Takut Deraan Mandek

15 February 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Dalam rangka HUT MAN 2 Model Banjarmasin saya didaulat memacu semangat menulis di kalangan guru-guru pada Seminar Motivasi Kepenulisan, Sabtu 14 Februari 2009. Temanya keren: ‘Dengan Menulis Kita Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Guru’.

Di hadapan seratus lebih guru yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, gamblang ditandaskan: Semua kita born to be a genius. Allah memberi kita otak bermuatan 1 triliun sel syaraf, neuron. Bila digunakan, setiap neuron mampu berkoneksi 20.000. Pendek kata, kapasitas otak tidak terbatas. Silakan gunakan.

Hal menulis itu hal kecil saja. Apalagi sejak awal sekolah telah terbiasa menulis. Ketika menjadi mahasiswa akrab dengan makalah sampai akhirnya membuat skripsi. Ketika menjadi guru, urusan tulis-menulis hal keseharian saja. Lalu, kenapa mendustai diri, guru tidak pandai menulis? Jangan berdustalah, pancing saya.

Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, mendustai diri. Sudah terbukti mampu menulis, eit … mengaku tidak bisa. Dusta itu dosa, masuk neraka baru tahu. Geeeeeer.

Ya, ringkasnya begitu. Saya suntik, kita (guru) punya modal pengetahuan, medan pembelajaran, pengalaman, dan seterusnya. Rangkaiannya sangat kondusif untuk menulis. Persoalannya, di ‘lahan basah’ tersebut karya tulis guru memprihatinkan. Ada apa?

Menulis tidak dibiasakan. Menulis tidak dijadikan kebutuhan. Menulis dianggap aktivitas yang kurang memberi manfaat. Mindsed  tersebut perlu dibunuh. Kini saatnya meninggalkan ‘pegangan’ tidak karu-karuan tersebut. Mulai sekarang, mari menulis. Caranya?

Tulis apa yang hendak ditulis. Tulis apa yang dipahami, dialamai, dipikirkan. Jangan memikirkan apa yang akan ditulis. Tulislah hal-hal yang melekad di diri. Sulit menulis karena menulis hal yang tidak dipahami.

“Sudah Pak. Tetapi, ketika menulis dua aline mandek”. Ada empat orang menyoal. Saya jawab: “Bagus. Begitulah seharusnya”. Mau bingung atau apa, terserah. Artinya, mandek menulis perli dilawan. Tinggal pindai faktor penyebabnya. Bisa ide belum matang, tidak fokus, yang ditulis tidak dikuasai, dan seterusnya.

Tugas kita belajar dari kemandekan tersebut. Kalau perlu … lawan. Buat tulisan kenapa mandek menulis. Biar mandeknya lari bak diburu setan. Geeeeeeer.

Akhirnya saya patok. Hanya ada tiga cara agar fasih menulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, menulis dan terus menulis.

Karena ada acara tidak bisa mengikuti sesi penulis seperti Sandy Firly, Aliansyah Jumbawuya, Randu Alamsyah, Rahayu Suciati, Syamsuwal Qomar, dan Farah Hidayati. Pesan saya, menulislah mulai sekarang. Now. Menulis itu mudah, sangat mudah malahan … apabila dilakukan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 14 Januari 2009

  1. 13 Responses to “Takut Deraan Mandek”

  2. By suryaden on Feb 14, 2009 | Reply

    gini-gini saya juga pengin bisa agak fasih ajalah…:D

  3. By Syams Ideris on Feb 14, 2009 | Reply

    Seru ya, Pak! jadi termotivasi lagi nih (maklum semangat menulisnya masih kembang-kempis).
    Berarti sekali-sekali Pak EWA perlu diundang ke HSS nih untuk mengadakan seminar tentang menulis…

  4. By SQ on Feb 14, 2009 | Reply

    Mestinya begitu. Tapi kalo cuma seminar aja, ada istilah. Datang dan Hilang. Saya sudah punya konsep 3 bulan itu pak e. Sebulan pelatihan blog. Sebulan pelatihan menulis. Sebulannya ada situs yang menyaring situs-situs terbaik.

    Jadi kita bikin majalah guru online gitu lah pak. Jadi kayak mimpi.. :-)

    ** :-) kebetulan saya posting topik yang sama

  5. By Siti Fatimah Ahmad on Feb 14, 2009 | Reply

    Assalaamu’alaikum..

