Payakumbuh

16 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

SEDIH. Siapa pun Sampeyan, tentu telah mengalami suka duka kehidupan, sesuatu yang tidak bisa ditentukan sendiri sekalipun dapat diusahakan, tapi keputusan tetap milik Yang Mahakuasa.   Tentu, semua orang menghendaki suka atau yang baik-baik saja. Tidak ada yang menginginkan duka. Tetapi, hidup ya begitulah. Tidak semua keinginan (baik) terkabulkan.

Pikiran melayang ke masa ketika bersekolah. Iciak Isan begitu saya memangil Beliau, adik ibu, pedagang beras, adalah inspirasi bisnis. Beliau selalu punya uang, apalagi hari pasar, dan … selalu memberi. Semakin tinggi sekolah semakin banyak dapatnya he he. Suami Beliau, Pak Osu Roti, mempunyai bendi (delman) dan tentu gratis ditumpangi.

Nah, kedatangan saya ke Payakumbuh, bukanlah untuk bersliturrahim atau berwisata, tetapi, mengubur Iciak Isan yang menyusul Pak Osu. Tentu, tidak mungkin menulis kesediahan keluarga besar. Tulisan ini mengabaikan soal duka, tetapi mencoba mengambil hal-hal baik, pelajarannya.

Begitu sampai di rumah duka, titik air mata ah … sudahlah. Saya menghampiri jasad yang sudah kaku itu, memanjatkan doa, dan setelah sesunggukkan mengurang, muka Beiau ditutup. Kain putih menjadi pakaian terakhir. Kain kafan, pakaian dunia terkahir dikenakan utuh. Lalu, dishalatkan di mesjid, dan kemudian dikebumikan.

Sehabis penguburan, setelah suasana dapat diterima ‘perasaan’ dimulailah perbincangan keluarga. Maklum, keluarga berpencar di berbagai daerah di Sumatera Barat, di berbagai provinsi, sampai ke Kuala Lumpur. Kami keluarga besar, tetapi ya itu tadi … banyak yang merantau.

Sebenarnya, kalaulah tidak dalam suasana duka, ‘reuni’ akan menyenangkan. Keluarga ‘luar’ juga berdatangan. Bahkan, sesuai acara yang teah direncanakan, Keluarga Solok Selatan di Payakumbuh siang itu mengadakan pertemuan. Sayang tidak sempat hadir.

Ya, dalam duka, betapa pun sedihnya, ada hikmah. Kita mampu lebih mengingat, bagaimanapun kepastian yang tidak pelu dipertanyakan lagi … semua akan mati … meninggal. Tinggal menunggu giliran masing-masing yang telah ditetapkan Allah SWT. Kematian sesorang hakikatnya pembelajaran bagi yang (kebetulan) masih hidup.

Lembah Harau, Ngalau Kamang, Lubuak Mato Kuciang, Payakumbuh yang bersih, penerima Piala Adipura, sementara dilupakan. Semoga Allah SWT memberi kesempatan lebih nyaman yang memungkinkan saya ke Paykumbuh, dan menulis berbagai aspeknya. Payakumbuh memang bak perawan mekar untuk ditulis, tapi suasana untuk itu belum kondusif kali ini. Selamat sore Payakumbuh.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 16 Juni 2009.

  1. 5 Responses to “Payakumbuh”

  2. By DV on Jun 17, 2009 | Reply

    Ikut berduka cita, Pak Ersis.

  3. By he benyamine on Jun 17, 2009 | Reply

    Ass.

    turut berduka, Pak. Moga beliau mendapatkan tempat yang indah, melebihi keindahan kenangan Pak Ersis semasa kecil bersama beliau.

  4. By imoe on Jun 17, 2009 | Reply

    Ikut berduka cita pak. Payakumbuh malam hari indah bgt pak…singgahlah ke pesantren uda VIZON (www.surauinyiak.wordpress.com) di koto nan ampek..

  5. By marshmallow on Jun 18, 2009 | Reply

    turut berduka cita, pak ewa.
    sayang sekali acara reuni ini harus berlangsung dalam suasana berkabung.
    tapi hidup terus berjalan. yang meninggal pantas dikenang dan didoakan, namun yang hidup jangan kehilangan semangat untuk melanjutkan perjalanan mencapai garis final yang sama. kelak. entah kapan.

  6. By alris on Jun 19, 2009 | Reply

    Awak ikuik badukocito, innalillahi wainnailaihirojiun.

Post a Comment