Menulis Berani Malu
5 July 2009 | Ditulis oleh: EWA |ALASAN. Saya sangat sibuk. Tidak ada waktu untuk menulis. Banyak pekerjaan. Kalimat tersebut merupakan kalimat ‘standar’ banyak teman ketika berdiskusi peri hal menulis. Jangan-jangan sudah bersepakat he he he.
Entahlah. Dosa apa yang saya lakukan sehingga kalau berdiskusi, hal tulis menulis selalu mendapat perhatian. Kepada sahabat kental saya katakan: “Cobalah berkaca diri. Capaian akademis bukan sekadar sarjana, golongan kepangkatan berkategori IV, mendosen puluhan tahun. Masyak menulis yang dikuliahkan tidak mampu. Kalau ujian sih bisa ‘nyontek’, memberi pasti tidak”.
Kami tertawa mesem. Sebab, paham saya bukan memaki dia, tetapi diri sendiri. Karena diskusi ‘keras’ demikian terdorong menulis bahan kuliah, beberapa siap menjadi buku. Ya, harus berani malu. Apa yang dinulis tidak bisa dikilahkan. Salah ya salah, tidak bisa beralasan. Mau profesor atau profesong, salah ya salah. Kalau mau menulis, lawan ketakutan, beranikan diri kalau ketahuan bodoh.
Di fakultas saya, dari hampir 300 dosen, hanya dalam bilangan puluhan yang menulis buku ajar. Apalagi tingkat universitas. Kalau dosen di Indonesia yang 300.000 orang menulis satu buku dalam satu tahun —yang pantas diterbitkan lho— percetakan akan kewalahan.
Pertanyaannya, kenapa begitu susah menulis —dalam kontek ini— menulis buku ajar? Kalau susah, rekam apa yang dikuliahkan, tanskripkan, lalu tulis. Pasti mudahlah. Seorang teman menyulang: Wah, Mas akan ketahuan kekeliruan dalam perkulihaan.
Bersemangat dia menambahkan: “Kalau dalam pekuliahan kan bisa berkilah. Lagi pula, mana berani mahasiwa memperotes kalau salah”. Nah, lho.
Ya. Saya pernah dibetulkan anak SMP ketika yang dimaksudkan Nabi Yusuf tertulis Nabi Musa. Dibetulkan melalui Surat Pembaca media cetak. Malu? Tidak. Malahan berterima kasih, wong salah dibetulkan, ya untunglah.
Menulis memang bukan untuk orang yang pintar beralasan, menuding tulisan orang jelek, tetapi untuk orang yang berani malu, berani mengambil risiko ‘isi kepalanya’ di uji publik. Kalau hanya berani pada mahasiswa, ya tidak usah menulis untuk publikasi.
Kebetulan, dengan beberapa teman akan kuliah S2. Mudah-mudahan setelah jadi Doktor, apalagi menjadi Profesor (Amin), istilah seorang senior kami, tidak menjadi Profesor GBHN alias Guru Besar Hanya Nama. Hmmm … malu ah, tapi harus berani melawan malu itu.
Yap, mari membiasakan berani menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 7 Juli 2009.













18 Responses to “Menulis Berani Malu”
By newsoul on Jul 5, 2009 | Reply
Mantap sekali pak EWA. Setuju menulis berarti berani malu. Untuk bisa menulispun dibutuhkan keberanian dan nyali, setelahnya ya tanggung resiko dong, termasuk resiko malu. Kalau ada kekeliruan, lalu dikoreksi dan diterima itu jiwa besar namanya. Jarang lho penulis seperti itu pak, kebanyakan sih berkilah, hehe. Tulisan mantap ini sangat bermanfaat bagi orang yang masih memperdalam dunia tulis-menulis, masih belajar, seperti saya.
By he benyamine on Jul 6, 2009 | Reply
yap, dukung guru/dosen menulis buku ajar, agar banyak guru/dosen berani keluar dari prasangka malu yang sebenarnya menyembunyikan potensi profesi.
By anno on Jul 6, 2009 | Reply
kadang rintangan malu adalah hal yang sangat membebani kepala pak…
By suryaden on Jul 6, 2009 | Reply
betapa saat ini nama baik selalu dikedepankan, jadi sepertinya hanya menunggu siapa tahu nama itu akan datang… kekeke
By DV on Jul 6, 2009 | Reply
Wow, Pak Ersis jadi professor?
Ayo pak maju terus, semoga cepat jadinya…!
By ismawardah on Jul 6, 2009 | Reply
Malu adalah suatu sifat yang harus dilawan. Kalau tidak dilawan, malah kita akan menjadi malu- maluin.
By Tengkuputah on Jul 6, 2009 | Reply
Setuju, Abu saja kalau menulis banyak salahnya. Bahkan ketika membuka arsip lama suka tertawa sendiri. Tulisan itu lebih mudah dikutip, dikoreksi dan dipelajari makanya ia rentan kritik dari siapapun, termasuk diri sendiri. Tapi tak apa kan, disitulah tantangannya
By siti hariyah on Jul 6, 2009 | Reply
dipermalukan di depan kelas dah biasa, Pak. Yang penting maju terus. Tidak akan maju jika kita merasa malu yang tidak pada tempatnya.
