Kepengecutan Keilmuan dan Ahli Pendidikan
17 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |Seseorang, berpendidikan akademis non kependidikan, mendosen di LPTK … eit merasa lebih hebat dari yang berpendidikan di LPTK. Kalau ada ‘proyek’ berbau pendidikan main serobot. Sebagai ilmuwan bidang tertentu kenapa tidak membuktikan kemampuan berkutat di bidangnya?
Seseorang, yang dididik di LPTK (calon guru), melanjutkan studi S2 dan S3 ke bidang ‘ilmu murni’ (ilmu pendidikan keruh kali ya) — bukannya membuktikan kepakaran di bidang keilmuannya … eit kalau ada ‘proyek’ kependidikan merasa paling kompeten. Dia lupa … dasar ilmu kependidikan hanya setingkat guru … pengajar, bukan ahli pendidikan.
Seoserang berpendidikan akademis non-kependidikan, mengajar di PT, menjadi guru (dosen) merasa ahli pendidikan, padahal mana dasar keilmuannya.
Seseoang yang dari lahirnya tidak tahu menahu ilmu kependidikan, merasa berhak dan fun-fun saja menjabat sebagai birokrat pendidikan, bahkan menjadi Mendiknas. Jabatan kependidikan, bisa dipangku siapa saja … weleh weleh. Coba kalau berani … benahi bidang sesuai keilmuannya, sukses baru hebat..
Banyak orang merasa ahli, di berbagai bidang, mereka tidak berkutat di bidangnya, tetapi ramai-ramai menyerbu bidang pendidikan. Di bidangnya tidak jelas, melecehkan ahli pendidikan, dan ‘merampok’ di bidang kependidikan … dan jadilah kualitas pendidikan tidak karu-karuan. Lebih sadis, tidak karu-karuan pula di bidang keilmuannya. Malang nian nasib Indonesia.
Lebih lucu, ada yang tidak bisa membedakan … pendidikan keahlian kependidikan (kurikulum, manajemen pendidikan, administrasi pendidikan, dan setersnya) … dengan … pendidikan keguruan. Guru bukanlah ahli pendidikan, tapi … sejak di LPTK disiapkan menjadi guru (bidang tertentu).
Kalau … orang berkuasa di republik ini berprinsip … saya minta mereka yang ahli pendidikan untuk memikirkan, mengelola, melaksanakan, dan bla-bla hal-hal kependidikan. Padahal, perbedaan antara guru dan ahli pendidikan saja dia tidak paham he he he
Kalau semua orang berpikir demkian, mungkinkah pendidikan maju dan berkualitas? Entahlah, jawaban mengelaknya. Kenyataan lapangan jawaban sesunguhnya. Mungkin, sekali lagi mungkin, itulah yan terjadi di republik tercinta ini.
Inikah yang dimaksud Hadis Rasulullah: Apabila pekerjaan tidak diserahkan ahlinya, tunggulah kehancuran. Entahlah.
Banjarbaru, 17 Juni 2009
Bagaimana menurut Sampeyan?













17 Responses to “Kepengecutan Keilmuan dan Ahli Pendidikan”
By DV on Jun 17, 2009 | Reply
Menurut Pak Ersis, kalau orang dari disiplin ilmu Pendidikan memimpin Departemen DikNas, siapa yang paling layak?
By Ersis Warmansyah Abbas on Jun 17, 2009 | Reply
DV: Prof. Dr. Suyanto; begitu banyak pilihan, bukan Bambang Sudibyo yang ekonom, Wardiman yang teknolog, Nugroho yang sejarawan-militer, bukan semperti Mendikbud/Mendiknas terdahululah … hasilnya kan jelas, kualitas pendidikan dipertanyakan, mana ditarik kesna-kemari. Banyak yang lucu dalam kebijakan pendidikan kita.
By he benyamine on Jun 17, 2009 | Reply
Ass.
Jadi, tidak bisa dilanjutkan dong? ha ha ha
By Blogger senayan on Jun 17, 2009 | Reply
salam
apa kabar tuan?
dikotomi antara belajar ilmu murni atau keahlian memang tiada ujung, karena memang mempunyai perbedaan substansial, namun yang terpenting adalah saling menghargai antar tukang dan tukang pikir, heheheh
thanks
By puyak on Jun 17, 2009 | Reply
indon punya banyak orang2 hebat, tp kenapa negara kita sepeti semangka,besar, murah dan mudah dipecah,kpn kt jd duren yg punya taji, berharga dan wangi,,mungkin orang2 hebat ini terlalu egois dan pergi keluar negeri, dan memang bkn salah mereka, salah siapa? entahlah?
By ismawardah on Jun 17, 2009 | Reply
Saya harap pemerintah mengeluarkan peraturan, tentang syarat menjadi seorang pengajar di SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, khususnya di FKIP harus lulusan dari akademis pendidikan.
By reallylife on Jun 17, 2009 | Reply
ya memang bener pak
gimana mau maju kalo nda ngerti, makanya yang ahli yang musti ngurusin
By sawali tuhusetya on Jun 17, 2009 | Reply
ini berkaitan dg soal kepentingan, pak ersis, siapa menguntungkan siapa, masalah expert itu jadi nomor sekian.
By suryaden on Jun 17, 2009 | Reply
istikomah dengan rasulullah saya, benar jika bukan ahli pendidikan ngurusi pendidikan… halah… pak EWA sudah jelas mengalami dan merasakan akibatnya
By SQ on Jun 17, 2009 | Reply
wah..wah, antara manajer dan tenaga teknis saja memang harus beda..apalagi bila sampai crossing-crossing demikian.
Kalau diiringi niat baik, mungkin bisa dibenahi, dan penyadaran hadir. Sayangnya ya…kalau niat memang buruk dari awal…sudahlah..
By Kris on Jun 17, 2009 | Reply
Salam kenal kang…
Memang dunia ini tambah aneh..
By kangBoed on Jun 18, 2009 | Reply
hehehe.. zamannya kacau yaaa paaak
Salam Sayang
By Zulmasri on Jun 18, 2009 | Reply
tenang aja. mudah-mudahan habis ini giliran pak ersis yang menggantiin pak bambang. saya akur….
By emfajar on Jun 18, 2009 | Reply
sepertinya kalo bukan dengan ahlinya segala sesuatu terlihat dipaksakan..
By rasid on Jun 18, 2009 | Reply
seharunya dengan ahlinya…
By Mahfuzah Hidayati on Jun 26, 2009 | Reply
Inginnya mengagungkan profesionalitas,tetapi nyatanya?
By itempoeti on Jun 27, 2009 | Reply
justru kehancuran sekarang ini karena pekerjaan diserahkan pada ahlinya… ahli menghancurkan…