Pesawat

19 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

SEDIH. Gagasan Wright bersaudara untuk dapat terbang bak burung, kalau ditinjau dari keadaan sekarang, tentu jauh melampaui gagasannya. Jangankan antar benua, antar planet pun manusia mampu mengembangkan ‘kuda besi’ transportasi. Jarak dapat ‘diringkas’. Shalat subuh di Padang, pukul 10.000 Sampeyan bisa saja sudah memberi ceramah di Jogya, lalu malamnya berjalan-jalan di Orchad Road Singapura.

Kalau dihitung-hitung, sekalipun frekuensinya belum seberapa, saya termasuk yang sering menggunakan jasa pesawat komersial untuk bepergian. Dalam bulan ini, untuk satu hal ke UPI, sudah tiga kali pergi pulang ke Bandung. Atas ‘panggilan’ keluarga dan berlibur, dua kali pergi pulang ke Padang. Lalu apa yang menarik?

Saya sering mendengar cerita teman-teman yang kembali dari Jepang bahwa orang Jepang sangat suka membaca. Begitu cerita favorit mereka lengkap dengan kembangan dan bumbu penyedap. Kesannya, orang Indonesia itu malas membaca. Bolehlah. Tapi, setelah di Tanah Air, aslinya keluar, dia malas jua ai membaca. Dasar.

Biasanya, setelah awak kabin mengumumkan ikat pinggang pengaman boleh dilepas, banyak yang mengambil posisi nyaman, tidur. Bahkan, ada yang begitu pesawat lepas landas, go ke dunia mimpi.

Kira-kira, sekitar sepuluhan orang dari sekitar 200 penumpang membaca koran. Selain itu, ada yang berbincang dengan temannya, atau menjaga anak. Saya sangat jarang dapat saingan, menulis. Dapat dipastikan, menulis di pesawat tidak menjadi pilihan banyak orang. Itu kalau naik Lion Air.

Kisah agak berbeda bila naik Garuda. Biasanya memilih Garuda sebagi pilihan pertama. Kalau penumpang Garuda nampaknya memilih tidur pada bagian kedua waktu terbang. Kenapa?

Pengamatan saya, pada paroh awal penerbangan pramugari menawarkan permen. Kemudian minuman dan makanan. Pramugari sibuk melayani penumpang, penumpang sibuk mengisi perut. Biasanya pula, tidak berapa lama kemudian tertidur, dan terjaga ketika ada pengumunan: Para penumpang yang terhormat, dalam beberapa saat lagi kita akan mendarat di …

Saat menulis tulisan ini, kedua orang di sebelah kiri saya, bisa jadi sedang berkelana ke Kutup Utara dalam mimpinya. Matanya terpejam, kumisnya sedikit bergerak-gerak, jam tangnnya menunjuk angka 08.30. Sehirupan-sehiruan melalui ngangaan mulutnya dengkurnya bergabung dengan bunyi mesin pesawat. Hayya … Selamat datang di Bandara Soekarno-Hatta Tanggerang.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Langit, 19 Juni 2009.

  1. 4 Responses to “Pesawat”

  2. By DV on Jun 24, 2009 | Reply

    Waktu masih tinggal di Indonesia saya juga cukup sering naik pesawat Pak terutama bolak-balik Jakarta-Jogja.

    Tapi anehnya meski sudah berulang kali selalu saja ketika akan naik pesawat merupakaan saat-saat yang excitementnya luar biasa tingginya…

    Entah karena saya ndeso atau takut …:)

  3. By Mahfuzah Hidayati on Jun 25, 2009 | Reply

    kalau melihat kejadian-kejadian sekarang, bagimana kinerja pesawat komersil… rasanya saya yang tak pernah naik pesawat sekalipun jadi merasa ngeri debgan kejadian-kejadian itu.

  4. By Iwan Awaludin on Jun 25, 2009 | Reply

    Paling ngga ada saingan sih, Pilot nya Pak. Sementara yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing, pilot cuma nyetir hehehe. Asli ga ada saingan.

  5. By meiy on Jul 9, 2009 | Reply

    kalau di pesawat, aku terpaku melihat awan..dan bentangan alam yg luas, mungkin tak sampai setitik dari keseluruhan semesta. dan merasakan betapa kecil diri :)

Post a Comment