By Ikkyu_san a.k.a imelda on Jul 6, 2009 | Reply
Pak, sebetulnya yang mendorong saya membuat blog justru karena saya disuruh menulis buku ajar untuk bahasa Indonesia di salah satu universitas di sini. Buku ajar itu memang jadi, tapi mengingat betapa sulitnya saya menulis, saya sampai pada kesimpulan, bahwa kesulitan itu terjadi karena saya tidak terbiasa menulis. Jadilah saya menulis blog mulai tahun 2005, sesudah dua buku ajar diterbitkan hehehe.
Memang orang Indonesia kan paling malu jika “ketahuan” salah. Kalau saya malah mengijinkan murid merekam isi kuliah. Kalau menemukan kesalahan silakan beritahu saya.
EM
EM
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 6, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum..
Berani melawan malu bukan perkara yang mudah. Tetapi malu akan dapat diatasi jika punya keberanian yang kental. Orang yang berjaya..kebanyakkannya mereka yang “hilang rasa malu” kerana semangat berani lebih mengatasi malu tersebut.
Selamat maju jaya dan bersemangat untuk meneruskan karya diri dalam mendorong publik untuk terus menulis dan menulis. Salam hormat selalu.
By edratna on Jul 7, 2009 | Reply
Bagaimana dosen akan memberikan kuliah kalau tak pernah menulis? Paling tidak pernah merangkum apa yang akan diajarkannya.
Sebagai instruktur, saya setiap kali dipaksa untuk menulis apa yang akan saya berikan dalam suatu pelathan, disesuaikan kedalaman dan kompetensi sesuai peserta pelatihan, dan sesuai GBPP nya.
Dan blog sangat baik untuk mendorong seseorang berani menulis. Gara-gara ngeblog temanku ngomel, kok saya nulis di blog melulu, coba tulisanku dikirimkan ke majalahnya. Dan akhirnya, saya mengirimkan dua tulisanku dan dimuat di majalah profesi…sejak itu saya berani menulis untuk majalah, walau tak bisa sering karena kesibukan mengajar dan menjadi Project Manager di suatu asosiasi yang berhubungan dengan bidang kompetensiku.
By Ersis Warmansyah Abbas on Jul 7, 2009 | Reply
Newsoul: Ya kita belajar dari proses tersebut … dari risiko belajar …
HE Benyamine: Yap … ketakutan itu belenggu menulis
Anno: malu itu kan diri sendiri … dari malu belajar berani he he
Suryaden: Amin … Sampeyan satu diantaranya he he
DV: Ha ha
Ismawardah: Dimenej … yan ngak boleh malu-maluin
Tengkuputah: Tantangan yang harus dijawab
Siti Hariyah: Menyingkirkan malu … modal kemajuan
Ikkyu_san a.k.a imelda: Mbak Imel berada di tempat yang tepat dengan respon yang tepat … yang malu-maluin mereka yang beralasan
Siti Fatimah Ahmad: Kita lawan, menej, dan belajar dari ‘malu’ … menjadikan malu tantangan untuk tidak malu apalagi mau-maluin
Edratna: Jalan sangat tepat Bu … direspon dengan verdas … yap selanjutnya menjadi buku. Amin.
By avartara on Jul 7, 2009 | Reply
Mantap Pak EWA,… jadi tambah semangat untuk menulis……….
By +++++ on Sep 18, 2009 | Reply
buka lah hati mu dari kehampan jiwa mu untuk menuju keindahan indonesia
ini buka kan hati mu untuk indonesia ini berkembang menjadi
indonesia yang penuh
keindahan dunia ini jangan perna memendam malu kubur lah malu mu dalam dalam bangit kan hati untuk berkarya untuk indonesia ini alir kan darah mu tetes kan kebumi ini untuk kemajuan indonesia ini tidak seseorang yang menyimpan malu di indonseia ini jadi tulis kan arti indonesia ini
By +++++ on Sep 20, 2009 | Reply
wulan aku harap kamu membaca nya wulan memandang lah seseorang cowok dari hati nya tapi bukan dari wajah nya
wulan menatap bukan lah satu kebahagian yang di mengerti hati dan ke perasan wulan setip manusia hidup eng berhak memilih seseuka hati nya tapi
kamu salah memilih nya kerna kamu udah
memilh bukan dengan
hati nya dan kebayik kan nya jadi kamu tidak bisa membeda kan arti cinta memiliki kesetian kamu cuma menatap
air lautan yang kamu harap ka
By +++++ on Sep 20, 2009 | Reply
n akan berombak walo pun yang kan berombak pasti kamu wulan akan terbawa kedalam hati yang tersakiti
nah kamu sudah terbawa ombak yang begituh kencang menarik mu nah setelah ituh kamu akan taau wulan arti cinta dan arti kesetian seseorang
coba lah wulan buka hati mu untuk melukis kan arti cinta
yang tidak perna mengenal apah pun
jangan teralu menutup hati mu untuk cinta yang datang pada mu wulan bukan lah hati mu seluas lautan
By +++++ on Sep 20, 2009 | Reply
cinta kamu akan bersemi wulan kalo kmu menam kan nya dengan tidak mengemal arti tanaman jadi jangan sia sia kan bibit yang terus mengering di cuwaca panas jadi tanam kan lah bibit yang di setip hujan yang turun atau pun di musim panas bibit ituh akan bersemi di sepanjang hari dan di sepanjang malam
bicara kan lah wulan
dengan mata hati mu
dan dengar kan hati bersuwara kan air lautan yang tenang
ituh hati mu wulan yang sesungguh nya
By rumah pernikahan on Dec 3, 2009 | Reply
BErarti yang penting mau, walaupun malu.