Nikmat Alam Milik Allah SWT
29 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |
MY KAMPOONG. Terseralah, orang mau menilai apa dan bagaimana, bila pulang ke Muaralabuh, saya suka mandi di sungai. Istri, anak-anak, dan ponakan rupanya juga senang. Jadilah, bila pagi, begitu juga sore, ke sungai yang masih bersuasana alami. Sembur-semburan, cekikik-cekukuk, berdendang air, yang kata istri sedingin es.
Pada puncaknya, merasakan bahwa ‘kenikmatan’ tidak perlu dibayar mahal. Bahkan, berkelana dari hotel ke hotel, mandi di bathup, dibanding di alam terbuka, tidak sebanding. Atau, inikah yang dinamakan orang rindu kembali ke kehidupan kanak-kanak? Entahlah.
Ringkasnya, Muaralabuh negeri yang dikelilingi hutan lebat, di kaki gunung Kerinci, tempat beta lahir, bak mangkok alami. Menbedah ranah Sungai Pagu mengalir batang (kali, sungai) Suliki.
Dulu, ketika masih kecil sungainya sangat deras. Saya tidak perlu ke hilir, di Singintir aliran sungai Suliki dapat dinikmati sepuasnya. Kini, air mulai menyurut. Saya bilang sama Bapak: Pak, rasonyo kini Mualab (Muaralabuh) paneh”. Bapak, lelaki Adam berusia90 tahun menjawab: “Baitulah. Alam kini lah barubah”. Yap, sepanas-panasnya Muaralabuh, lebih dingin dari Bandung yang kini kian panas. Ah, sudahlah. Nikmati saja.
Satu hal yang selalu ditekankan pada anak saya yang beranjak remaja: “Antra perhatikan, hutan masih lebat. Garansi kesejukkan. Begitu di Bukit Tnggi, Maninjau, Lembah Anai, atau Muaralabuh”. Sebagai Bapak, saya ingin Antra menjadi pejuang pelestraian alam. Mimpi kale ye.
Pagi itu, mentari mulai menyeruak mengintip membedah kabut pagi. Badan dijalari air pegunungan. Rasa nyaman mengerayangi seluruh tubuh. Mula-mula terasa dingin, semakin menyelam semakin nyaman, sungguh nikmat. Duh Allah, ampuni hambaMu yang terlanjur dengan nafsunya merusak alam Tanda-Tanda KebesaranMu. Jangan biarkan kami merusak limpahan nikmatMu.
Cahaya mentari menembus pohon-pohon yang setia di pingir sungai. Menit berganti, dua jam barangkali terlalu lama untuk urusan berbersih-bersih. Setiap pulang kampung, pembelajaran Ibu dipraktikkan, kami mencuci pakaian sendiri. Kini, menurunkan pada anak-anak. Kami mencuci pakaian masing-masing.
Ketika Erwin Dede Nugroho saya bawa ke Muaralabuh bertanya: “Apakah pohon-pohon disini tidak ada yang berminat menebanginya?”. Saya hanya tersenyum. Sebab, konon nun jauh dibalik bukit, atas nama izin HPH penebangan terjadi. Ya Allah, halangilah siapa saja yang berniat mengunduli hutan Muaralabuh. Amin.
Bagaiman menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 29 Juni 2009.













28 Responses to “Nikmat Alam Milik Allah SWT”
By newsoul on Jun 29, 2009 | Reply
Setuju, kenikmatan itu tidak perlu dibayar mahal manakala kita mudah menemukannya di sekitar kita. Alam, selalu memberikan hal yang terbaik padanya untuk kita. Alam juga sering memberikan banyak pesaNya pada kita, kalau saja kita peka. Artikel yang bagus, gambar yang juga bagus pak EWA.
