Kiat Menulis: Memanfaatkan Ide
4 May 2009 | Ditulis oleh: EWA |Ada ratusan ribu blog. Ada jutaan postingan; dari yang sederhana sampai teramat serius. Memelihara blog memakai waktu, pikiran, dana, dan seterusnya. Ide lanjutannya?
Blog saya, www.webersis.com, semula dimaksudkan untuk ‘menampung’ tulisan di media cetak. Pembuatan blog atas anjuran seorang sahabat. Dia paham, saya tidak terlalu memperdulikan tulisan yang dimuat banyak media. Soal pengarsipan, perduli amat. Biasanya, begitu disapa ide menulis sesuatu, ya ditulis, lalu dikirim ke media cetak. Mau dimuat, diberi honor, atau apa, sebodoh.
Begitu buku Menulis Sangat Mudah beredar secara nasional, sahabat sharing menulis berdatangan. Banyak hal dibincang, ratusan masalah dibahas, ribuan ide mengemuka. Menulis tentang menulis menjadi keseharian. Ada saja ide tulisan tentang menulis. Heran. Tidak pernah habis.
Suatu ketika, karena terasyik menulis di blog, muncul ide, menulis untuk dibukukan. Caranya, menulis dalam format buku. Contohnya seperti rangkain tulisan yang sedang Sampeyan baca, seputar Ide Menulis. Kalau bosan, tutup. Beralih ke topik lain. Saking terbuainya, seorang teman menganjurkan, stop saja pada buku ketiga. Katanya, menuis tentang pendidikan jadi terabai.
Tetapi, swahai para sahabat maya. Tidak terlaksana. Kini, naskah buku tersebut sudah terformula dalam belasan buku. Terlintas menutup pada buku kesepuluh tentang menulis. Bagaimana mau membatasi, ada saja ide tentang menulis minta dituliskan. Ya, tulis saja.
Habis, ada saja yang bertanya, mendebat, mencela, menghina, atau apalah begitu. Otomatis, di pikiran langsung terpola. Padahal, tidak dipikirkan. Ide menyapa begitu saja. Sudahlah, manfaatkan saja. Tulis saja. Apa tidak merepotkan melayani ide tersebut?
Sejauh ini tidak. Menulis tidak bergaya bertapa atau pakai renungan mendalam. Soal bermutu atau tidak, pun tidak dipikirkan. Terserah pembaca sajalah. Habis, ketika bosan mendengar ceramah, menulis. Kalau ada waktu rehat, menulis. Terkadang, sembari menyimak pertanyaan mahasiswa, menulis. Tidak menganggu pekerjaan pokok.
Kembali ke ide menulis di blog sebagai parkir sementara ‘calon’ buku, ternyata sangat membantu. Biasanya, tulisan tersebut dikomentari, disanggah, atau ditambahi ide baru. Manfaatkan. Tulisan lebih berotot. Bandingkan dengan teman-teman yang menulis setiap hari di blog, tidak bermuara pada buku. Sayangkan.
Kepada para sahabat menganjurkan, tidak ada salahnya menulis di blog untuk dijadikan buku. Saya bukan hebat menulis buku, hanya saja memanfaatkan ide.
Bagaimana menurut Sampeyan?













14 Responses to “Kiat Menulis: Memanfaatkan Ide”
By sawali tuhusetya on May 4, 2009 | Reply
setuju banget, pak, menulis di blog utk dibukukan. repotnya, cari penerbitnya yang tidak mudah, pak, hehe ….
***Ha ha ha … Pak Sawali merendah-rendah, mdah aja kok …
By Ikkyu_san on May 4, 2009 | Reply
hahahha setuju pak sawali,
meskipun kalau kita sendiri bermodal, cetak saja dulu, urusan penerbit belakangan, seperti yang marak dilakukan di sini. Self publishing.
EM
***Bisa self publishing bisa jalin kerja sama dengan penerbit. Itu tantangan tersendiri lho.
By DV on May 4, 2009 | Reply
Bagus, Pak!
Saya pernah seperti itu, tiga tahun lalu ketika gempa di Jogja, saya menulis di blog lawas saya eh tau-tau ada penerbit tertarik membukukan, maka jadilah buku saya yang pertama dan sampe sekarang belum menulis lagi
***Tinggal menjadikan buku berikutnya; pasti deh bukan … the one and the only
By newsoul on May 4, 2009 | Reply
He, saya menulis di blog dengan niatan suatu hari akan saya bukukan. Kalaulah sesuatu terjadi dan saya tidak sempat membukukan pokok-pokok pikiran saya itu, saya sudah menuliskan wasiat agar suami, anak-cucu, mewujudkan rencana saya tersebut. Terimakasih sudah mampir semalam mengunjungi blog saya.
***Niat adalah langkah awal yang berani … Insya Allah terealisasikan …
By ILYAS ASIA on May 4, 2009 | Reply
Saya berjanji,
Akan membukukan blog ilyas asia.
/////////////
Pak Ersis Yang Baik,
Terima kasih inspirasinya.
/////////////
Bapak sama penyemangatnya dengan Bapak saya : Mr, Sawali.
||||||||||
Anda berdua Luar biasa.
??????????
allahu akbar
By siti hariyah on May 4, 2009 | Reply
gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meningalkan belang, kita? meninggalkan tulisan dalam blog. Semoga tulisan-tulisan yang bagus bisa jadi acuan anak- cucu.
By achoey on May 4, 2009 | Reply
wah Pak,kalo tulisan2 di blog saya dah layak dijadikan buku?
***So pasti …
By mas stein on May 4, 2009 | Reply
weh, blom kepikiran sampe ke sana pak, rasanya kok masih kejauhan. hehe
***Ah …. itu ‘rasanya’ saja, padahl … jarak paling dekat menjadikan buku
By Ferdian Adi on May 4, 2009 | Reply
Semangat dari bapak membuat saya optimis untuk menggali potensi kepenulisan. Rasanya tidak mudah bagi saya yang dulu hampir tidak pernah menulis Pak, namun sekarang belajar menulis menjadi obesesi sehari-hari. Mohon bimbingannya. Terimakasih.
***Semangt-semangat. Kita terlahir dengan multi potensi … mari kembangkan untuk dan dalam menulis.
By suwung on May 5, 2009 | Reply
kalo diriku kok ngasal ya bos…
kalo ada penerbit mau nerbitkan… wah pasti ketularan soewoeng tuh penerbitnya
***ha ha … tugas penerbit ya menerbitkan … soal kita meyainkan mereka
By Nug on May 5, 2009 | Reply
Hm.. muara ideku berupa buku belum kesampaian nih Bang..
***Soal ketika, ketika mau membukukan Mas Nug
By zee on May 6, 2009 | Reply
Pak,
Membaca postingan disini selalu memberi aura segar utk terus mencoba menulis
***Yoi mari menulis …
By Puspita on May 11, 2009 | Reply
Menulis … pinginnya bisa menulis, namun sampai hari ini saya belum bisa menulis dengan baik. Tapi saya pasti akan terus berjuang meskipun sudah hampir telambat, karena sudah semakin tua.
Agak menyimpang nih mas, bagaimana dengan contek menyontek yang semakin menjamur di Indonesia. Menurut pendapat saya, ketidak jujuran ini terus tumbuh subur berpangkal dari keluarga. Jika keluarga terbiasa mendidik jujur, maka anak akan berjuang jujur pada saat mengikuti ujian.