Menulis Kefitraan (2.1)

25 September 2009 | Ditulis oleh: ewa |

LEBARAN. Minggu, 1 Syawal 1428 H, 20 September 2009. Takbir menggema dari menara-menara mesjid, dari lapangan-lapangan luas lokasi shalat Idul Fitri, dari relung-relung hati. Gema kemenangan ‘kemanusiaan’, mengamalkan perintah Allah SWT melatih diri dalam kancah peran akbar, perang melawan hawa nafsu. Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ramadhan bulan penuh berkah, Idul Fitri hari kemenangan, hari kembali ke fitrah, ke kesucian manusia. Manusia yang bergelut dengan keruwetan hidup dan kehidupan yang disucikan dengan ‘mengendalikan’ hawa nafsu, musuh diri manusia. Saat kemenangan adalah saat paling indah ketika manusia kembali menjadi manusia, manusia yang mampu memahami diri dan memahami Sang Khalik. Manusia yang sebelum menjadi telah dititipi sifat Keilahian, Asmaul Husna. Kembali ke fitrah.

Kondisi Terhebat

Pengertian dan pemahaman kita tentang fitrah, kembali ke kesucian manusia bukan dalam pengertian empty, sebab ketika roh ditiupkan setiap kita dibekali Asmaul Husna, sembilan puluh sembilan (99) sifat keilahian, dari Ar-Rahman sampai As-Shobur.

Ramadhan adalah ‘tiket’ penyentak dan penyadar bahwa fitrah kita adalah ke sifat-sifat Allah SWT. Manusia yang terlahir dengan amanah. Tugas kitalah memahami, mengamalkan, dan mengembangkan dalam aplikasi kehidupan nilai-nilai Asmaul Husna. Sikap hidup yang mantap, yang tiada keragu-raguan padanya.

Dalam kaitan menulis, sekali lagi, manakala kita berkeyakinan makna dan berkah Ramadhan dipagut erat, tentu sangat positif bagi sikap menulis. Sebab, kita —Si Manusia— mengembalikan diri kepada Yang Empunya, Yang Memiliki. Menulis dari dan dengan Kalam Ilahi, dengan sifat-sifat Keilahian.

Pembaca jangan sampai memaknai berlebihan. Bukan maksud saya menyerempet-nyerempet waldhatul wujud, menyatukan diri dengan Allah SWT. Apalagi sampai berkesimpulan, yang  menulis itu Allah SWT, bukan kita. Tidak, bukan demikian.

Pemahamannya, kita dititipi sifat Ar-Rahman yang dengan mensucikan diri, setidaknya berusaha demikian, membawa kita kepada yang Ar-Rahman. Bila diri bebas amarah, kita sampai pada yang As-Shobur. Kalau demikian, bukankah semua hal jadi mudah?

Menulis Nurani

Saya tidak terlalu mempersoalkan posisi Asmaul Husna, apakah itu yang dimaksud qalbu, hati nurani, suara hati, atau apa, terserah saja. Berpikir saya sederhana saja, Asmaul Husna adalah potensi berian Allah SWT yang diberikan kepada siapa pun. Tidak peduli dia alim atau pencoleng, berkeyakian atau atheis, pemarah atau pemalas, ataukah suka bergunjing atau memaafkan.

Sebab, keyakinan, dan atau, perbuatan adalah sesudahnya. Itulah kehidupan. Tergantung manusia mengembangkan yang mana. Itu bukan urusan Sang Pencipta. Manusia bebas dengan pilihannya.

Untuk operasionalisasi Asmaul Husana, kepada siapa pun diberikan seperangkat otak berkapasitas unlimeted. Bayangkan, set cairan segenggaman yang beratnya sekitar 1,5 kilo gram tersebut bermuatan 1 triliun sel syaraf (neuron). 100 miliar sel aktif, 900 miliar sel pendukung. Setiap sel mampu berkoneksi 20.000. Sungguh tak terkirakan apabila dioperasikan.

Bayangkan. Sekali lagi, bayangkan, dan tentu akan lebih afdol langsung dipraktikkan, kefitraan yang kita dapatkan dengan ‘latihan’ Ramadhan dipadukan dengan menggunakan neuron, sungguh dahsyat. Apalagi kalau hanya sekadar untuk menulis. Ketika kita menulis pengalaman keseharian misalnya, kita terbebas dari segala belenggu. Dengan latihan menulis, menulis, dan terus menulis, akan membiasakan menulis berakar Asmaul Husna. Ya, katakanlah meniru ‘latihan’ Ramadhan.

Mula-mula berat-berat susah. Wajar. Bukankah hidup dan kehidupan pada hakikatnya adalah proses? Muhammad bukan begitu saja menjadi Rasul Allah SWT, bukan begitu lahir langsung ditasbihkan. Bukan, sekali-kali bukan.  Ada proses ‘pembelajaran’ hingga menjadi cermin bagi manusia, umat Rasulullah.

Dengan kata lain, mari raih’ dan mari transfer kemenangan latihan Ramadhan menjadi pembuka jalan menuju menulis sesungguhnya. Bagaimana caranya?

Lakukan menulis, menulis, dan terus menulis. Menulis adalah proses. Hidup adalah proses dalam gelutan perjuangan menuju ke arah lebih baik.

Semoga Allah lebih melimpahkan rahmat dan hidayahNya lebih dahsyat kepada kita semua. Selamat menulis, Menulis Kalam Ilahai.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 23 September 2009.

  1. 3 Responses to “Menulis Kefitraan (2.1)”

  2. By pakde on Sep 23, 2009 | Reply

    Saya nulis apapun yang berhubungan dengan ied dan ide. 3 huruf yang dirangkai dengan posisi yang berbeza. Ied dan Ide. Semua tertuang dalam suasana Fitrah.

  3. By prizebig.ru on Sep 27, 2009 | Reply

    Thank you very much for that glorious article

  4. By he benyamine on Sep 27, 2009 | Reply

    yap, proses yang tak pernah berhenti, disadari ataupun tidak.

Post a Comment