Pilrek Unlam: Belajarlah

18 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

LOGIKA. Membaca artikel Hadin Muhjad, Radar Banjarmasin, 18 Juni 2009, saya merasakan kelucuan. Ada ‘keluguan’ (logika) paparan sebagai respon atas adanya Sivitas Akademika Unlam kurang berkenan dengan Pemilihan Rektor (Pilrek) Unlam 2019-2013.

Menurut Hadin:  …. mekanisme pemilihan calon Rektor, yang sepenuhnya merupakan tugas Senat Universitas yang sama sekali tidak terdapat adanya keterlibatan Dosen, Mahasiswa dan Tenaga Administrasi dalam proses pemilihan Calon Rektor.

Hanya dengan keberanian Senat Unversitas Lambung Mangkurat berdasarkan Peraturan Senat Universitas Lambung Mangkurat No.312/H8/OT/2009 telah memberi kesempatan kepada Dosen, Mahasiswa, dan Tenaga Administrasi untuk menjaring pada tahapan Bakal Calon tanpa mempengaruhi atau mengurangi perintah Pasal 7 dan Pasal 8 Permendiknas No. 67 Tahun 2008.

Artinya, ‘keberanian’ Senat Universitas itulah pangkal muasal yang melahirkan banyak ‘bercana’ yang tidak perlu. Kalau tidak akan digunakan, buat apa  penjaringan? Membuang-buang waktu, energi, dan uang. Pekerjaan sia-sia seharusnya dihindarkan. Sudah pasti tidak akan digunakan, buat apa ‘ngerjain’ orang sekampus.

Harap dicatat, saya Bakal Calon Rektor Unlam 2009-2013. Sikap saya jelas, menerima hasil pemilihan Senat Unlam —betapa pun lucunya penyelenggaraanya— dan keputusan Mendiknas nantinya. Itu prinsip.

Tapi coba, saya didiskualifikasi pada menit-menit terakhir. Faktanya, sejak awal tidak menyerahkan satu pun persyaratan administrasi, kecuali kesediaan pencalonan. Semula berharap, begitu syarat tidak dipenuhi, langsung didiskualfikasi. Eit … tidak menyerahkan foto, panitia berinisitatif mencari foto saya. Tanpa izin lagi. Luar biasa.

Setelah tampil dua kali pada etape Sosialisasi Balon Rektor Unlam 2009-2013, pada saat akan tampil pada pemaparan Rencana Kerja —karya saya sangat hebat ‘Transparansi Manajerial Unlam’— Senat Unlam berdebat: Boleh apa tidak Ersis tampil? Padahal, saya diundang resmi oleh Ketua Senat Unlam untuk memaparkan program kerja. Sampai-sampai, Muslih Amberi (Dekan FISIP) bereaksi keras: Dangsanak, kalau tidak dibolehkan, kita tuntut. Itu didukung beberapa teman anggota Senat Unlam.

Banyak orang lupa, walaupun dikategorikan ‘anak kemarin sore’, saya berteman seperjuangan dengan banyak anggota Senat Unlam, dan mereka menyupor agar pemilihan lebih semarak. Beberapa orang sejak 10 tahun lalu menginginkan change mendasar di Unlam, terutama sistem manajerialnya. Tapi, sudahlah. Itu cerita yang ketinggalan kereta. Untung saja didiskualifikasi.

Kembali ke pokok soal, Sebagai Bakal Calon Rektor Unlam 2009-2013 saya tidak mau mengikuti ‘pencontrengan’. Seorang teman marah-marah: “Kami  buatkan Sampeyan spanduk, kampanye, dan bla-bla. Sampeyan memilih diri sendiri saja tidak mau”.

Saya jawab agak ketus: “Sampeyan ini korban. Coba saja nanti. Buktikan. Apa yang kalian lakukan, adalah kesia-sian”. Sebenanrnya sedih, mahasiswa dan beberapa kawan begitu antusias mendukung, tanpa sepengetahuan saya awalnya. Lalu kenapa tidak ikut penjaringan?

Ya, itu tadi. Bertentangan dengan peraturan. Lalu, kenapa Senat Unlam melakukan? Tanya saja kepada Senat Unlam. Apakah tujuannya untuk pendidikan demokrasi, memperlihatkan kampus demokratis, atau apa begitu, saya tidak aham. Jelas-jelas tidak sesuai peraturan, kok dilakoni. Aneh.

Betul saja, ternyata hasil pilihan Senat Unlam tidak seirama dengan hasil penjaringan alias aspirasi terbesar insan kampus. Nah, pertanyaan atau gugatan bermunculan. Mahasiswa melakukan aksi protes, ada yang menulis di media cetak, spanduk-spanduk mengecam ‘menghiasi’ kampus. Protes bincangan berkembang. Pokoknya, suasana kurang nyaman.

Pertanyaannya: Siapa yang keliru memahami Pilrektor Unlam? Atau, siapa yang keliru konsep, dan atau, aplikasinya?

Ketika teman-teman, mahasiswa, dosen, dan karyawan Unlam mengundang membicarakan ‘ketidaknyamanan’ tersebut, saya lagi sibuk mengurus S3 teman-teman FKIP ke UPI Bandung. Saya mengusulkan Paket Pilrek 20013-2017. Apa itu?

Di tiap fakultas dilakukan penjaringan, dipilih satu bakal calon rektor dari tiap-tiap fakultas. Ketika didapat 12 balon, balon ini masuk penjaringan tingkat universitas. Dipilih 6 balon yang akan dipilih oleh Senat Unlam. Senat Unlam memilih 3 calon untuk diajukan kepada Mendiknas. Mendiknas memilih satu diantaranya. Dan, … jadilah Ersis Rektor Unlam 20013-2017 he he.

