Menulis Tanpa Berguru, Monggo

25 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Pengakhir Buku Menulis Tanpa berguru

Oleh Sugiarto

BAGI saya, yang berlatar belakang pendidikan tidak berhubungan dengan kepenulisan, menulis bukanlah perkara mudah. Menulis dengan hati dan pikiran, mengalir menjadi rendaan kata-kata dalam kalimat, pilihan alami saja. Merangkai makna, memanajemen kenakalan diri, memanfaatkan fungsi otak, mensyukuri akal pikiran serta merawat jiwa.

Menulis dimaknai sebagai pencarian, proses membaca, melatih akal dan pikiran agar lebih cerdas, dan peka. Menulis menjadi pengingat setia agar tidak terbelenggu oleh ingatan sendiri. Ruang ingatan menampung semua yang kita ketahui, dan jika hanya mengingatnya tanpa menuliskan kita bisa terjebak dalam ingatan yang kumuh, yang membuat kita tertawa dan menangis sendiri. Bisa-bisa menjadi gila.

Menulis Tanpa Berguru berarti menulis dengan kejujuran tanpa polesan, mengalirkan isi benak, meredakan amarah, mencegah dari kebebalan akibat kungkungan rutinitas serta kebosanan. Pada awalnya mungkin susah, enggan, atau malas bergabung. Alhamdulillah, berawal power kalimat EWA, ”Menulis Tanpa Berguru” saya memiliki keberanian menulis yang diposting pada www.Gunungkelir.com

Jujur saja, saya memulai menulis dengan menuliskan pikiran, mengalirkan beban emosi, mencari makna dari proses membaca, dan dari kehidupan yang dilewati untuk dipahat dalam tulisan. Menulis Tanpa Berguru, kekuatan sangat dasyat sebagai pemicunya.

Mengapa mesti repot dan terjebak teori muluk-muluk kalau tidak melahirkan tulisan sama sekali, hingga tidak bisa menikmati luasnya keindahan  menulis. Menulis sembari membelajarkan diri, tanpa berguru.

Menulis Tanpa Berguru adalah motivasi yang kuat dan mudah dimengerti oleh orang yang sangat awam sekalipun dalam menulis. Lalu, lahirlah tulisan-tulisan. Mana tahu menjadi “Penulis Tanpa Berguru“.

Mari kita menulis untuk memaknai Hidup.

Gunung Kelir, 25 Januari 2009.

Sugiarto

  1. 34 Responses to “Menulis Tanpa Berguru, Monggo”

  2. By budimeeong on Jan 25, 2009 | Reply

    Saiya sudah merasakan kalau menulis itu benar-benar meredakan emosi, melapangkan dada. kenikmatan menulis sudah saya rasakan. saya tidak tau bagaimana menggambarkan kenikmatan itu. Thanks pa ewa..Thanks Sugiarto…Thanks all.. :roll: *sok paham*

    ***Mas Tok benar kan

  3. By he benyamine on Jan 25, 2009 | Reply

    Ass.

    Nah ini … menulis untuk memaknai hidup, tanpa berguru saja bisa menuliskan, ya pembelajaran orang dewasa … guru sekaligus murid dan sebaliknya.

    ***Yoi.

  4. By Rizal Hasannor on Jan 25, 2009 | Reply

    Menulis tanpa berguru, menulis untuk memaknai hidup. Dengan menulis hidup lebih bermakna dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

    ***Sip kalimatnya

  5. By angga erlangga on Jan 25, 2009 | Reply

    Yang penting bisa nulis ja ya.. :D
    Salam Kenal mas… ;)

    ***Salam kenal. Yes. Nulis yang utama.

  6. By ernalilis on Jan 25, 2009 | Reply

    Menjadi penulis waaah… bagiku itu angan. angan yang terlalu jauh di awang-awang..
    Tapi meskipun begitu saya sudah bisa merasakan bahwa dengan mencoba menulis saya bisa merasa dapat berbagi dan menuangkan beban emosi.. seperti yang mas bilang itu..

