Guru Penulis

11 February 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KALAU ada pertanyaan, kelompok profesi mana yang berpeluang besar menulis? Bisa jadi, jawabannya adalah guru. Guru? Ya, guru dan dosen. Kalau yang setiap saat menulis, jawabannya pastilah jurnalis he he. Sekalipun pada dasarnya menulis tidak berkaitan langsung dengan profesi sesorang, kajian dari kaca pandang profesi tentu tidak ada salahnya. Setidaknya, guru dan dosen mempunyai kans besar menulis, menjadi penulis. Kenapa?

Pertama, pada tugas profesionalannya guru menyampaikan ilmu, berdakwa pengetahuan. Banyak metode memang dalam aplikasinya. Tapi, menulis adalah satu pilihan tepat. Kenapa? Dengan menulis apa yang akan disampaikan, tentu akan lebih mudah dimengerti peserta didik di satu sisi, di sisi lain memantapkan ilmu atau pengetahuan guru.

Kedua, secara teoritik pada rangkaian tugasnya pada hakikatnya guru menulis. Misal, ketika membuat RPP. Kecuali RPP terbiasa ‘ditembak”. Tidak salah memang kalau dipahami, keseharian guru akrab dengan menulis.

Ketiga, untuk mencapai jenjang kepangkatan tertentu, guru diwajibkan membuat karya tulis. Aneh jadinya, kalau guru golongan IV tidak fasih menulis. Kenyataannya memang banyak guru yang piawai menulis, sebaliknya lebih banyak yang angkat tangan. Konon, ribuan guru tertahan naik pangkat gara-gara tidak mampu membuat karya ilmiah.

Barangkali, dengan apungan tiga hal di atas, sekalipun sebenarnya banyak hal pendukung setra, cukup memberi landasan peluang guru menjadi penulis sangat besar. Bagaiman dengan kemampuan?

Kemapuan, dalam hal ini kompetensi menulis dapat dipelajari, dilatih, dibiasakan. Ambil hal sederhana. Seorang guru yang mengajarkan mata pelajaran tertentu bertahun-tahun tentulah menguasai materi ajar sampai ke detailnya.

Hanya saja, lebih memilih tidak menulisnya. Lebih asyik memakai buku karya orang lain. Untuk sekadar ‘pegangan tambahan’ saja tidak berani menulis. Padahal diajarkan tiap hari. Bahkan, sekadar menulis lembaran kerja siswa (LKS) lebih memilih ‘membeli’. Kalau ditulis, dapat dipastikan lebih memantapkan pembelajaran.

Ketika membaca Tajuk Rencana Kompas, 31 Januari 2009 bertitel: Minat Baca dan Tulis sungguh tercenung. Vietnam yang baru merdeka tahun 1968 dan ‘hanya’ berpenduduk 80 juta, saat ini, memproduksi 15.000 judul buku per tahun. Indonesia?

Indonesia merdeka tahun 1945 dengan penduduk 225 juta hanya memproduksi buku 8.000 judul per tahun. Itu belum seberapa, meniru Malaysia yang meminjam guru ke Indonesia, Vitenam di tahun 1970-an belajar pengembangan pendidikan dasar dari Indonesia. Selanjutnya silakan maknai sendiri.

Indonesia memiliki sekitar 3 juta orang guru dan dosen. Kalau 10 persen saja yang menulis, berapa buku bisa dihasilkan setiap setahun. Ya, andainnya kalau terlalu tinggi, kalau 1 persen saja lumayan banyak buku dihasilkan. Tapi, sudahlah, hidup bukan andaikan, hidup adalah kenyataan. Pertanyaannya, bagaimana agar guru kreatif menulis?

Pertama, baca buku-buku saya tentang menulis. Ada sepuluh karya khusus bertema menulis sangat mudah. Menulis sangat mudah? Yes. Apa syaratnya? Lakukan. Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan.

Kedua, mantapkan mindset, menulis itu mudah. Setidaknya bisa. Untuk itu lakukan. Jangan diskusikan. Lakukan saja. Tulis saja. Misal, mau mengajar materi pelajara Anu hari Anu. Tulis apa yang dijadikan bahan ajar.

Ketiga, jangan memikirkan apa yang hendak ditulis, tulis apa yang di pikiran, yang terpikirkan. Tinggalkan filsafat, saya akan menulis anu, akan menulis ane, akan menulis ani, dan seterusnya. Buang filsafat akan. Lakukan.