Itu baru cerdas. Membangun sistem yang tidak berkesan main-main, tidak merugikan pihak mana pun dan keterlibatan Sivitas Akademika tidak sia-sia. Minimal, Demokrasi Setengah Hati.

Kepada warga Unlam, sudahi sajalah. Sahabat saya Hadin, lebih bijaklah. Mari kita membangun sistem Unlam ke depan. Saling ‘menyentil’ tidak elok, membuat orang se kampus menggerutu, tentu lebih tidak elok. Tidak ada yang menjadi sempurna begitu saja. Perlu proses pembelajaran. Pembelajaran itu yang dipanah. Belajar dari petristiwa, dari sejarah.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 18 Juni 2009.

  1. 17 Responses to “Pilrek Unlam: Belajarlah”

  2. By DV on Jun 18, 2009 | Reply

    Kagum saya melihat ‘pembelaan’ Anda.
    Tidak menyerang balik, tapi memberi contoh nyata lalu merangkul.

    Maju terus untuk kebaikan, Pak Ersis!

  3. By alfaroby on Jun 18, 2009 | Reply

    ide yang brilian tuh pak..
    emm… saya juga ada ide nih..
    bagaimana kalau mahasiswa juga dilibatkan dalam proses ini.. walaupun di pilih satu atau dua perwakilan saja (mungkin ketua BEM) untuk ikut berpartisipasi…

  4. By ganjar on Jun 18, 2009 | Reply

    hehehe
    knapa jd “bercana” pak???
    mudahan beneran pian jadi tahun 2013-2017
    amien….. untuk Unlam yang lebih baik

  5. By AeArc on Jun 18, 2009 | Reply

    hmmm.. capek ngbacanya..

  6. By madie on Jun 18, 2009 | Reply

    trus pak, apa komentar pian melihat spanduk yang berhamburan tidak karuan (pian bisa baca sorang kan spanduk putih ut,,)..??
    saya juga bingung pak, coz jadi korban ke sia2an juga kemaren hehehe..

  7. By marshmallow on Jun 18, 2009 | Reply

    mungkin saat itu para senat universitas ambil aksi dulu, pikir belakangan. akibatnya, banyak yang sia-sia dan mubazir. setuju bahwa sistem yang harus dimantapkan terlebih dahulu. bila ingin menyuburkan atmosfir demokrasi di kampus, maka berikan contoh-contoh konkrit terlebih dahulu. apa yang terjadi di unlam, sayang sekali, belum bisa mecontohkannya.

    ya, belajar memang butuh proses.

  8. By he benyamine on Jun 19, 2009 | Reply

    Ass.

    Pelrek Unlam, kelihatan main2 dan mempermainkan. Main2 dengan peraturan, dan mempermainkan sivitasnya sendiri dengan penjaringan tersebut. Sebenarnya tidak ada yang lucu, tapi menyedihkan.

    Memang, belajar butuh proses, tapi tidaklah belajar namanya bila mempermainkan proses yang dijalani.

  9. By newsoul on Jun 19, 2009 | Reply

    Inilah kebesaran hati pak EWA. Lapang dada melihat fakta yang menyesakkan. Semoga semua pihak yang terlibat dan berkepentingan pada Pilrek Unlam bisa belajar dan mengambil hikmah.

  10. By Rizal Hasannor on Jun 19, 2009 | Reply

    setuju pak,,tak baik rasanya jika kita terus saling menghujat. yang dulu biarlah berlalu agar dijadikan pembelajaran demi kebaikan yang akan datang.

  11. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 19, 2009 | Reply

    Semoga berjaya pada masa akan datang. Tiap rezeki ada tempat yang sesuai untuk dinikmati. Jika tidak sekarang, pasti rezeki itu akan mendatang kemudian. Salam hormat.

  12. By siti hariyah on Jun 19, 2009 | Reply

    Segala sesuatu ada hikmahnya. Allah mempunyai rencana yang tidak kita ketahui.

  13. By morishige on Jun 20, 2009 | Reply

    kalau menurut saya, dalam hal tertentu “serahkan saja sesuatu pada ahlinya”
    di kampus saya, seingat saya, gak pernah ribut gara-gara pemilihan rektor.

  14. By Andy MSE on Jun 20, 2009 | Reply

    mohon maaf, lama ndak mampir ke sini, hihihi…
    sekalian mohon ijin nge-link tulisan-tulisan di sini…
    salam

  15. By mas8nur on Jun 21, 2009 | Reply

    Kayaknya intinya adalah pendewasaan dan mendewasakan dalam menghadapi kasus. Sukses selalu ya Bang.

  16. By hajriansyah on Jun 22, 2009 | Reply

    luar biasa… gentleman!

  17. By peayudi on Jul 20, 2009 | Reply

    salam pa ersis sungguh luar biasa anda mampu menuangkan pemikiran anda dalam tulisan,kelbihan anda yang tidak semua dosen unlam mau atau mampu mengikuti.

  18. By +++++ on Sep 3, 2009 | Reply

    Diri qu hanya menangis karna kesedihan yang selalu
    Qu bawa langkah demi langkah diri qu menetes kan air mata qu seakan sudh
    Tidak tempat kebahagian lagi di dunia ini untuk qu hari
    Demi hari aku berjalan menyusuri dunia ini seakan tidak
    Ada arti nya lagi hidup
    Qu ini malam pun tiba
    Aku qu pandangi bintang di malam hari
    Terasa hati qu membeku dingin nya
    Angin malam diri cuma hanya bisa menangis karena kesedihan yang selalu qu pendam di hati qu
    Tak dengan air mata qu tidak dapat meng
    Ganti kan kesedihan qu

Post a Comment