    ***Tinggal … merealisasikannya aja lagi. Banyak hal bermula dari angan-anagn, impian.

  7. By randu on Jan 25, 2009 | Reply

    menulis tanpa Berguru…Pasti enak.

    ***ASyk dan mengasyikkan

  8. By winawang on Jan 25, 2009 | Reply

    yupz, mari menulis..
    *menulis membuat bangsa besar*
    Posting terus mas… :)

    ***Kalimat kuat amat tu, menulis membuat bangsa besar. Makasih ya, ntar ditulis seputar itu.

  9. By Randy on Jan 25, 2009 | Reply

    Mari menulis..

    ***Monggo …

  10. By elmawan on Jan 25, 2009 | Reply

    Menulis itu tidak mudah, tapi mencobanya adalah mudah.

    ***Mudah ah … sangat mudah malahan. Buktinya Sampeyan dah nulis tu.

  11. By M. Yumni Rasyid on Jan 25, 2009 | Reply

    Ass. . .
    Benar sekali yang bapa katakan,menulis ialah tempat luapan emosi,pikiran dan inspirasi. Menulis tidak harus perlu adanya seorang pembimbing, karna menulis adalah salah satu potensi dasar atau kegiatan yang di laku setiap kali oleh manusia. . .

    ***hebat euy menalatnya. Kalau nulisnya giman?

  12. By suhadinet on Jan 25, 2009 | Reply

    Menulis kayaknya memang lebih enak tanpa digurui, apalagi gurunya juga jarang menulis dan hanya pandai berteori… ;)

    ***He he kitalah guru menulis kita.

  13. By achoey on Jan 25, 2009 | Reply

    Menulis
    aku terus menerus berusaha menulis ak

    Mohon doanya :)

    ***Yoi. Lakukan. Mogahan doa saya ampuh he he … Amin.

  14. By aliansyah jumbawuya on Jan 25, 2009 | Reply

    wah, wah….. satu buku lagi nih!

    ***Yoi. Gimana tu ‘novel kita’. Minggu depan ngumpul yu.

  15. By Fahrisal Akbar on Jan 25, 2009 | Reply

    Menulis….

    Orang2 dulu biasanya mengibaratkan seperti menggoreskan tinta diatas media ( lembaran kertas)….

    Tetapi menulis pada masa kini adalah mengerakkan kesepuluh jari tangan untuk menyentuh tombol keyboard sehingga akan menghasilkan kalimat - kalimat indah megandung suatu makna yang dimaksudkan oleh sipenulis itu sendiri dimana hasilnya akan dibaca oleh pemirsa sekalian….

    Kalau Mas Ersis sendiri masuk ke dalam ketagori yang mana nech….??

    Apa kedua - duanya??
    Maturnowon sangat MAs…. :D

    ***Ya duanya aja juga ngak salah kan?

  16. By sandi on Jan 25, 2009 | Reply

    sebenarnya saya suka membaca ketimbang menulis. tapi, habis membaca saya justru pengen nulis, seperti orang habis makan lalu pengen.. (ya… itulah..). Selamat, bos!

    **Ha ha … saya bisa ngisi … itu.

  17. By esa on Jan 25, 2009 | Reply

    Hee.. saya termasuk orang yang ekspresif Pak. Bener kata Pak Sugiarto dan kata Bapak. Menulis itu sebenarnya aktualisasi diri. Sekarang, ide-ide pendek bisa tersalurkan di Plurk, disana bener-bener menuangkan apa yang selintas di pikiran. Sampe-sampe punya blog offline untuk menulis. Tak harus punya akses internet untuk menuliskan bahan-bahan yang ingin ditulis jika punya blog offline. Tambah tools menulis yang juga berseliweran dimana-mana, contohnya yWriter yang bisa dipake “menjadwalkan” buku kita.
    Pokoknya menulis tanpa guru? Keren banget deh Pak. Tapi tetep saya memiliki guru, Bpk, temen-temen dan bahkan saya sendiri ditemani alam dan semua yang ada.
    Terima kasih untuk semuanya.