Keempat, manakala dilakukan, bukan akan lho, fasih menulis hasilnya. Menulis melatih keterampilan. Mula-mula mungkin tersendat, tetapi manakala terus dilakukan menjadi fasih. Buahnya kompetensi menulis.

Kelima, turunkan kadar kesombongan diri. Misalnya berkehendak menulis sehebat Pramudya Ananta Tour atau Rhenald Kasali. Cukup menulis yang biasa-biasa saja, yang di ketahui, yang dilakukan setiap hari. Misal, bahan ajar. Menulis apa yang diomongin tiap hari di kelas. Susah? Tidak mungkin. Hanya, mengalihkan dari ujaran menjadi tulisan. Tapi, susah Pak ai.

Bisa jadi. Sebab, tidak dilakukan. Coba lakukan. Satu kali, dua kali, tiga kali, dan seteresunya. Insyah Allah fasih. Ingat ketika belajar sepeda? Akhirnya mahir. Wualah … menulis skripsi saja mampu. Logikanya, menulis bahan ajar lebih mudah dong.

Tepatnya, tidak usah berteori canggih-canggih. Lakukan saja. Langsung menulis. Pasti jadi tulisan. Selanjutnya masuk area memperbaiki, meningkatkan kualitas, dan … akhirnya jadilah guru penulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 11 Februari 2009.

  1. 26 Responses to “Guru Penulis”

  2. By suryaden on Feb 11, 2009 | Reply

    setuju sekali, ketika saya baca kompas yang sama, jadi tercenung juga, mungkin karena terlalu banyak penyeragaman di negari kita sehingga mungkin pemfilterannya terlalu rapat…

    ***Ya ya begitulah. Prihatin euy …

  3. By awan_clickerz on Feb 11, 2009 | Reply

    -salam persaHabatan-

    bener, menulis mudah, tp juga tak semudah sewaktu kita mengucapkannya..
    ada perbedaan visual dan verbalnya..

    Yup!

    ***Caranya yang tulis, tulis, dan terus menulis … kalau dah fasih wuw eunak tenan …

  4. By endar on Feb 11, 2009 | Reply

    kalau buruh jarang menulis. paling menulis email, lapor ke juragan.
    kenapa saya dulu tidak jadi guru saja ya. padahal orang tua saya guru sd

    ***Babu aja nulis, tu … ada di buku Menulis Mudah he he … Mas Endar kan bagus tu tulisannya. Salam.

  5. By budimeeong on Feb 11, 2009 | Reply

    Siap pak… !!
    Sedikit banyak, tulisan diatas ditujukan ke saya *sok mood on* :twisted:
    Saya akan berlatih sebelum ketemu sampeyan …

    ***Ha ha dah bagus kok nulisnya … jangan ketemu saya dulu, ntar kalau bawaannya menulis melulu gaman? Saya belum punya serum anti menulis lho.

  6. By Muda Bentara ! on Feb 11, 2009 | Reply

    Mari bersama-sama bergabung dalam aksi kemanusiaan untuk membantu manusia perahu ( muslim rohingnya )yang terdampar di Aceh , saatnya kita bergerak bersama untuk membantu mereka .

    http://www.saverohingya.com

    info:
    http://www.acehblogger.org

    http://baiquni.net/wp-content/uploads/2009/02/muslim-rohingya.png

    ***Yoi …

  7. By Ikkyu_san on Feb 11, 2009 | Reply

    ya, syaa prihatin juga kok bisa Indonesia kalah dengan Vietnam. Dan setujuuuuuu seklai bahwa guru atau dosen berpeluang besar sekali untuk menulis. Meskipun banyak profesi lain juga yang mempunyai kesempatan bagus untuk menulis. Seperti Dokter, pengacara, bahkan polisi. Karena mereka banyak berinteraksi dengan manusia.

    Kalau alasan sibuk, ya semua profesi juga sibuk kok. Saya biasakan menulis apa yang ada di pikiran saya dalam waktu kurang dari 30 menit, supaya bisa mengalir. Begitu saya merasa mandeg, lebih baik saya ganti tema yang lain. Kalau mandeg, dan berkutat di tulisan itu saja, membuat malas untuk melanjutkan.

