Bukit Tinggi
15 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |GUNUNG. Bukit Tinggi, tidak pelak lagi, menjadi tujuan wisata banyak orang. Jangankan orang luar, Urang Awak saja bila pulang kampung berusaha menyempatkan singgah ke Kota Jam Gadang tersebut. Apalagi, orang Bukit Tinggi he he.
Tentu bukan Jam Gadang, Ngarai Sianok, Benteng Van der Vock, masakan, atau oleh-oleh saja yang menggoda. Kalau ke Bukit Tinggi, kala pagi menjelang atau senja mendatang, jelajahkan mata memandang ‘tiga tunggu’ gunung di Bukit Barisan, Gunung Marapi, Singgalang, dan Tandikek. Saking mempersona, dijadikan bahan pemicu inspirasi bagi seniman Minang mencipakan lagu, cerpen, atau novel.
Dari lantai tiga Lima’s International Hotel memuaskan pandangan melahap Bukit Tinggi pagi hari. Kabut masih menyelimuti, mentari belum memancarkan cahanyanya. Kesejukkan megirim kenyamanan ke seluruh tubuh. Oh Bukit Tinggi. Saya menulis lirik (syair) lagu. Ada yang berminat?
Sungguh sayang saya di Bukit Tinggi bukan pada waktu dan suasana menyenangkan. Untung saja pikiran menghentak, kesedihan bukan untuk membunuh pikiran atau kenikmatan. Saya dapat pelajaran, kejadian ya kejadian, dan pada kejadian kita tidak punya kuasa apa-apa. Tinggal bagaimana merespon atau memaknai suatu peristiwa. Apa pun jadinya, kejadian telah terajadi.
Memutar kota, mobil menuju Payakumbuh. Sawah di ketinggian Bukit Barisan yang berjenjang-jenjang dengan penjagaan ketat bukit kapur aneka rupa, mendatangkan sensasi pandangan tersendiri. Rupanya pembangunan sedang berkembang pesat. Jalan raya Bukit Tinggi-Payakumbuh kita mulai ditaburi ruko. Sekalipun begitu, suasana khas Minang, baik penampakan pertanian, rumah penduduk, atau Rumah Gadang masih terlihat ‘kokoh’.
Lebih memberi harapan, pembangunan gedung-gedung pemerintah, hotel, bahkan rumah rakyat, sekalipun berarsitektur moderen, ciri khas Minang jelas, terpahat disitu. Bisa jadi, Bukit Tinggi sebagai ‘pusat’ nampaknya sangat menjaga budaya karya Minang, dan hal tersebut bersambut dengan daerah-daerah, oleh penduduk, kira-kira dalam kesedaran mengembangkan budaya Minang.
Pagi itu, dari dalam mobil sembari mendayagunakan imajinasi memetakan tempat-tempat yang akan dikunjungi anak-anak. Skenario tersusun dengan sendiri. Bagaimanapun saya punya kebiasaan, membawa anak-anak kemana saja kalau tidak ada nilai edukatifnya kurang sreg. Apalagi ke Ranah Minang, berwisata sembari ‘berlajar’.
“Anak-anak ngak sabar tu, mereka mau cepat-cepat menetapkan skedul dan pilihan daerah wisata”, SMS istri membuyarkan imajinasi. Aprivisi malahan menelopon … Wuiw sabar saja … takkan lari gunung dikejar.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 15 Juni 2009.













9 Responses to “Bukit Tinggi”
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 15, 2009 | Reply
Assalaamu’alaikum..
Wah..banyaknya tempat yang menarik untuk dikunjungi. Pengalaman mendidik kita menghargai apa yang pernah dilalui dan semestinya tidak ada kerugian jika kita suka menjelajah ke mana-mana tempat di ruang muka bumi ini untuk memerhati, meneliti dan mengkaji apa yang ada di sekeliling kita. Terpulang kepada kita…jika ada sesuatu yang boleh dijadikan iktibar, maka di situ berlakunya pembelajaran yang bermakna dan memberi pencerahan yang baik buat akal dan hati. salam hormat selalu.
By newsoul on Jun 15, 2009 | Reply
Bukit Tinggi, Tunggu saya datang lagi. Kota indah nan sejuk, Paris Van Sumatera. Postingan ini membuat saya ingin segera kesana lagi pak EWA.
By imoe on Jun 15, 2009 | Reply
masih di padang pak ?
By Zulmasri on Jun 16, 2009 | Reply
bukit tinggi koto rang agam, ada lagu yang dinyanyikan elly kasim. lagu tempo dulu. aha, tentu untaian lirik yang dari pak ersis juga menggoda.
bagi saya, bukit tinggi adalah kota kenangan. indah dan melenakan. kapan-kapanlah saya mungkin akan ke sana.
bukit tinggi, tunggu aku….
By DV on Jun 16, 2009 | Reply
Wah ada yang mudik ceritanya..:)
By he benyamine on Jun 16, 2009 | Reply
Ass.
dua kota dua wajah, Banjar dan Bukit tinggi, satu mulai kehilangan ciri satunya masuk modern dengan tetap berciri
By meiy on Jun 16, 2009 | Reply
syukurlah pembangunan kampung tak meninggalkan ciri khas minang.
bukitinggi I am comiiing
By edo on Jun 16, 2009 | Reply
ndeh…
sato ciek da!
*yg dh lama ngga pulang kampung…
By yoesrinal on Jul 6, 2009 | Reply
Bagus banar pian manulis,ingat jua kampung halaman nan jauah dimato.
Wassalam