Jakarta

13 June 2009 | Ditulis oleh: EWA |

BINTANG. Kemana kali ini? Begitulah pertanyaan ketika bangun pagi itu di Orchadz Hotel Jakarta. Sehabis makan, jawabannya saya sampaikan kepada Pak Sofyan, Bambang, dan Makrupul … Planetorium. Mereka OK. Sayang Makrupul harus kembali ke Bandung. Banyak hal yang harus diselesaikan calon Doktor yang ahli nyanyi tersebut.

Setelah menyelesaikan tugas pokok, jam 12.45 ke Planetorium. Pertunjukkan hampir dimulai. Eit … kami bergabung dengan anak-anak SD dan orang tua mereka. Bercanda saya bilang: “Pak Dekan, kita menjadi bocah, belajar bisa dari mana saja”. Dia sudah hapal gaya saya.

Begitulah. Hampir satu jam kami mengelana ke Bima Sakti. Sungguh ternyaman paparan suara pemandu dengan narasi sangat bagus bermateri solar system dalam hantaran kalimat singkat, padat, tepat dan leluconnya. Kepada Bambang saya bilang: “Kalau guru-guru menerangkan pelajaran di kelas-kelas Indonesia seperti itu, tidak dapat tidak, anak-anak Indonesia akan sangat hebat”.

Sehabis ‘berziarah’ ke ruang angkasa mampir di cafe kawasan planetorium. Kami merancang banyak hal. Perbincangan biasanya lebih bermakna selepas makan. Dua jam lebih mengevaluasi gagasan besar yang tengah kami rintis sampai pada jalan ke luar dari hal paling terburuk.

Sekitar pukul 17.00 sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Kecapekan mulai mencandai badan. Maklum, kami sudah tua. Segera ke area refleksi. Sedang asyik-asyiknya Pak Sofyan dan Bambang diurut, saya cabut ke loket Lion Air. Duh … mak, tiket tidak ada, pesawat penuh.

Di loket 12 minta dijadikan cadangan. Punya waktu satu jam menunggu kepastian. Pesawat ke Banjarmasin pukul 19.00 dan ke Padang pukul 20.00. Tidak mau bingung, ke kantor pengaduan … duh kok pada marah-marah. Lion juga sih menempatkan trainee menghadapi orang-orang panik. Kasian yang mengeluh, kasian yang melayani.

Perhatian tercurah pada seorang wanita yang menangis dengan segala kemampuannya sampai air matanya tidak ada lagi. Sejam lalu, menjelang pintu masuk, mengegerkan banyak orang. Naluri kewartaan saya ‘bicara”. Oh … rupanya dia punya tiket ke Mataram, maunya ke Arab Saudi.

Konon, lelaki Arabnya menipu. Dijanjikan ke Arab Saudi, eit … diberi tiket ke Mataram. Versi lain macam-macam. Maklum, si wanita bisanya menangis doang. Kasian … anak bangsa di negerinya sendiri. Tapi, siapa peduli? Saya sempat menegur beberapa orang berbaju seragam: “Kalian bawalah ke petugas berwenang, masyak orang stres dibiarkan begitu saja”. Mereka bingung saja nampaknya.

Walah … panggilan agar penumpang ke Padang naik pesawat berkumandang. DiOK petugas, dan ke kasir, ke pintu A3, naik pesawat menuju Padang. Menuju my Kampoong.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Jakarta, 13 Juni 2009.

Post a Comment