    Tapi pak, dengan adanya sarana blog, saya bisa menemukan banyak calon penulis handal. Kagum saya membaca tulisan-tulisan mereka. Mungkin Pak EWA bisa membuat semacam “kumpulan tulisan pilihan EWA” menyaingi kompas…hehhehe

    EM

    ***Ya mudahan kehadiran blog lebh memacu gairah menulis … alinea berikut ngledek ya he he

  8. By DV on Feb 11, 2009 | Reply

    Sepakat, kat, kat!
    Karena menulis itu sebenarnya adalah output dari apa yang dipikirkan otak ditambah dengan referensi keilmuan dari luar, maka guru patut menjadi yang terutama untuk dikatakan sebagai golongan yang rajin menulis.

    Seperti Pak Sawali, Pak Suhadi dan Pak Ersis (sebagai dosen) tentunya!

    ***ha ha … cuma sepertinya itu lho, menjurus. Contoh yang lain aja he he

  9. By advintro on Feb 11, 2009 | Reply

    aku jadi juru ketik ibuku yang ngajar SMP, kedua ortuku bae, dulu aku sempat minta diadain mesin ketik gara-gara gak ada kursus ketik lagi, dikasih, diajari ngetik juga, itu bisa jadi pendongkrak minat menulis kan mz?

    ***Bagus itu, banyak pahalanya. Siip … minta laptop Mas he he

  10. By taufik79 on Feb 11, 2009 | Reply

    Tabik Pak!!

    Pas dan mengena!! Siap tuk diseminarkan…

    ***he he … siap Dan.

  11. By Syams Ideris on Feb 11, 2009 | Reply

    Menurut pendapat saya, penyebab guru khususnya di kalsel jarang menulis:

    1. Kurangnya materi perkuliahan tentang menulis di FKIP Unlam Banjarmasin.
    2. Kurangnya dorongan dan motivasi menulis dari Diknas Kabupaten setempat sebagai atasan guru.
    3. Belum membudayanya kegiatan menulis di kalangan masyarakat.
    4. Guru terlalu sibuk mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan karena gaji yang kurang memadai.
    5. Kurang memadainya gaji guru mengakibatkan kurangnya dana untuk kegiatan pengembangan pengetahuan guru seperti membeli buku, akses internet, dan sebagainya.

    Bagaimana Pak?

    ***Setuju. Tapi, Mas Syam … ada lho syarat tambahan ala EWT. Apa itu? Tidak mengeluh, tidak melempar alasan, tapi lakukan menulis dengan menulis. Apa yang Mas Syam tulis bagus untuk analisis kondisi umum, saya setuju. Ntar kita usahakan membenahi. Makasih.

  12. By Taufik R. Rahman on Feb 11, 2009 | Reply

    Ya..memang Indonesia kurang produktif dalam hal menulis..tinggal bagaimana membudayakan menulis..saya setuju dengan pendapat pak syam..di FKIP UNLAM memang kurang sosialisasi menulis..mungkin baru pa ersis pendobrak pertama dunia kepenulisan di FKIP dengan membantu melahirkan buku hasil karya mahasiswa. Tulis apa yang mau kau tulis..pastilah jadi tulisan..sebuah motto yang selalu disampaikan pada kami selaku mahasiswa beliau.

    ***Intinya mari menulis, lakukan. Siiip sudah.

  13. By enggar on Feb 11, 2009 | Reply

    Setuju Pak. Beberapa rekan di sekolah mulai membuat blog, menulis beberapa. Blognya ada yang berisi curhat, ada yang berisi soal-soal ulangan atau foto-foto saja. Tak apa pelan-pelan saja mudah-mudahan bisa kontinyu dan berani menulis lebih serius.

    ***Siip … senangnya saya. Go

  14. By Dzul Qurnain on Feb 11, 2009 | Reply

    Wah… jadi gitu ya.. :-)

    ***Kira-kira

  15. By adi fitriansyah on Feb 11, 2009 | Reply

    Banyak hal yang mungkin sangat mempengaruhi kenapa guru-guru tidak kreatif dalam menulis. kalau menurut saya ada dua faktor yang paling menonjol yaitu faktor intern ( dari dalam diri guru itu sendiri )dan faktor ekstern. Alasan klasik kalau masalah guru tidak kreatif menulis selalu saja dikaitkan dengan gaji guru yang minim atau kurang memadai, kalau guru honor baru saya percaya karena memang gajinya jauh dari memadai. faktor intern bersumber dari dalam diri guru itu sendiri, ada kemauan atau tidak dari guru untuk menulis, kalau ga ada kemauan kan sama aja bohong. terus, menulis belum menjadi sebuah kebiasaan. nah yang terakhir, tidak ada dorongan dari dinas pendidikan setempat untuk menumbuhkan minat bagi guru dalam menulis.