  18. By Geger Waluyo on Jan 25, 2009 | Reply

    Salah besar! bila anda mengatakan menulis itu tanpa berguru. Memangnya anda tak pernah belajar di sekolah? Belajar di sekolah itu ada gurunya to? Kecuali guru anda tak pernah mengajar. Pada masa sekolah dasar dan sederajat, tentu kita diajari membaca, menulis dan berhitung. Jadi tetap saja, menulis itu diawali oleh pengajaran yang dilakukan oleh para guru kita. Untuk itu , rasanya kurang pantas, kalau kita banyak menghasilkan tulisan, lalu kita gembar gembor, bahwa tanpa guru kita mampu menulis. Saya khawatir, hal ini akan menjadikan kita takabur. Lupa sama guru. Lupa sama guru sama saja dengan lupa sama orang tua.
    Memang saya mengakui bahwa anda banyak menghasilkan tulisan dan buku. Tak ada “lawangnya” (maksudnya: tandingannya) bila dilihat dari kuantitas tulisan atau buku. Buku anda puluhan, dan hampir mencapai ratusan. Dari menulis itu, duwit anda banyak. Duwit banyak memungkinkan mentraktir kawan-kawan hehehe.
    Pesan saya sama sampian, bahwa selalu ada guru di sepanjang hidup kita. Dari dulu hingga detik mini, kita selalu diajari oleh guru. Orang-orang yang ada di sekitar kita adalah guru, yang mengajarkan hidup dan kehidupan. Monggo mas!

    ***Yup. Makasih mengingatkan. Guru adalah proses ketika belajar. Dalam esensi pendidikan, guru meletakkan dasar-dasar pengembangan potensi. Nah, kini saatnya mengembangkan mandiri, dan … tidak perlu berguru lagi. Guru dan murid adalah diri sendiri. Guru adalah peletak dasar kita berbuat, kini saatnya melakukan.

    Jadi, tidak ada urusannya dengan takabur, semoga kita semua terhindar dari hal-hal demikian. Dan, saya orang yang sangat menghargai guru-guru saya. Tapi, kini takkan membeban guru lagi. Salam Mas FM.

  19. By dian on Jan 26, 2009 | Reply

    kalo aku, sering banget mau nyari satu kata aja susaaaaaah karena lupa. mau nyari kata “diakui” gak ingat. akhirnya ingatnya “dianggap” pdhl bisa beda arti kalo ditaruk di kalimat

  20. By Siti Fatimah Ahmad on Jan 26, 2009 | Reply

    Guru segala guru adalah alam yang ada disekeliling kita, baik alam fana yang sedang dilalui mahupun alam ghaib yang bakal ditempuh yang hanya didengari melalui pancaran cahaya al-Quranul Karim. Maka ia juga dinamakan guru pengalaman. Yang disuruh oleh al-Quran untuk dikaji, diselidiki, diteliti, difikirkan dan dianalisis. lalu apa yang difikirkan itu ditulis di hati, diproses diotak dan diterjemahkan melalui penulisan.

    Secara formalnya menulis harus berguru dengan sesiapaj jika tida bagaimana kita mengerti setiap huruf dan patah perkataan. Namun, hasil yang hendak ditulis itu tidak perlukan guru yang sentiasa berada disisi untuk membimbing kita. Ia diolah tanpa perlu berguru.

    Tulislah semahumu apa yang terlintas dan terfikir di kotak hati dan di peti fikiran. asal sahaja apa yang dibuat itu memberi manfaat buat semua manusia.

    Salam hormat penuh takzim.

  21. By ismawardah on Jan 26, 2009 | Reply

    Mari beramai-ramai menulis, jangan cuma bicara saja.

  22. By Geger Waluyo on Jan 26, 2009 | Reply

    Mari kita gunakan “ilmu” padi. Semakin berisi semakin menunduk. Begitu kira-kira artinya. Sebagai manusia, kita seringkali menganggap diri kita “lebih” dari yang lain. Itu saya kira manusiawi. Dengan demikian, kita telah masuk dalam kategori mutakabir. Waduh mati lampu. Stop dulu.

