Godaan Tidak Menulis
17 July 2009 | Ditulis oleh: EWA |CELAAN. Bukan hendak beriya-riya, dengan suburnya tulisan tentang menulis, godaan untuk tidak menulis juga datang bertubi-tubi. Ketika tiga buku saya terbit, Menulis Sangat Mudah (Mata Khatulistiwa, Jogja), Menulis Mari Menulis (Mata Khatulistiwa, Jogja), dan Menulis dengan Gembira (Gama Media, Jogja) seseorang menasihati, cukup sampai disitu. Orang akan bosan membacanya. Saya lawan dengan menulis 10 (sepuluh) buku tentang menulis.
Jangankan memikirkan orang bosan membacanya, orang mau membaca atau tidak saja, tidak dipikirkan. Saya berprinsip, menulis untuk membangkit potensi menulis banyak orang, mereka yang punya mau menulis. Bukan untuk penulis ternama atau ahli teori menulis, atau yang mengaku-ngaku ahli (teori) menulis. Bagi saya teori itu ‘alat bantu’, menulis adalah kenyataan.
Banyak pula yang ‘menggoda’ agar menulis secara teoritik, akademik, dan dengan genre baru. Masyak sih trade mark mau dibuang begitu saja. Saya berpikir, kalau yang lain —termasuk yang mengusulkan— membuat tulisan ‘hebat’ demikian, ya silakan. Saya bisa belajar. Tulisan-tulisan saya dimaksudkan memotivasi, bukan menggurui. Titel blog saya, www.webersis.com, Menulis Tanpa Berguru.
Ada pula yang meneror, tulisan saya tidak ada apa-apanya. Didengungkannya pada perkuliahan, pada diskusi antar ‘sejenisnya’, lengkap dengan bumbu-bumbu super jelek. Ada pula yang menyampaikan, atau barangkali, memanas-manasi. Saya perdulikan? Tidak. Saya memilih menulis. Menulis jelas hasilnya, tulisan dan dapat sumber pendapatan. Ah, godaan sebegitu kecil saja he he.
Sepanjang karir kepenulisan dan memotivasi menulis, sungguh bermacam-macam godaan. Anggap bumbu penyedap. Ambil kepositifan dan manfaatnya. Saya sedang mengedit beberapa buku keilmuan. Dimaki orang, cuekin. Saya bekerja, menulis. Pasti ada hasilnya.
Panah arahannya, apalagi bagi penulis pemula, dinilai tulisan you jelek kek, dicaci maki kek, ditertawakan kek, dihina kek, sebodoh. Dengan menulis, betapapun belum sempurnanya, jalan ke arah lebih baik. Tapi, kalau mencela, yang didapat adalah kemahiran mencela. Mau memilih jalan ke kemahiran menulis atau jago mencela? Terserah. Pilihan Sampeyan yang menentukan.
Artinya, dari awal memasihkan menulis sampai dicap sebagi penulis, godaan agar berhenti menulis dari berbagai orang, hal wajar saja. Biarkan saja, teruslah menulis, menulis, dan menulis. Dengan cara demikian kita akan fasih menulis. Lalu, …. tingkatkan kualitas tulisan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Juli 2009.













5 Responses to “Godaan Tidak Menulis”
By he benyamine on Jul 17, 2009 | Reply
Yap, anggap saja berbagi tugas … yang mencela silakan … yang menulis jangan terpengaruh celaan … karena memang relnya berbeda.
By marshmallow on Jul 18, 2009 | Reply
semua tergantung niatnya toh, pak?
kalau niatnya menyemangati, semangatlah yang dituai. tapi kalau niatnya mencela, celaan pulalah yang didapat. hehe…
By racheedus on Jul 18, 2009 | Reply
Menulis, menulis, dan menulis. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Begitu, ya, Pak?
By Badiyo on Jul 19, 2009 | Reply
Semakin terbuka cakrawala saya. Seorang yang sudah pakar seperti Pak Ersis saja masih ada yang mencela, apalagi saya yang penulis pemula. Terima kasih pelajarannya Pak Ersis.
By DV on Jul 20, 2009 | Reply
Setubuh! Eh setuju!