Dari Danau ke Danau

23 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

TERPESONA. Pagi berselimut kabut belum di usik mentari pagi. Pori-pori terjaga digoda dingin. Mobil seolah meliuk-liuk mengikuti jalan yang bekelok-kelok patah. Seakan disempunakan tatapan batu cadas di sisi kiri menutup pandangan, di sisi kanan jurang sepandangan seolah melambaikan ngeri. Nun, di ujung sana terhampar Danau Maninjau. Allah SWT menciptakan kenikmatan dengan pesan, bisa jadi begitu, dalam balutan kegerianĀ  tertanam keindahan.

Saya tak hendak meneskploitasi keindahan Danau Maninjau dengan 44 Kelok menghadirkan pemandanhan nyaris sempurna. Sebab, telah menulisnya. Yang lebih mempesona justru Danau Kembar, Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah. Ya, danau yang tidak mungkin di temui dibagian mana pun di dunia. Lagi pula, dari Muaralabuh ke Padang, begitu dilakoni sejak kecil, wajib dilalui. Itulah jalan satu-sayunya ke kapung tercantik di dunia di bawah lindungi gunung Keinci itu.

Bagi yang belum pernah ke Danau Kembar, bayangkan. Satu danau terhampar dengan pohon pinus di tepinya, awan selalu menyelimuti, dinginnya membekukan lemak pada masakan, itulah Danau di Ateh yang sebenarnya berposisi di bawah. Danau di Bawah, beberapa ratus meter yang kini dapat di lihat secara ambak sebab ada lokasi rancak yang dibangun Disbudpar Kabupaten Solok. Di Kiri Danau di Ateh di Kanan Danau di Bawah.

Saya sungguh beruntung. Ketika gagasan mengelilingi Danau di Bawah, rombongan setuju. Anton, sopir Inova awalnya agak ragu, belum pernah mengelilinginya. Bapak memberi semangat, puluhan tahun lalu, Beliau membangun SD di tepi uatara Danau di Bawah. Klop.

Subhanallah … Danau itu indah nian. Dalamnya, menjadikan pandanga danau itu terlihat hijau. Lagi pula, tidak ada jalan ke luar air danau. Artinya, tidak ada pembuangan. Entah bagaimana penjelasana geologisnya. Saya belum sempat membaca refernesinya.

Mahasuci Allah … dari pesawat, ketika ke Jakarta, saya sempat mengambil foto Danau Kembar. Dungunya saya, kok menjadi tiga. Jangan-jangan salah pengetahuan. OK nanti didudukkan. Yang jelas, saking terpesona, saya kesusahan mengambarkan dengan kata-kata.

Satu hal memapan, akan mengulangi perjalanan tersebut. Menuju Solok, bukan melewati Lubuk Selasih, tetapi menyusuri bibir Danau di Ateh. Saya bisa memaklumi anak-anak terkadang ngeri, sebab kalau menurun atau mendaki bisa dengan kemiringan 45 derajat.

Begitulah. Ketika sampai di Danau Singkarak, karena terlaluĀ  sensainya tidak terlalu terasa. Tugas membawa anak-anak berkelana dari danau ke danau usai sudah. Semoga mereka mereguk muatan kekuasaan Allah SWT. Amin.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Jakarta, 25 Juni 2009.

  1. 2 Responses to “Dari Danau ke Danau”

  2. By zee on Jun 26, 2009 | Reply

    Suatu hal yang begitu indah memang seringkali susah diungkapkan dengan kata-kata.
    Siapa tahu nanti ada waktu main ke Danau Toba di Prapat sana, mungkin juga akan susah berkata-kata :)

  3. By marshmallow on Jun 29, 2009 | Reply

    wah, pak ewa menikmati sekali liburan panjang bersama keluarga. saya juga menikmati membacanya. sayangnya kurang foto-foto, pak. konon sebuah gambar bisa menceritakan lebih dari seribu kata-kata. a picture speaks a thousand words.

Post a Comment