  23. By Geger Waluyo on Jan 26, 2009 | Reply

    (Berhubung lampu menyala kembali, saya teruskan ya mas. Namun, hendaknya sampian kada sarik wan tasinggung).
    Mungkin namanya mutakabir sughro, begitu. Kata-kata saya mungkin bisa membuat anda tersinggung. Namun saya tak bermaksud menyinggung perasaan anda. Bila anda mengatakan bahwa guru adalah pelatak dasar kita berbuat. Memang begitu saya kira. Ketika guru kita mengajarkan pelajaran tulis menulis, mengarang tepatnya, beliau tentu memberikan dasar atau semacam teknik mengarang. Setelah itu, terserah sang murid. Mau menulis atau tidak, itu bukan urusan guru lagi. Bekal yanhg didapat dari guru, walau sangat=sangat kecil, tetap saja tidak boleh dilupakan.
    Ya nggak mungkin mto, kalau kita menulis, kita selalu didampingi guru. Wong sudah jadi dosen kok minta didampingi kala menulis. Kalau yang dimaksud “menulis tanpa guru” saya OK. Karena ya tadi, enggak mungkin ketika kita menulis, guru ada di samping kita.
    Hendaknya, kita bisa meniru bagaimana “guru-murid” dalam dunia persilatan. Murid selalu dan berkewajiban “menghormat” guru. “Sendiko dawuh guru” adalah kalimat yang selalu diucapkan oleh murid ketika gurunya meminta melakukan sesuatu. Tanpa ada klaim, protes atau keberatan. Tulisan-tulisan anda MTB hendaknya direvisi sana seni, sebagai upaya penghormatan kepada guru. Monggo mas!

  24. By endar on Jan 26, 2009 | Reply

    wah itu tulisan mas totok ya. kemarin saya bertemu mas totok di rumahnya.

  25. By al-sabaliny on Jan 27, 2009 | Reply

    maka teruslah menulis….

  26. By erry on Jan 27, 2009 | Reply

    senang baca tulisan2 bapak dan komentar dari shbt2 semuanya. jadi dapat ilmu banyak tanpa harus berguru secara khusus. terima kasih buat semuanya

  27. By Geger Waluyo on Jan 27, 2009 | Reply

    Kalau saudara erry kelak pinter menulis sebagai akibat tak langsung dari membaca, maka dia sama halnya beguru. Jadi, intinya, bisa menulis itu akibat dari guru to? Jangan percaya, kalau menulis itu tanpa berguru. Pasti ada “guru” yang mendorong kita, menyemangati kita, mengajak kita untuk membaca dan lalu menulis. Bila kita ingta hal ini, kita ingat akan guru. Pesan dan peringatan setengah keras, jangan lupa guru. Tampaknya, memang banyak orang lupa guru. Baru saja lulus mata kuliah tertentu saja, ketemu gurunya, melengos. Ini pertanda bahwa dia mudah melupakan gurunya. Ya Tuhan, mohon dijauhkan dari sikap demikian.

  28. By genthokelir on Jan 28, 2009 | Reply

    Terima kasih pak Ersis dari semangat Bapak maka lahirlah keberanian itu
    salam hormat saya

  29. By ipanks on Jan 31, 2009 | Reply

    wah emang kata gunungkelir.menulis tanpa berguru memang sangat susah2 gampang.tapi semuanya itu merupakan sebuah proses yang harus dijalani yap om.

    btw salam kenal

  30. By hatmiati on Feb 2, 2009 | Reply

    menulis tanpa berguru? asyik juga…tapi kalo untuk yang ilmiah gimana Pak?

  31. By unting on Feb 3, 2009 | Reply

    salut buat bapak, mantap…..

  32. By madhysta on Feb 3, 2009 | Reply

    tapi kadang malu juga, tulisan saya jelek… hihihi…. yang ini bisa di baca ga pak???

  33. By Blog Cantik on Feb 3, 2009 | Reply

    Menulis adalah expresi…!

  34. By Nanang on Apr 3, 2009 | Reply

    Assalamu’alaikum. Salam kenal mbak

  1. 1 Trackback(s)

  2. Jan 28, 2009: Menulis Tanpa Berguru

Post a Comment