Menulis ‘Leyeh-Leyeh’

7 July 2009 | Ditulis oleh: EWA |

KATARSIS. Dalam kehidupan, begitu kata orang bijak, harus dijaga keseimbangan untuk bekerja dan merelakskan diri, ya pikiran ya fisik. Soal proporsi itu yang susah menakarnya. Bagi saya mengalir saja, kalau dirasakan lelah, istirahat, kalau hendak menulis, menulislah. Kalau mau libur, ya libur. Hanya saja kalau dipikir-pikir, saya punya cara unik (belakangan ini) menikmati hidup.

Kebetulan kampus libur. Saya menghibur diri membaca loran, majalah, buku, informasi di internet. Koran sudah dibaca, soal DPT Pilpres semakin tidak menarik. Bagaimana bagngsa mau ini maju, soal mendata penduduk —dalam hal ini pemilih Pilpres sebagai kelanjutan Pemilu Legislatif— masih bersoal. Era informasi Bro. Perlu dipertanyakan kemampuan petugas. Ih sebal.

Dalam pada itu sahabat maya saya, Agustus Sani Nugroho merespon postingan pada Dinding FB saya: … Ya … udah, menulis tentang “Leyeh-leyah” saja Bang… Tulisan ini mersepon ‘tantangan’ Agus.

Leyeh-leyeh itu kan merefseh pikiran dan pisik yang sangat cocok dengan kondisi diri. Betapa tidak. Saat ini ibur, dan maunya leyeh-leyeh doang. Nonton TV, ngak nafsu, bosan. Nonton film? Kemarin malam sampai pagi. Malahan main porker ala internet dilakoni.

Pantikan Agus semakin menyadari, membaca itu tergolong leyeh-leyeh, menulis adalah leyeh-leyeh. Lho? Coba sampeyan menulis sesuatu, setelah tertulis, menjadi tulisan, pikiran terasa fresh. Plong. Ada kenyamanan dan kenikmatan. Psikolog menamakannya katarsis.

Bandingkan dengan melamun, membawa pikiran berkelana ke ranah tak berwilayah. Fantasi, misalnya mendapatkan intan 2000 karat, lalu dijual untuk membuat anun dan anu. Pikiran lelanglangbuana akan menulis anu, anu, dan anu. Begitu lamunan selesai, yang tingal angan-angan belaka, dan … kekecewaan.

Tentunya berbeda, manakala leyeh-leyeh diisi dengan kegiatan nyata, menulis. Saya menulis ini sambil makan ikan Sepat Siam, sambal ikan teri, dan sayur kangkung. Menyuap, lalu jari tangan menari-nari di tuts keyboard. Tidak susah nyaman saja. Kenapa bisa?

Saya tak hendak menulis yang ‘melamun-lamun’. Akan membuat teori anu, misalnya. Pokoknya yang sederhana. Menulis apa yang dipikirkan, ada di pikiran, bukan memikirkan apa yang akan ditulis.

Sebab pikiran sudah bekerja manaka kita melihat, mendengar, membaca, merasakan, atau mencium sesuatu. Pikiran adalah pergulatan indera yang disimpan di memori. Menulis itu leyeh-leyeh aja kok Mas.

Yap, mari membiasakan berani menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Juli 2009.

  1. 9 Responses to “Menulis ‘Leyeh-Leyeh’”

  2. By newsoul on Jul 7, 2009 | Reply

    Hehe, pak EWA sebagian besar tulisan saya di blog (saya) adalah tulisan leyeh-leyeh, asyik memang.

  3. By he benyamine on Jul 7, 2009 | Reply

    Ass.

    Membiasakan menulis bisa menyederhanakan sesuatu yang sebelumnya dianggap rumit dan membosankan, saat memulai menulis terasa rumit dan sulit keluar yang ada di kepala, dan jika diteruskan ternyata semakin sederhana berbagai hal menjadi seperti apa yang ditulis.

  4. By Ikkyu_san a.k.a imelda on Jul 7, 2009 | Reply

    seharusnya memang menulis sambil leyeh-leyeh pak, jadi tak membebani…

    EM

  5. By Zian X-Fly on Jul 7, 2009 | Reply

    Haha, memang benar. Tulisan saya juga “leyeh-leyeh”, dan saya merasa puas apabila sudah memposting (apalagi bila banyak dikomen, haha)

  6. By Siti Fatimah Ahmad on Jul 8, 2009 | Reply

    Menulis memberi kesihatan yang baik untuk minda. Usah diberatkan minda untk memikirkan hal-hal yang berat. Hal ini akan memudahkan idea mengalir dengan tenang dan senang.

  7. By alris on Jul 8, 2009 | Reply

    Orang yang sudah sampai pada tahap menulis sambil leyeh-leyeh inilah orang yang sudah menyatu pikiran. tangan dan hati. Kalau saya masih gagap semua belum menyatu gerakan tangan. pikiran dan hati. Mau nulis pikiran menerawang kemana-mana. hatinya entah dimana. dan tangan masih ngetik sebelas jari hehehe…

  8. By Syamsuddin Ideris on Jul 8, 2009 | Reply

    Salut…betapa kreatif sekali Pak EWA menulis..bakan yang leyeh-leyeh saja bisa dijadikan bahan tulisan…

  9. By baburinix! on Jul 9, 2009 | Reply

    Menulis apa yang dipikirkan,yang ada di pikiran, bukan memikirkan apa yang akan ditulis.

    kalimat yang bagus buat ide -ide menulis untuk yang lagi bosan-bosan nulis seperti saya…terimaksih boss EWA

  10. By siti hariyah on Jul 9, 2009 | Reply

    leyeh-leyeh plus mathuk-mathuk

Post a Comment