Calo Di Bandara

20 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

CALO. Sejak pertama naik pesawat terbang, puluhan tahun lalu, satu hal (paling) tidak mengenakkan adalah soal calo. Gara-gara calo tiket pesawat, bisa membuat perjalanan kurang nyaman. Seseorang yang punya tiket saja ditanyai ini-itu, apalagi yang belum. Kalau tatapan kurang garang, bisa diseret-seret. Tidak elok dipandang tidak nyaman dirasakan.

Memahami jalur pertiketan di tangan calo, rada-rada lucu dan membingungkan. Lazimnya, tiket pesawat dijual di loket atau kantor maskapai penerbangan, atau di travel-travel. Tapi, bagaimana para calo bisa ‘menguasai’ tiket? Di loket boleh habis, di agen bisa saja ludes, tapi di depan loket maskapai penerbangan di bandara, sangat mudah ditemui —tepatnya didatangi– oleh mereka yang menawari tiket. Sekali lagi, sekalipun tiket di loket sudah habis.

Padahal pula, belakangan ini, pembelian tiket disertai kartu identitas, KTP atau SIM. Tujuannya agar tiket penumpang sesuai dengan siapa yang menumpang. Artinya, tidak memungkinkan sesorang memakai nama orang lain untuk terbang. Membeli tiket atas nama sendiri dan naik pesawat berdasarkan tiket tersebut.

Pertanyaan, Bagaimana calo bisa membeli tiket sementara penumpang yang akan dicaloi belum ada? Atau, ataukah calo mencari pembeli, membeli tiket kemudian dijual?

Kalaulah dinalar akan pusing sendiri. Pasti sudah, kalau bermaksud bepergian membeli tiket terlebih dahulu di travel atau di loket airline bersangkutan di bandara. Syaratnya sangat jelas, tiket dijual sesuai nama yang tertera di TKP pembeli. Kebijakan cerdas.

Hanya saja, kalaulah aturan diterapkan, tidak mungkin akan pernah ada calo tiket di bandara, apalagi di depan loket penerbangan. Atau, ataukah memang ada kongkalingkong antara pihak-pihak terkait hingga hal yang tidak mungkin menjadi mungkin? Cincailah.

Saya tak hendak membahas lebih kanjut. Kalau tertarik, atau pernah memikirkannya amati agak serius. Akan ditemui kelucuan tataran logika dan aplikasi. Kalau mau menikmati bandara tanpa calo, singgahi bandara Changi, KLIA, Jeddah atau banyak bandara di luar negeri. Di Indonesia?

Jangan bertanya kepada saya, buktikan saja. Pernah terlintas di pikiran, seandainya presiden terpilih mampu mengerakkan jajaran teritori bandara —minimal bandara Sekarno-Hatta— sungguh kemajuan luar biasa. Ataukah kita akan masih diringis soal calo, TKI ‘dikerjain’ di bandara Tanah Air tercinta. Atau, mungkin diperlukan waktu seratus tahun ke depan. Kalau sekarang kepesimistisan adalah wajar, sebab banyak orang melihat dan merasakan ketidaknyamanan, paling-paling mengerutu dan hal-hal lucu terus terjadi.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Langit, 20 Juni 2009.

  1. 4 Responses to “Calo Di Bandara”

  2. By DV on Jun 24, 2009 | Reply

    Saya dulu sangat terganggu dengan calo, tapi saya pikir budaya percaloan ini akan lenyap kalau birokrasi diperketat dan rakyat dididik tidak untuk memanfaatkan jasa para calo.

    Tapi kapan ya..?:)

  3. By alfiyah on Jun 25, 2009 | Reply

    Dari yang sudah pernah saya denger n kubuktikan sendiri yang namanya calo itu biasanya berasal dari golongan preman-preman yang sudah lama menguasai daerah tertentu dan mereka ini tentu saja sudah ada kongkalikong dengan pihak penjual tiket resmi karena nyawa dalah taruhannya ya mungkin anggapan mereka sama-sama cari makan begitu……Padahal kalau direnungkan calo itu= “garong alus-alusan” ( premanisme secara halus meminta duit dari korban)

  4. By SITI HARIYAH on Jun 26, 2009 | Reply

    cal-calo seperti itu sih kayaknya dah biasa. Sekarang ini yang baru ngetren calo UAN’UJIAN NASIONAL”mAU DIKEMANAKAN ANAK NEGERI INI JIKA CALO DUNIA PENDIDIKAN SUDAH MERAJALELA.

  5. By marshmallow on Jun 29, 2009 | Reply

    seperti juga calo-calo dalam kepentingan lain, pak. susahnya, mereka ini subur tak lain karena dipupuk oleh pihak-pihak berwenang juga. coba kalau tidak, tak bakal ada jalan. birokrasi dibuat sulit, sehingga orang merasa butuh calo.

    dan kesalnya kemarin saat hendak check in di bandara, saya sudah lama ngantri, tapi terus saja dipotong oleh para calo yang ngurusin check in pelanggannya. tiap calo bisa pegang lima sampai belasan penumpang. lha, saya yang sendiri dan light traveling tak perlu bagasi ini kapan dilayani? orang konter check in juga tidak berupaya menertibkan. antrian saya disambar, mereka cuek aja. beuh! nasiiiib…

Post a Comment