Malin Kundang

24 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

BATU. Alkisah, seorang anak muda tampan merantau ke negeri seberang. Dia gagah, pintar, dan pandai bersilat. Di negeri orang kepintaran dan keberaniannya menarik perhatian raja, dia selalu dapat menyelesaikan masalah atau memenangkan peperangan. Hingga, diangkat menjadi Panglima Perang. Tidak cukup disitu saja, Malin Kundang dijadikan menantu.

Kisah berlanjut. Malin Kundang ‘taragak jo kampuang’. Pulanglah dia bersama istri dikawal anak buahnya. Waktu berbilang, hari berganti minggu, minggu bertukar bulan, bau tanah kelahiran membuncah kerinduan di dada, kapal besar Malin Kundang merapat di pelabuhan Muaro Padang. Kapal besar yang dinakhodai lelaki gagah berkuasa dengan istri sangat cantik itu adalah anak-negeri, dan sedang mencari ibunya. Berita kedatangannya segera tersebar.

Lalu, seorang Ibu tua renta mendatangi kapal besar tersebut dibawa kerinduan kepada anak semata wayang, Maling Kundang. Ya, Malin yang sedari kecil ketika mencari kayu bakar digendong, di pangkuan. Kundang ‘gelar wisuda’  teman-teman kecil , Si Malin yang ‘kundang’; yang digendong.

Rupanya waktu dan kesuksesan merubahnya. Melihat ibunya yang tua rentah dimakan usia di depan istrinya yang sangat cantik, Malin tidak mengakui ibunya. Sekalipun istrinya mengakui tersebab kata-kata ibunya Si Malin punya tanda hitam (tahi lalat) di tubuhnya cocok.

Ringkas cerita, Si Ibu kecewa amat sangat, Malin pun ngelangsa. Berlayarlah dia kembali ke negeri rajanya. Karena hatinta sangat amat seih, Si Ibu mengutuk Si Malin, dan … badai menghempaskan kapal dengan seisinya ke bibir batu karang di bibir pantai Air Manis, Padang. Kapal dan segenap isinya berubah menjadi batu.

Ke lokasi kapal Malin Kundang itulah saya dan anak-anak serta anak adik-adik berlibur, Rabu, 24 Juni 2008. Anak-anak asyik mandi riang gembira sehabis mendengar kisah tragis Malin Kundang yang sukses tapi karena durhaka berubah menjadi batu.

Terus terang, bagi Urang Awak kisah Maling Kundang sudah dikenalkan sejak kanak-kanak. Terlepas, perdebatan historikalnya. Lagi pula, memang ada ‘bukti’, setidaknya bebatuan yang berupa kapal. Selalipun wujud aslinya tidak pernah melihat, dan sudah ada sentuhan pemugaran, tidak sapat tidak, kalaulah Pemko Padang atau Pemprov Sumatera Barat, keberadaan batu Malin Kundang adalah akses pariwisata tiada terkira nilainya.

Lebih penting, legenda Malin Kundang, adalah kisah bermuatan pendidikan, durhaka pada ibu adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan, apalagi kalau sampai dikutuk. Malin Kundang yang menyampaikan pesan bagi kita semua.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Padang, 24 Juni 2009.

  1. 3 Responses to “Malin Kundang”

  2. By zee on Jun 26, 2009 | Reply

    Kalo anak kurang ajar terhadap orang tua, dalam kasus seperti malin kundang, itu memang jelas durhaka. Pantaslah kena kutuk.

    Tp dalam beberapa kasus lain, banyak jg orangtua yg durhaka pada anaknya. Ada yg membunuh anaknya, memperkosa anaknya, menjual anaknya. Yg kayak gini kira2 lbh tepat disebut apa ya? Orang tua durhaka, atau orangtua sakit jiwa?

  3. By mathematicse on Jun 28, 2009 | Reply

    Ooo arti kundang tuh digendong ya.. :D Baru tahu neh, Pak… :D

  4. By Boltjefamilie on Jul 15, 2009 | Reply

    Ya, aku juga baru tau klo kundang itu artinya di gendong:-)
    Yah, terus kalo orang tuanya yg durhaka seperti komentarnya zee, itu orang tua disebut apa ya? Banyak orang tua yg durhaka terhadap anaknya, jual anak, tidur sama laki2 yg berlainan di depan anaknya. Yang kayek begitu orang tua apa namanya?

Post a Comment