By randu on Jun 29, 2009 | Reply
Ada yang “bangkit ” di jiwa bila melihat gambar-gambar ini…
Maha suci Allah telah ciptakan alam muara labuh…
By marshmallow on Jun 29, 2009 | Reply
karena tak semuanya bisa dibeli dengan uang toh, pak? termasuk kebahagiaan yang lugu ini. uang jadi tak berharga lagi. tapi seringkali manusia take things for granted, kurang bersyukur atas apa yang dimiliki, dan tidak melihat betapa beruntung dirinya memiliki apa yang dimilikinya.
termasuk kita, penduduk negeri yang kaya raya dengan hutan hujan menjurus dari barat ke timur ini mungkin?
lasuah bana nan pulang kampuang.
By suryaden on Jun 29, 2009 | Reply
amin, semoga selalu dijaga oleh yang kuasa, pusing kalo lihat dan dengar hutan yang gundul…
By hajriansyah on Jun 29, 2009 | Reply
indahnya! jadi ingat kemarin waktu ke loksado: sungai yg berbatu itu, yang tak pernah saya alami ketika mandi di sungai, di banjar, sewaktu kecil.
oya, trims pak, atas tawarannya ke gramedia itu. penagihan (uang) no. 2, yang penting bagaimana buku kita bisa dilihat, bagus jika kemudian dibeli, orang kita di gramedia kita (bjm), kan pak. oke, mudahan dalam waktu dekat bisa bertemu.
salam
By DV on Jun 30, 2009 | Reply
Indah nian! Saya bisa membayangkan dinginnya air di sungai, geremicik sunyi airnya serta segarnya jika badan ini berendam padanya…
By Zian X-Fly on Jun 30, 2009 | Reply
Wah, saya jadi ingn cept2 pulang k kampung halaman: Marabahan.
By aLe on Jun 30, 2009 | Reply
Dgn mensyukuri keindahan alam,
Berarti kita mengakui Keagungan Allah,.
By emfajar on Jun 30, 2009 | Reply
keindahan alam termasuk kenikmatan yang tak bisa dibeli namun bisa kita rasakan bila kita menjaga alam tersebut..
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 30, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum…
Subhanallah. Masya Allah. Betapa lukisan alam itu sungguh indah. Walau di mana-mana jejak bumi ini, alam dan kehijauan adalah pemangkin kehidupan segar. Melihat jernihnya air mengalir dan meneliti ruang segar sekeliling pada rimba alam menjadi penawar buat jiwa yang resah.
Kepada Allah swt kita memohon kasih sayang dan kedamaian hidup agar kita sentiasa dalam tuntunan yang benar. Selamat kembali ke MuaraLabuh, kampung halaman yang dirindu walau diri berkelana jauh. Tempat jatuh lagikan dikenang inikan pula tempat bermain.Semoga sentiasa bergembira.
By alam on Jul 1, 2009 | Reply
Waktu saya masih kecil saya juga suka mandi dikali, kali ciliwung. Airnya agak kecoklatan tidak sejernih dan sedingin kali di muaralabuh, tapi saya sangat menikmatinya. Sekarang sudah berubah, air kali ciliwung sudah berwarna coklat kelam bahkan sampai hitam. Rindu mandi dikali lagi.
By Fietria on Jul 1, 2009 | Reply
Mau tanya, muaralabuh letaknya di provinsi mana ya?
baca juga ini, mungkin bermanfaat.
http://fietria.wordpress.com/2009/06/29/keturunan-nabi-ibrahim-yang-hilang/
By Ismawardah on Jul 1, 2009 | Reply
Sudah kewajiban semua manusia harus menjaga kelestarian dan keindahan apa saja yang diciptakan ALLAH.
By Nug on Jul 1, 2009 | Reply
Wah.. asri dan damai sekali Kampungnya Bang..
Mandi disungai yang bersih gitu…
Wah.. jadi inget masa kecil dan muda dulu..
*Sok tua banget.com*
By mas stein on Jul 1, 2009 | Reply
sungainya mantab om! ngomong-ngomong sampeyan ini egois juga, kenapa cuma hutan sampeyan yang didoakan, mbok semua hutan…
By Iwan Awaludin on Jul 1, 2009 | Reply
bandung panas ya Pak? wuih, kalo saya pulang udah tambah panas dong.
