Padang

14 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

SATE. Mendekati keberangkatan ke Banjarmasin, telepon dari adik saya yang mendosen di Universitas Bengkulu, sungguh mengangetkan. Iciak, adik Ibu, meninggal. Waduh, tiket Lion Air ke Banjarmasin yang sudah di-chek in-kan, jangankan dikonversikan, dipakai untuk beberapa hari ke depan tidak bisa. Diberikan kepada petugas, mereka tidak mau menerima. Alias, hangus. Lalu bagaimana dengan tiket yang di tangan calo? Sebodoh.

Terpenting, sekalipun awalnya penumpang cadangan, bisa berangkat. Saya sempat minta tolong Walikota Banjarbaru meminta nomor HP ‘kepala’ petugas tiket di bandara Soekarno-Hatta. Doa dikabulkan Allah SWT. Tergesa-gesa karena penungpang terakhir, pada pukul 20.00 naik Lion Air ke Padang. Pesawat hanyar Lion berbadan besar tetap saja tidak mampu melawan gumpalan awan. Berguncang-guncang.

Minangkabau Airport seolah menyambut — geer saja euy— seorang perantau. Saya menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Kalau ke Padang, yang agak menyedihkan, jarang mengenal ‘orang kampung’ di pesawat atau bandara. Berbeda dengan di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, bisa sibuk bertegur sapa dengan berbagai orang. Bahkan, di Bandara Soekarno-Hatta ada saja beberapa yang dikenal. Di Bandara tanah kelahiran, justru serasa di rantau. Begitulah nasib anak rantau he he,

Keluarga di Padang sudah ke Payakumbuh. Bapak dan Ibu sudah di Solok bersama adik-adik (Saya menelepon tanpa berkhabar sudah di Padang, tidak ingin mengangetkan). Menikmati suasana bandara sampai menjadi penumpang terakhir ke luar Bandara. Alhamdulillah dunia ‘bawah tanah’ tidak seperrti ‘preman’ Cengkareng memperlakukan TKI.

Saya menlepon Aprison, yang biasa mengantar, bila pulang, kemana pun ke pelosok Sumatera Barat agar ke kedai Sate Padang Lawe. Setelah puas bercerita, Aprison sopir yang kuliah dan kini telah menjadi PNS kehakiman datang dengan kendaraan plat merah. Wiui hebaaaat, bangga nian awak ni. Intinya, minta dua minggu membawa anak-anak saya mengudak-udak Ranah Minang yang mempesona.

Tengah malam itu, bersama si Boy meluncur ke Bukit Tinggi. Malam, ‘Kampung Rantau’ agak sunyi. Saya sengaja membuka jendela mobil, angin dingin Silaing, pendakian tajam menjelang Padang Panjang, masuk menusuk-nusuk. Lembah Anai dan air terjunnya yang dikombinasikan rel kereta api dan pohon-pohon menawan tak terlihat pandangan.

Bukit Tinggi, ho oh. Langsung ke Jam Gadang dan menikmatinya sejenak. Saya selalu tetegun di Jam Gadang. Soalnya, puluhan tahun lalu inilah tempat favorit pacaran he he, dan … Ngarai Sianok. Lalu, ‘mendarat’ di Limas Hotel, di lantai 3. Tidur nyenyak sampai pagi menyapa. Mimpi di kampung, asyik juga rupanya he he.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Bukit Tinggi, 13 Juni 2009.

  1. 3 Responses to “Padang”

  2. By imoe on Jun 15, 2009 | Reply

    bato pak…ka padang indak mangalason bagai doh…

  3. By he benyamine on Jun 16, 2009 | Reply

    Ass.

    dua bandara dua tabiat, cengkareng dan minangkabau airport, jelas terlihat perbedaan hati ha ha ha

    dua bandara dua suasana, satu tegur sapa satunya perlu mencari yang bisa ditegur hahaaaa

  4. By meiy on Jun 16, 2009 | Reply

    ranah tacinto yo pak, selalu indah

Post a Comment