Mengaku Kalah
6 March 2009 | Ditulis oleh: EWA |PERJALANAN kehidupan anak manusia, untuk sekadar mensimpelkannya, adakalanya berhasil, dan bisa jadi, banyak gagalnya. Gagal dapat diartikan kalah. Kalah sekalipun bernuansa dampak persaingan, lebih sering menyakitkan. Terlepas ada yang memaknai, kegagalan sebagai sukses yang tertunda.
Dalam dua pertemuan di FKIP Unlam hari, pertama menyangkut revitalisasi kurikulum, dan kedua ‘bincang-bincang’ kinerja pimpinan FKIP Unlam, hal tersebut mengemuka. Pada pertemuan pertama, saya mengutip pengakuan seorang senior, tentang kekalahan. Tepatnya, kekalahan yang didekati sebagai hal bermakna dimana hikmah dipetik dan pelajaran diambil, bukan saja untuk memaknai kekalahan, tetepi terlebih dalam menyikapi dan menuai kepositifaan. Apa pasal?
Alkisah, seorang senior dengan santai mengutarakan kekelahan dalam meraih jabatan pimpinanan fakultas. Dia kalah beberapa kali. Sungguh berbuah empati, memaknai kekalahan sebagai hasil usaha yang menyelamatkan. Artinya, kalau tidak kalah barangkali banyak hal tanpa terprediksi bisa jadi berakibat lebih tidak nyaman. Kehiduan adalah apa yang diraih. Mari maknai, nikmati, dan berjuang dalam iramanya.
Bak tipping point, mengaku kalah menyangkiti banyak peserta, lalu keluar tekad: Sejak saat ini kita jangan kalah lagi. Ide-ide brilian keluar, gagasan-gagasan bernas mengemuka, ide-ide memperbaiki diri —dalam hal ini institusi bermunculan dalam ragamnya. Lebih hebat, dalam bincangan mengalir begitu saja. Mengaku kalah, pemicu ke arah sukses. Minimal, pancangan tekad semakin kental.
Sungguh, apabila menyadari kekalahan, tidak usah seolah-olah menang dalam kekalahan, atau … mencari alasan-alasan pembenaran, menghantar nyaman pada pemikiran dan perasaan. Lalu, potensi diri (kelompok) mengemuka, yang Insya Allah, teraplikasi dalam meraih sukses. Menyadari dan mengakui kekalahan adalah obat jiwa.
Lebih penting, mengakui kekalahan membersihkan diri sekaligus landasan pacu hamparan harapan sukses. Kalah dan kekalahan adalah bagian kehidupan. Jadikan kalah dan kekalahan pemicu kesuksesan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Maret 2009













13 Responses to “Mengaku Kalah”
By racheedus on Mar 6, 2009 | Reply
Menurut saya, kekalahan adalah pelajaran hidup terbaik untuk menunjukkan di mana letak kelemahan dan kekurangan kita. Tanpa kekalahan, kita seringkali tidak menyadari kekurangan kita. Tanpa kekalahan, kita sering terbuai kesombongan diri.
By suryaden on Mar 6, 2009 | Reply
mengaku kalah adalah jiwa yang besar, dan memiliki kekayaan hati untuk menang secara bermartabat
By Rizal Hasannor on Mar 6, 2009 | Reply
Mampu mengakui kekalahan atau kesalahan menunjukan kedewasaan diri seseorang. Dengan begitu jalan hidup kedepannya akan lebih baik.
By fadliansyah on Mar 6, 2009 | Reply
saya akui orang yang mengaku kalah atau kesalahan nya yaitu orang yang berhati mulia karena mampu menampilkan sifat yang dewasa,tp sekarang ini hampir tidak ada orang yg berhati mulia tersebut,ujar orangt banjar “gengsi” jadi sungguh memprihatinkan…
By ernut on Mar 6, 2009 | Reply
mengaku kalah mengandung keikhlasan dan sportifitas tinggi!
By budimeeong on Mar 6, 2009 | Reply
Mengalah dengan kalah tentunya beda…kalah bukan berarti skak mat…msh ada jalan dan usaha selanjutnya…
By grubik on Mar 6, 2009 | Reply
Mengakui kekalahan, menerima takdir dan kembali berusaha, berdamai dg rasa sakit, ya itu bagian dari kehidupan orang yg bener2 memanfaatkan hidupnya..
By advintro on Mar 6, 2009 | Reply
jarang ada mas,orang dengan berbesar hati mengaku kalah..yang ada seringnya senyum yang mencibir..
By ismawardah on Mar 6, 2009 | Reply
Orang yang mengaku kesalahannya akan lebih terhormat, dari pada menyimpan rapat-rapat kesalahan tersebut. Karena lama-lama kesalahan tersebut akan ketahuan juga.
By Asmia ulfah on Mar 6, 2009 | Reply
Kekalahan bukan akhir dr segala nya…dgn kekalahan itu mungkin kt bs berbuat lbh banyak dan lebih baek lg untuk ke depan…
By Menik on Mar 7, 2009 | Reply
kekalahan biasanya akan menjadi step awal untuk kemenangan. Orang yang mengaku kalah brarti siap juga untuk menang di suatu saat nanti

bermental juaraaaa
By Nug on Mar 12, 2009 | Reply
“Menyadari dan mengakui kekalahan adalah obat jiwa.
Lebih penting, mengakui kekalahan membersihkan diri sekaligus landasan pacu hamparan harapan sukses. Kalah dan kekalahan adalah bagian kehidupan. Jadikan kalah dan kekalahan pemicu kesuksesan.”
Hm.. aku suka kata2 itu Bang..
By sasNas on Mar 16, 2009 | Reply
terkadang mengakui kekalahan adalah senjata
paling ampuh terhadap waktu.
tapi hanya sedikit orang yang menyadarinya,,
so..jangan pernah mau menang dengan emosi,
tapi berusahalah untuk menang mengakui kesalahan terhadap diri sendiri Or My selF