahi (2.3)”
By Siti Fatimah Ahmad on Sep 27, 2009 | Reply
Dengan membaca manusia boleh mengetahui isi alam melalui ilmu yang diperolehinya. Membaca itu menjadikan manusia seorang yang berisi (ilmu pengetahuan). Berunding menjadikan manusia sentiasa dalam persediaan. Manakala menulis menjadikan manusia seorang yang saksama.