    Untung juga ada Kamus Besar Indonesia, hadiah Tuan Ersis. Terima kasih banyak-banyak. Makanya saya tahu maksud mandek itu.

    Seperti yang sering diwar-warkan oleh Tuan Ersis. Menulis sangat mudah. Memang mudah dan memudahkan. Cuma yang mungkin sukar bagi sebahagian orang adalah memikirkan apa yang hendak ditulis. Disitulah “hentian” yang sering berlaku. Malah melemahkan keinginan untuk meneruskan penulisan. Sukar mendapat idea. apa yang mahu ditulis ?

    Menurut saya….permulaan pancaran tulisan itu bermula dengan sentuhan segala pancaindera yang ada pada kita untuk melihat, mendengar, merasa dan menyentuh hasil apa yang berlaku di sekeliling kita; sebelum hati memaut segala maklumat yang dirakam untuk diproses dikilang otak yang akhirnya ditadah ke dada taipan dan medan hamparan kertas.

    Menulis juga memerlukan kerajinan dan keinginan. Tulis sesuatu yang mudah dan biasa bagi kita. Dalam bidang kita. Yang kita tahu sahaja. Bukan menulis sesuatu hal yang bukan menjadi kemahiran kita.

    Selamat menulis dan diucapkan terima kasih khas buat Tuan Ersis yang banyak menyuntik semangat untuk menulis kepada saya selama perkenalan ini berlaku hampir satu tahun menemui blog ini. Semoga Allah merahmati dan memberkati segala usaha yang digiatkan untuk kebaikan semua pihak bagi meningkat dan menambahbaik potensi dan pengetahuan sedia ada. Gembira menjadi pelajar Tuan Ersis walau secara maya.

    Salam hormat dari Malaysia.

  6. By Rizal Hasannor on Feb 15, 2009 | Reply

    Pengalaman saya waktu pertama menulis juga sulit mengembangkan ide dalam tulisan jadi mandeg dech. Tapi kalau terus dilatih maka akan lancar saja seperti air yang mengalir.

  7. By syaharuddin on Feb 15, 2009 | Reply

    Pengalaman saya menulis, ialah menulis apa yang saya rasakan. Hal itu cukup mudah bagi saya ketimbang menulis apa yang belum pernah saya bayangkan. Misalnya, ingin menulis tentang Mistik dalam Islam, tapi gak punya pengetahuan ttg itu, wah tulisan yakin jadi mandek.

  8. By wardani on Feb 15, 2009 | Reply

    problem yang sama nih dengan saya, sering mandeg dalam menulis…

  9. By Lilih Prilian Ari Pranowo on Feb 15, 2009 | Reply

    kadang aku takut sama pikiranku sendiri. sedih. dan itu yang kerap membikin aku mandek pak ewa.

  10. By alris on Feb 16, 2009 | Reply

    Bener, lagi mandek nih. Sarupo ayia batang suliti mangalia sabalun muaronyo dipaleba, mangalia lai mangalia tapi lambek, hwekekeke….

  11. By Ismawardah on Feb 17, 2009 | Reply

    Saya sering mengalami kemandekan dalam menulis,,baru 1 alinea,saya tidak bisa lagi melanjutkannya. Sehingga tulisan saya tidak selesai.He.

  12. By Nor Izatil Hasanah on Feb 17, 2009 | Reply

    Kadang biarpun hal itu mudah untuk ditulis kalo tidak terbiasa akhirnya mandek juga.

  13. By taufik79 on Feb 18, 2009 | Reply

    Ruang sudah disediakan, kesempatan sudah diberikan. Mulai dari diri sendiri. Ayo menulis sekarang.

  14. By Fadlyansyah on Feb 19, 2009 | Reply

    assalamualaikum pak ewa..
    pikiran komplit,rasa menulis juga ada,mandeknya imajinasi kurang keluar saat memulai menulis,aaahhh rada jengkel,,kertas pun mulai bercoret2 dan d racik,di gumpal2 n d lempar2 hingga kamar pun jadi sampah…bosannya itulah yg fakta nya…bukan anak indonesia namanya klo tdk malas…

Post a Comment