Maninjau

21 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

SEJUK. Titel pulang kampung kali ini liburan anak-anak, karena itu yang memutuskan segala hal mereka. Kami pelayan. Setahunan menabung hingga terkumpul dana untuk tiket harga peak seasion. Selain tiket urusan Ibunya. Ternyata anggaran tiket masih berdamai, separuh saja.

Begitulah. Prioritas ke Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang, baru ke Muaralabuh. Ini bukan liburan kampung pertama  bagi mereka. Apa boleh buat, pulang ke rumah nomor dua. Jelas, akan dipermasalahkan keluarga. Untuk praktik demokrasi diperlukan pengorbanan. Siap pasang badan.

Begitulah, selagi asyik longok sana longok sini, HP bersiul, Pak 15 menit lagi kami naik pesawat. Anak-anak menumpang pesawat dari bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, saya bergegas ke luar arena Pekan Raya Jakarta. Taksi Pusaka, grup Blue Bird, mengantar ke Soekarno Hatta. Ternyata masih ada waktu. Mampir di pijat refleksi. Tertidur dipijat sekitar 20 menit, langsung ke area transit. Tidak lama, anak-anak dan ibunya nongol. Hmm … senangnya.

Bersegera kami menuju Gate 1, ruang keberangkatan ke Padang. Membuka laptop eit ada pengumunan: … Para penumpang Lion Air ke Padang, kami mohon maaf, tehnisi Lion Air sedang memeperbaiki kerusakan kecil pesawat. Penerbangan ke Padang diundur sekitar 30 menit.

Sebelum naik pesawat menelepon Aprison, minta tolong mobil. Di Minangkabau International Airpot, setelah menyelesaikan urusan bagasi, ke mobil. Wualah setiap orang membawa koper sendiri dan oleh-oleh. Bagian belakang Inova penuh sesak. Padahal, kebiasaan saya bila bepergian bermodalkan tas laptop ditambah tas jinjing atau kresek.

Inova meluncur ke arah Bukit Tinggi. Di RM Lamun Ombak berhenti untuk makan malam. Asyiik. Di Air Terjun Lembah Arau berhenti dan memoto yang ternyata hasilnya berupa bintik-bintik saja. Padagal sudah berlagak bak fotografer profesional he he …

Menikmati Jam Gadang sebentar lalu ke Limas International Hotel. Setelah makan Sate Padang tidur. Dingin Bukit Tinggi di pagi itu tidak mengiringkan niat ke Maninjau.  Wualah mula-mula anak-anak bersorak-sorai riang gembira … eit rupanya kepala mereka pada pening mengikuti liukan tajam Kelok 44. Menjelang makan di bibir Danau Maninjau, Azta, Si Bungsu, muntah. Nah … masuk angin di jantung hati.

Hutan lebat, kabut, jalan meliuk-liut dirangkum dalam pengalaman mengangumkan, itulah kiranya yang dirasakan anak-anak. Letih dan pening, tinggal kenangan. Perjalanan dilanjutkan ke Padang sembari menikmati Silaing dan Lembah Arau. Saya pernah mendengar cerita bangga: Allah SWT sedang tersenyum ketika menciptakan Alam Minangkabau.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Muaralabuh, 21 Juni 2009.

    1. 8 Responses to “Maninjau”

    2. By indah ip on Jun 23, 2009 | Reply

      waaa… asiknya pulang kampung sekeluarga..;-) di kelok 44 apa nggak papasan sama baruak yang sering seliweran? selamat berlibur ya pak EWA dan keluarga, ditunggu foto-fotonyaa

    3. By DV on Jun 24, 2009 | Reply

      Heheheh saya suka tulisan Anda, selalu lincah!
      Allah memang selalu tersenyum menciptakan dunia…

      Jadi pengen sate padang:)

    4. By DwiCy on Jun 24, 2009 | Reply

      Liburan menyenangkan Pak. Benar kata DV Anda selalu lincah.

    5. By Ria on Jun 24, 2009 | Reply

      wahhhh asyiknya liburan bersama keluarga :D
      selamat berlibur pak ;)

    6. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 25, 2009 | Reply

      Semoga bergembira bersama keluarga. Satu aktiviti yang mengasyikkan. Pasti banyak photo yang dirakam buat kongsian bersama nanti. Lebih menyenangkan lagi kerana balik kampung. Tentu keluarga di kampung tidak sabar menanti saat berkumpul bersama-sama. Salam hormat dan mesra selalu.

    7. By imoe on Jun 25, 2009 | Reply

      jiaaaa gak ngajak-ngajak….kapan balik pak ?

    8. By marshmallow on Jun 29, 2009 | Reply

      indak singgah bagai di puncak lawang, pak?

    9. By morishige on Jul 4, 2009 | Reply

      setuju, pak..
      karena waktu menciptakannya Allah tersenyum, terciptalah alam minangkabau yang indah..
      :D

    Post a Comment