    ***Begitulah. Tapi, itu tidak penting lagi … ayo kita menulis

  16. By siti hariyah on Feb 11, 2009 | Reply

    saya sangat setuju, Pak! Saatnya para guru ditiru. Guru rajin menulis, siswa…

    ***Lebih bagus, murid rajin menulis … tanpa alasan

  17. By Rizal Hasannor on Feb 11, 2009 | Reply

    Kalau guru rajin menulis ya muridnya ikutan rajin menulis juga. Tapi bagi saya sebelum menjadi guru pun harus sudah dibiasakan menulis. Menulis sejak dini..

    ***Contoh yang seharusnya

  18. By hadi rahman on Feb 11, 2009 | Reply

    memang pd kenyataannya pd kebanyakan orang telah tertanam mindshet bhw menulis itu tdk mudah. takut dikritik lah, takut ga benar lah tata bahasa yang dipakai. jd memang perubahan mindshet menjadi menulis itu mudah mesti digencarkan, dgn begitu ya insya Allah menulis akan berjalan dgn lancar.

    ***Hancurkan mindset pembelenggu

  19. By INDAH REPHI on Feb 11, 2009 | Reply

    ibuku seorang guru, dan beliau… beliau hobi sekali menulis :)

    ***Bak janggut pulang ke dagu

  20. By aliansyah jumbawuya on Feb 11, 2009 | Reply

    Dalam dunia perwayangan guru diistilahkan dengan resi atau empu, orang waskita dan berilmu luas. Jadi, emang seharusnya guru itu sekaligus penulis.

    ***Setuju banget Mas Ali …

  21. By Riduan Saidi on Feb 11, 2009 | Reply

    Melihat teori EWT. Menulis mudah dilakukan tulis dan tulis, gampang to. Bagi setiap orang (baca: guru) ada keinginan untuk menulis karya ilmiah sebagai syarat kenaikan tingkat.

    Kenyataan dilapangan beda pak. Buktinya orang tua saya, terkendala di Tulisan Karya Ilmiah jadinya tetap golongan IV A. Padahal saya sudah kasih buku bapak “Menulis Mari Menulis” dan saya bilang “Bikin saja PTK”.
    Kata bonyok saya dosen kamu sudah habit menulisnya jadi gampang saja menulis.

  22. By goenoeng on Feb 11, 2009 | Reply

    saya kebalikannya. gara2 suka menulis, malah disangka guru, guru bahasa atau guru seni, haha…

    ***wow … hebat.

  23. By namakuananda on Feb 12, 2009 | Reply

    untung aku bukan guru, jadi gag kesrempet :D
    (jangan suka melempar alasan, he..he..he… )

    ayo semangat….semangat….hih.
    matur suwun pencerahannya Pak.

    ***Ha ha …

  24. By nanang on Feb 18, 2009 | Reply

    alhamulillah,setelah saya membaca buku anda yang berjudul menulis sangat mudah..ternyata bisa nenggugah semangat saya untuk terus belajar menulis sendiri…paling tidak buku anda sudah memotivasi saya untuk terus menulis, walaupun masih dinikmati sendiri….trims Pak

  25. By Fadlyansyah on Feb 19, 2009 | Reply

    assalamualaikum pak EWA…
    guru penulis, lumayan cari uang selain gaji bulanan…

  26. By joe banjarbaru on Feb 20, 2009 | Reply

    ass
    belenggu terbesar dalam menulis menurut, adalah perasaan bahwa nanti tulisannya jelek atau bahkan salah,….mengapa kalo ngomong kayaknya gak begitu takut salah karena jarang sekali orang punya bukti otentik rekaman omongan, kecuali wartawan…sering kita bilang “jar..anu”, sedangkan tulisan ketika ada perasaan takut jelek atau bahkan salah, bukti otentiknya ada….walaupun sekali lagi itu hanya belenggu, kalo kita misalnya mo toh bisa kita baca lagi, lagi,lagi and koreksi sebelum dipublikasikan…
    jadi akhirnya intinya, jangan pernah takut salah menulis khan bisa dikoreksi…

    bagaimana menurut sampeyan
    wass
    juanda

  27. By hartono on Apr 13, 2009 | Reply

    yes…. I promise! Thanks

Post a Comment