By ernalilis on Jul 2, 2009 | Reply
Duh Bang,.. lihat sungainya pengen ikutan main air juga.. sayang sekali kalo sampai bernasib seperti sungai2 disini, makin lama makin kecil karena makin sedikit pohon-pohon disekitarnya…
By Ikkyu_san a.k.a imelda on Jul 2, 2009 | Reply
tidak ada yang lebih indah dari kampung halaman yang hijau dan asri… rindu kampung halaman (padahal aku dari jakarta yang katanya ibukota)
EM
By sawali tuhusetya on Jul 2, 2009 | Reply
sebuah pendidikan ttg nilai kecintaan lingkungan hidup secara langsung, pak ersis, mendekatkan anak2 pada alam yang sesungguhnya, pada sekolah2 kehidupan yg belakangan ini sdh mulai luntur.
By achoey on Jul 2, 2009 | Reply
melihat foto2 nya
saya jadi inget masa kecil
berenang di sungai
By cinker on Jul 3, 2009 | Reply
orang kerinci juga rupanya bapak satu ini….!!!
Bilo nak balik lagi kayo….
By Lucu Indonesia on Jul 3, 2009 | Reply
ya Allah, bolehkah akau hidup 1000 tahun lagi untuk menikmati alam yang engkau ciptakan?
By CatatanRudy on Jul 3, 2009 | Reply
Wah, orang kerinci ya mas? Dekat ya… Ku orang Bangko.. Tau gag mas? Salam kenal ya…
By anas on Jul 4, 2009 | Reply
wah alam nya masih asri ya…
mirip sungai amandit di loksado ya bang…
salam kenal bang.masih ingat gak ama ulun?
By DwiCy on Jul 5, 2009 | Reply
MasyaAllah… panjenengan begitu dalamnya memikirkan Pak. Subhanallah semoga Allah selalu memberikan rahmatNya pada Bapak, Istri, anak-anak.
Saya dapat merasakan kesenangan ‘n ketentraman bapak waktu ke desa kelahiran. pa lagi nan jauh disana alam masih begitu indah ‘n sejuk.
Saya jadi kepingin mampir ke desa Bapak yang lebih dingin dari Bandung itu. boleh pak? he.
By imoe on Jul 5, 2009 | Reply
pak, jalan sedikit lagi agak ke atas, sampailah kita ke sangir..maka disana banyak sudah pohon di tebang..ilegal loging masih terjadi. Puncak pembabatan terjadi tahun 1999, karena pada waktu itu ambo sedang KKN di situ hehehe kasihan…
By Nisa on Jul 6, 2009 | Reply
Subhanallah… foto yang indah ^^
By prono jiwo on Mar 8, 2010 | Reply
Bagaimana kita membuktikan bahwa alloh itu ada.
Yaitu dengan cara kita mengimankan diri kita yang benar2 iman dan bukan hanya iman di lisan saja.bahwasanya manusia itu tempatnya kekurangan,ketidaktauan,ketidak berdayaan dan tiada punya kekuatan,manusia adalah mahkluk yang hina.karena manusia tercipta dari segumpal darah yang kotor (air mani).makanya manusia itu hina tapi yang berakal.kta jalani saja apa yang di printahkanya dan jauhi segala apa di larangnya (Syari’at).jika kita sudah menjalani semua itu,maka yang ada dlm diri kita adalah ketaqwaan /Keimanan kepada beliau yaitu(ALLOH).seseorang yang sdh bertaqwa kepadanya pasti keimanan akan tertancap dalam hatinya.
Apakah Iman itu… Iman adalah keyakinan dan meyakini bahkan benar2 yakin (haqul yakin).bahwa keberadaan ALLOH itu ada seperti tak adanya.bagaimana mungkin.. hanya orang2 beriman dan bertaqwa yang akan mendapat petunjuk dari ALLOH swt itu sendiri.yach mungkin itu saja yang jadi penambahan saya mudah2an kita semua termasuk tergolong orang2 yang beriman…..Amii…n. Matur sembah nuwun sedulur2.pareng…..