Calon Penulis Sombong
15 July 2009 | Ditulis oleh: EWA |SOMBONG. Kampanye saya menulis mudah, mula-mula dicibir banyak orang. Sejak buku ‘Menulis Sangat Mudah’ beredar secara nasional, ditambah turunannya sekitar sepuluh buku, barulah ada yang mengamini, menulis tidak sesulit yang dibayangkan.
Bukan hendak membusungkan dada, mindset banyak pembaca Ersis Writing Theory mulai bergeser. Tulis apa yang ada di pikiran, jangan memikirkan apa yang akan ditulis. Memperkokoh ‘kuda-kuda’, ‘kidang barai’ menulis dengan membaca, memanfaatkan alat indera, memeksploitasi pengalaman, dan seterusnya, pada dasarnya diamini. Tetapi, tetap saja ada soalan. Apa itu?
Menulis memang mudah Pak, tetapi menulis yang enak dibaca (emang kue sarabi), menulis yang berkualitas tidak semudah yang Bapak tulis, sulang beberapa orang. Jangankan dikeluhkannya, wong itu pengalaman pribadi saya kok. Lalu?
Latih, biasakan menulis dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Kurangi kesombongan. Baru memulai menulis maunya tulisannya sempurna, sepada tulisan Goenawan Mohammad. Tahu dirilah. Baru memulai maunya menandingi Pramoedya Ananta Toer. Sombong amat sih. Harusnya bagaimana?
Saking sombongnya, kalau menulis tidak boleh salah. Tidak boleh salah ketik, tidak boleh salah tulis nama, tidak boleh salah kalimat, dan bla-bla. Memangnya kalau salah kenapa? Apa salahnya salah kok dosalahkan terus menerus. Padahal, salah itu bermanfaat. Dengan adanya salah kita lebih mengerti yang benar. Salah kok disalahkan. Aya aya wae. Kumaha atu damang?
Artinya, kurangi kesombongan diri. Salah jadikan medan belajar. Kalau salah melulu memang bodoh namanya. Keledai saja ogah masuk lobang yang sama dua kali, begitu menurut perumpamaan. Tidak malu?
Yo opo rek. Kalau menempatkan diri sebagai penulis pemula, kenapa harus malu? Malu itu kan karena mensebandingkan diri (tulisan) dengan tulisan Hamka atau Francois Fukuyama. Nanti ditertawakan, dicaci maki, atau dicekin orang. Ya, biar saja. Kalau tidak ada yang menghargai tulisan Sampeyan, Ersis akan menghargai.
Intinya, dengan mengakui posisi diri, memandang diri dan kemampuan secara proporsional, pikiran dan persaan akan dilapangkan. Angan-angan kesempurnaan itu baik. Tapi, manakala memulai menulis, angan tersebut bisa menjadi belenggu. Bebaskan diri, jangan sombong.
Akhirnya, mari menulis. Fasih jalan karena ditempuh, fasih menulis karena dilakukan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 15 Juli 2009.













7 Responses to “Calon Penulis Sombong”
By DV on Jul 15, 2009 | Reply
Saya merasakan spirit baru dalam tulisan ini, Pak.
Mengijinkan kesalahan terjadi sebagai satu bentuk manusiawi!
Semangat nulis! Nulis! Nulis!
By he benyamine on Jul 15, 2009 | Reply
salah dalam menulis sangat terbuka untuk diperbaiki (baik oleh diri sendiri muapun orang lain) … salah ngomong bisa ngelis
Menulis dapat menjadi media pembelajaran untuk tidak menjadi sombong.
By fandhie on Jul 15, 2009 | Reply
wah bener banget pak…
saya termasuk yang ngga pede karena merasa ga bisa nulis..
seorang temen yg penulis cuma bilang : tulis aja dulu apa yang mau lo ceritakan, ngga usah berpikir macem2… ngga usah berharap dapat pujian dan usah takut dpt cercaan hehehe… yg pentin jadi diri sendiri..
lama2 akan terbiasa…
ya gitulah alhamduliah meskipun blom pintar, skrg dah lebih berani dan sedikit lbh mudah menuangkan pikiran dlm bentuk tulisan. Cuma yah gitu… kualitasnya aja masih kurang kali yah hehehehe
salam blogger
By Ikkyu_san a.k.a imelda on Jul 15, 2009 | Reply
setuju pak…
saya sih tidak pernah berkhayal dan mengharapkan bisa menulis setaraf penulis terkenal. Menjadi penulis pun tidak pernah bermimpi.
Tapi seperti kata Pramodeya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”…. itu terus yang bergaung di pikiran saya sekarang pak. Biarpun salah, tulis terus. Bisa diperbaiki nantinya.Atau bahkan sebagai alat perbaikan.
EM
By Kari on Jul 16, 2009 | Reply
Menjadi seorang penulis juga butuh pembelajaran kan pak!, waktu akan memberikan kita sebuah pengalaman hidup, jam terbang serta peningkatan kualitas juga tentunya. Salam
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 17, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum..
Menulis harus dengan sifat tawadhuk. Idea dari tulisan yang disampaikan bertujuan untuk dikongsi, saling berpesan dan mengingatkan. Mengapa kita menulis ? Hal ini harus dirujuk kepada niat asalnya. Untuk apa dan kenapa agar penulisan kita tidak tersasar dari jalan kebaikan. Salam hormat.
By NGOMYANG on Jul 20, 2009 | Reply
FASIH JALAN KARENA SERING DITEMPUH,FASIH MENULIS KARENA DILAKUKAN BENAR SETUJU ITU TAPI KAYAKNYA KALAU BARU MAU NULIS EH MALAH HILANG YANG TADI DIPIKIRKAN JADINYA BERHENTI DECH.